Radar Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait memutuskan membuat gebrakan dengan pengerahan 1.200 tenaga kesehatan ke seluruh kecamatan, hingga pelosok Jember.
Hal itu demi menindaklanjuti rapor merah angka stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB) yang tak kunjung membaik dalam satu dekade terakhir
Ia menegaskan Jember kini berada dalam status darurat yang butuh penanganan ekstra terpadu.
Ia menilai pola lama di mana setiap instansi bekerja sendiri-sendiri adalah nyata-nyata kegagalan. Dan hal itu harus segera disudahi.
"Selama ini Kepala Puskesmas sendiri, Camat sendiri, Rumah Sakit sendiri, Dinas Kesehatan sendiri. Nah, hari ini kita jadikan satu," tegasnya, usai simbolis peluncuran 1.200 nakes, di GOR Kaliwates, (26/01).
Ia menyatakan, semua elemen itu–nakes, penyuluh kb, kepala puskesmas, camat, bahkan pengawas sekolah–akan terlibat bahu-membahu menjadi bagian satgas pencegahan stunting, AKI, dan AKB ini.
Ia juga menyatakan komitmen terkait anggaran dan perencanaan secara lebih utuh dan transparan.
Targetnya, stunting harus turun drastis mulai tahun ini, hingga membawa Jember sebagai daerah dengan angka stunting terendah di Jawa Timur pada periode 2029-2030.
"Saya sampaikan tadi, salah satu indikator keberhasilan dari OPD, Camat, dan Kepala Puskesmas adalah penurunan stunting, AKI, dan AKB. Jadi ke depan tidak boleh lagi terpecah-pecah seperti dulu. Akibatnya apa? Tidak ada hasilnya, hanya seminar dan pelatihan terus," tegas orang nomor satu di Jember itu. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh