alexametrics
29.3 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Contohlah Otonomi Pesantren

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hampir semua pondok pesantren di Jember sudah menggelar pembelajaran tatap muka. Termasuk lembaga sekolah formal yang ada di dalamnya. Di Jember sendiri, sekolah di lingkungan pesantren sudah mengawali aktivitas belajar tatap muka sejak lama. Bahkan, sejak wacana pembelajaran tatap muka untuk sekolah dimunculkan.

Beberapa pengasuh pesantren mengakui, model kegiatan belajar mengajar (KBM) secara langsung bagi sekolah yang berada di pesantren lebih aman. “Aktivitas KBM di pondok mulai awal sudah normal, tidak ada daring,” terang KH Ghonim Jauhari, Pengasuh PP Assuniyyah Al Jauhari Kencong.

Ia meyakini, pesantren lebih aman. Sebab, seluruh muridnya bermukim di pesantren. Mereka dilarang keluar pesantren tanpa izin pengasuh atau tanpa urusan lain yang dinilai penting. “Kalau pesantren, semua siswa di asrama. Jadi, tidak ada masalah. Beda dengan sekolah yang siswanya tak diasramakan atau keluar masuk sekolah,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, kebijakan pesantren itu diberlakukan sejak awal siswa masuk ke pesantren. Karena itu, tidak ada lagi siswa yang wira-wiri keluar masuk pondok. Ia juga meyakini, kebijakan tersebut diberlakukan hampir di tiap pesantren yang memiliki lembaga formal.

Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo Jember juga menerapkan hal yang sama. Pengasuh Ponpes Nuris Jember KH Robith Qashidi menjelaskan, kebijakan lembaga pesantren menerapkan sekolah tatap muka itu bukan tanpa pertimbangan. Tapi, sudah melalui perhitungan matang. Bahkan, juga diketahui oleh pemerintah di berbagai tingkat. Dari bupati, kapolres, gubernur, hingga kapolda.

“Sepanjang tidak bertentangan dari aturan pemerintah yang lebih tinggi, kami siap melaksanakan. Tapi kalau seandainya ada pembatasan-pembatasan skala mikro, tentu kami juga mengikuti arahannya,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hampir semua pondok pesantren di Jember sudah menggelar pembelajaran tatap muka. Termasuk lembaga sekolah formal yang ada di dalamnya. Di Jember sendiri, sekolah di lingkungan pesantren sudah mengawali aktivitas belajar tatap muka sejak lama. Bahkan, sejak wacana pembelajaran tatap muka untuk sekolah dimunculkan.

Beberapa pengasuh pesantren mengakui, model kegiatan belajar mengajar (KBM) secara langsung bagi sekolah yang berada di pesantren lebih aman. “Aktivitas KBM di pondok mulai awal sudah normal, tidak ada daring,” terang KH Ghonim Jauhari, Pengasuh PP Assuniyyah Al Jauhari Kencong.

Ia meyakini, pesantren lebih aman. Sebab, seluruh muridnya bermukim di pesantren. Mereka dilarang keluar pesantren tanpa izin pengasuh atau tanpa urusan lain yang dinilai penting. “Kalau pesantren, semua siswa di asrama. Jadi, tidak ada masalah. Beda dengan sekolah yang siswanya tak diasramakan atau keluar masuk sekolah,” imbuhnya.

Bahkan, kebijakan pesantren itu diberlakukan sejak awal siswa masuk ke pesantren. Karena itu, tidak ada lagi siswa yang wira-wiri keluar masuk pondok. Ia juga meyakini, kebijakan tersebut diberlakukan hampir di tiap pesantren yang memiliki lembaga formal.

Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo Jember juga menerapkan hal yang sama. Pengasuh Ponpes Nuris Jember KH Robith Qashidi menjelaskan, kebijakan lembaga pesantren menerapkan sekolah tatap muka itu bukan tanpa pertimbangan. Tapi, sudah melalui perhitungan matang. Bahkan, juga diketahui oleh pemerintah di berbagai tingkat. Dari bupati, kapolres, gubernur, hingga kapolda.

“Sepanjang tidak bertentangan dari aturan pemerintah yang lebih tinggi, kami siap melaksanakan. Tapi kalau seandainya ada pembatasan-pembatasan skala mikro, tentu kami juga mengikuti arahannya,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hampir semua pondok pesantren di Jember sudah menggelar pembelajaran tatap muka. Termasuk lembaga sekolah formal yang ada di dalamnya. Di Jember sendiri, sekolah di lingkungan pesantren sudah mengawali aktivitas belajar tatap muka sejak lama. Bahkan, sejak wacana pembelajaran tatap muka untuk sekolah dimunculkan.

Beberapa pengasuh pesantren mengakui, model kegiatan belajar mengajar (KBM) secara langsung bagi sekolah yang berada di pesantren lebih aman. “Aktivitas KBM di pondok mulai awal sudah normal, tidak ada daring,” terang KH Ghonim Jauhari, Pengasuh PP Assuniyyah Al Jauhari Kencong.

Ia meyakini, pesantren lebih aman. Sebab, seluruh muridnya bermukim di pesantren. Mereka dilarang keluar pesantren tanpa izin pengasuh atau tanpa urusan lain yang dinilai penting. “Kalau pesantren, semua siswa di asrama. Jadi, tidak ada masalah. Beda dengan sekolah yang siswanya tak diasramakan atau keluar masuk sekolah,” imbuhnya.

Bahkan, kebijakan pesantren itu diberlakukan sejak awal siswa masuk ke pesantren. Karena itu, tidak ada lagi siswa yang wira-wiri keluar masuk pondok. Ia juga meyakini, kebijakan tersebut diberlakukan hampir di tiap pesantren yang memiliki lembaga formal.

Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo Jember juga menerapkan hal yang sama. Pengasuh Ponpes Nuris Jember KH Robith Qashidi menjelaskan, kebijakan lembaga pesantren menerapkan sekolah tatap muka itu bukan tanpa pertimbangan. Tapi, sudah melalui perhitungan matang. Bahkan, juga diketahui oleh pemerintah di berbagai tingkat. Dari bupati, kapolres, gubernur, hingga kapolda.

“Sepanjang tidak bertentangan dari aturan pemerintah yang lebih tinggi, kami siap melaksanakan. Tapi kalau seandainya ada pembatasan-pembatasan skala mikro, tentu kami juga mengikuti arahannya,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/