23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Latih Petani Buat Pupuk Sebelum Bangun Pabrik

Mobile_AP_Rectangle 1

Senada, Kepala Dinas DTPHP Jember Imam Sudarmaji mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik. Diiringi dengan pelatihan dengan sekolah petani untuk pembuatan pupuk sebagai bentuk peningkatan SDM. “Tahun ini, kelompok tani sudah dilatih sekolah lapang pembuatan pupuk organik,” terangnya.

Upaya meyakinkan petani terus dilakukan. Imbauan pembuatan pupuk secara mandiri dan kemudian diaplikasikan ke tanaman diharapkan petani melihat hasilnya sendiri. Namun, dia menambahkan, pengalihan penggunaan pupuk anorganik ke organik yang diminta tidak langsung seratus persen. “Bisa dikombinasi di awal, pupuk organik 50 persen dan anorganik 50 persen,” ulasnya. Sejumlah percobaan juga dilakukan di lapang untuk mengetahui efektivitas dari pengombinasian pupuk.

Dia menceritakan hasil produksi padi yang telah dilakukan oleh kelompok tani Tirta Bakti Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung. Setelah dilakukan pelatihan dan edukasi penggunaan kombinasi pupuk, dilaporkan hasilnya cukup memuaskan. Dari sebelumnya hasil panen enam ton, bisa meningkat menjadi delapan ton.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kabar baik tersebut membuat pihaknya optimistis akan pengembangan pupuk organik di Jember. Salah satu tujuannya, kata Imam, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Bertahap dari kombinasi antara organik dengan anorganik. Selanjutnya, secara perlahan diharapkan bisa secara penuh hanya mengandalkan pupuk organik.

Lebih lanjut, Imam mengatakan, pabrik nantinya akan memproduksi pupuk berbentuk granula dan cair, agar lebih efisien. Seperti yang selama ini dikeluhkan petani bahwa penggunaan pupuk organik sangat sulit dalam pengangkutan ke lahan pertanian karena dibutuhkan dalam jumlah besar. Dari situ, kemudian akan dianalisis kembali pupuk organik granula atau cair yang lebih diterima petani.

Pabrik rencananya dibangun di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, dengan anggaran sekitar Rp 4 miliar. Untuk kapasitas produksinya sendiri, dia mengaku masih belum bisa memprediksi. Sebab, untuk keberlanjutannya masih menunggu respons dan antusiasme petani untuk membeli. (sil/c2/dwi)

 

- Advertisement -

Senada, Kepala Dinas DTPHP Jember Imam Sudarmaji mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik. Diiringi dengan pelatihan dengan sekolah petani untuk pembuatan pupuk sebagai bentuk peningkatan SDM. “Tahun ini, kelompok tani sudah dilatih sekolah lapang pembuatan pupuk organik,” terangnya.

Upaya meyakinkan petani terus dilakukan. Imbauan pembuatan pupuk secara mandiri dan kemudian diaplikasikan ke tanaman diharapkan petani melihat hasilnya sendiri. Namun, dia menambahkan, pengalihan penggunaan pupuk anorganik ke organik yang diminta tidak langsung seratus persen. “Bisa dikombinasi di awal, pupuk organik 50 persen dan anorganik 50 persen,” ulasnya. Sejumlah percobaan juga dilakukan di lapang untuk mengetahui efektivitas dari pengombinasian pupuk.

Dia menceritakan hasil produksi padi yang telah dilakukan oleh kelompok tani Tirta Bakti Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung. Setelah dilakukan pelatihan dan edukasi penggunaan kombinasi pupuk, dilaporkan hasilnya cukup memuaskan. Dari sebelumnya hasil panen enam ton, bisa meningkat menjadi delapan ton.

Kabar baik tersebut membuat pihaknya optimistis akan pengembangan pupuk organik di Jember. Salah satu tujuannya, kata Imam, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Bertahap dari kombinasi antara organik dengan anorganik. Selanjutnya, secara perlahan diharapkan bisa secara penuh hanya mengandalkan pupuk organik.

Lebih lanjut, Imam mengatakan, pabrik nantinya akan memproduksi pupuk berbentuk granula dan cair, agar lebih efisien. Seperti yang selama ini dikeluhkan petani bahwa penggunaan pupuk organik sangat sulit dalam pengangkutan ke lahan pertanian karena dibutuhkan dalam jumlah besar. Dari situ, kemudian akan dianalisis kembali pupuk organik granula atau cair yang lebih diterima petani.

Pabrik rencananya dibangun di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, dengan anggaran sekitar Rp 4 miliar. Untuk kapasitas produksinya sendiri, dia mengaku masih belum bisa memprediksi. Sebab, untuk keberlanjutannya masih menunggu respons dan antusiasme petani untuk membeli. (sil/c2/dwi)

 

Senada, Kepala Dinas DTPHP Jember Imam Sudarmaji mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik. Diiringi dengan pelatihan dengan sekolah petani untuk pembuatan pupuk sebagai bentuk peningkatan SDM. “Tahun ini, kelompok tani sudah dilatih sekolah lapang pembuatan pupuk organik,” terangnya.

Upaya meyakinkan petani terus dilakukan. Imbauan pembuatan pupuk secara mandiri dan kemudian diaplikasikan ke tanaman diharapkan petani melihat hasilnya sendiri. Namun, dia menambahkan, pengalihan penggunaan pupuk anorganik ke organik yang diminta tidak langsung seratus persen. “Bisa dikombinasi di awal, pupuk organik 50 persen dan anorganik 50 persen,” ulasnya. Sejumlah percobaan juga dilakukan di lapang untuk mengetahui efektivitas dari pengombinasian pupuk.

Dia menceritakan hasil produksi padi yang telah dilakukan oleh kelompok tani Tirta Bakti Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung. Setelah dilakukan pelatihan dan edukasi penggunaan kombinasi pupuk, dilaporkan hasilnya cukup memuaskan. Dari sebelumnya hasil panen enam ton, bisa meningkat menjadi delapan ton.

Kabar baik tersebut membuat pihaknya optimistis akan pengembangan pupuk organik di Jember. Salah satu tujuannya, kata Imam, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Bertahap dari kombinasi antara organik dengan anorganik. Selanjutnya, secara perlahan diharapkan bisa secara penuh hanya mengandalkan pupuk organik.

Lebih lanjut, Imam mengatakan, pabrik nantinya akan memproduksi pupuk berbentuk granula dan cair, agar lebih efisien. Seperti yang selama ini dikeluhkan petani bahwa penggunaan pupuk organik sangat sulit dalam pengangkutan ke lahan pertanian karena dibutuhkan dalam jumlah besar. Dari situ, kemudian akan dianalisis kembali pupuk organik granula atau cair yang lebih diterima petani.

Pabrik rencananya dibangun di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, dengan anggaran sekitar Rp 4 miliar. Untuk kapasitas produksinya sendiri, dia mengaku masih belum bisa memprediksi. Sebab, untuk keberlanjutannya masih menunggu respons dan antusiasme petani untuk membeli. (sil/c2/dwi)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca