Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gus Fawait Ungkap Jurus Baru: Kopi Rakyat Jadi Senjata Andalan Jember Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

M Adhi Surya • Rabu, 26 November 2025 | 14:10 WIB
Bupati Fawait menjadi pembicara dalam Seminar Nasional dan Temu Usaha Pemberdayaan Ekonomi Lokal dalam Pengembangan Komoditas Kopi di Wilayah Aglomerasi Tapal Kuda yang digelar di Auditorium Unej.
Bupati Fawait menjadi pembicara dalam Seminar Nasional dan Temu Usaha Pemberdayaan Ekonomi Lokal dalam Pengembangan Komoditas Kopi di Wilayah Aglomerasi Tapal Kuda yang digelar di Auditorium Unej.

Radar Jember – Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan, kopi rakyat yang dikelola secara swadaya dapat menjadi strategi efektif menekan angka kemiskinan di Jember.

Optimisme itu muncul karena kota tembakau ini memiliki wilayah perkebunan yang sangat potensial, terutama di lereng gunung yang selama ini menjadi kantong kemiskinan ekstrem.

Hal tersebut disampaikan dalam seminar nasional dan temu usaha pemberdayaan ekonomi lokal dalam pengembangan komoditas kopi di wilayah aglomerasi Tapal Kuda yang digelar di Auditorium Universitas Jember (Unej), kemarin (25/11).

Dalam paparannya, Bupati Jember, yang akrab disapa Gus Fawait ini mengungkapkan, problem kemiskinan di Jember belum terselesaikan selama satu dekade terakhir.

“Jember masih tercatat sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem tertinggi di Jatim. Kondisi itu, memerlukan intervensi ekonomi yang betul-betul relevan dengan karakter wilayah,” paparnya.

Sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, Pemkab Jember mendorong pengembangan komoditas kopi berbasis pemberdayaan masyarakat.

Gus Fawait memaparkan skema kerja sama pengelolaan hutan sosial sebagai langkah yang memungkinkan warga miskin di sekitar kawasan hutan dan perkebunan ikut mengelola lahan untuk Budi daya kopi.

“Melalui hutan sosial, masyarakat tidak hanya diberi akses lahan, tetapi juga kesempatan membangun nilai ekonomi jangka panjang,” ujarnya.

Sementara, Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI Iwan Sumule menambahkan, penanganan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial.

Ia menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor, terutama antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan kelompok usaha.

“Kami ke Jember sekaligus memastikan berbagai program kementerian terkait dapat diturunkan dan dioptimalkan secara langsung,” tuturnya.

Menurut Iwan, pemerintah pusat mencatat angka kemiskinan nasional hingga pertengahan tahun ini berada di kisaran 8 persen terendah sejak krisis 1998.

Pemerintah menargetkan angka tersebut turun hingga 4,5 persen pada 2029.

Sehingga, daerah seperti Jember harus menjadi prioritas percepatan.

Dari unsur akademisi, Wakil Rektor IV Unej Bambang Kuswandi menyebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan kopi rakyat.

Pendampingan diperlukan agar pemanfaatan hutan sosial tidak memicu deforestasi.

Budi daya kopi harus tetap menjaga tutupan hutan. Di sinilah peran kampus memastikan praktiknya berkelanjutan,” tutupnya. (dhi/dwi)

 

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Kota Tembakau #Kemiskinan #UNEJ #Kopi #BP Taskin #Gus Fawait