alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Serapan APBD Rendah, Inovasi Kurang Gairah

- Sekda Sebut Capaian Nilai Cukup Besar

- Dewan Minta Evaluasi agar Serapan APBD Maksimal

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki pertengahan tahun 2022 ini, Kabupaten Jember mencatatkan capaian yang bikin mengelus dada. Ya, sejak awal 2022 hingga ini, performa Kabupaten Jember dalam mengeksekusi anggaran APBD masih cukup lemah. Akibatnya, kabupaten berjuluk Kota Tembakau ini terperosok di peringkat ke-488 dari total 514 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, sebagai kabupaten yang miskin inovasi.

BACA JUGA : Jasad Lansia Asal Gumukmas Jember Ditemukan Mengapung di Sungai

Hal itu terkuak dalam dokumen yang dipaparkan Litbang Kemendagri. Di dalamnya terurai bahwa Jember masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam melakukan berbagai gebrakan dan inovasi pembangunan daerah, dengan sokongan APBD tahun anggaran 2022.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekretaris Daerah (Sekda) Jember Mirfano menyebut, capaian realisasi penyerapan anggaran Pemkab Jember sebenarnya sudah besar. Hal itu, menurutnya, jika dilihat dari sisi nilainya. “Kabupaten Jember memiliki APBD sekitar Rp 4 triliun. Sekarang terealisasi Rp 1,1 triliun atau sekitar 27,19 persen. Artinya, secara nilai, capaian Kabupaten Jember itu sudah cukup besar,” beber Mirfano.

Sebagaimana diketahui, APBD Jember tahun 2022 nilainya mencapai Rp 4,2 triliun. Beberapa dana segar itu teralokasikan ke sejumlah megaproyek. Seperti pengaspalan jalan yang mencapai ratusan miliar, penerangan jalan umum (PJU), dan beberapa program lainnya. Namun, melihat dari sejumlah indikator tingkat inovasi, angka yang diterima Jember rata-rata memborong skor kosong alias nol (0). Sehingga tingkat serapan anggaran baru 27,19 persen, sebanding dengan rendahnya capaian inovasi.

Jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga, seperti Banyuwangi yang masuk ke dalam 20 besar kabupaten dalam penyerapan anggaran, lanjut Mirfano, Jember diakuinya juga masih menunjukkan perolehan yang baik. Kabupaten berjuluk Kota Gandrung itu memiliki kekuatan APBD sekitar Rp 3 triliun, dengan tingkat serapannya menyentuh sekitar 29,17 persen. “Tidak bisa dibandingkan. Saya melihat dari sisi yang lain. Jadi, dari aspek nilai, Jember jauh lebih besar realisasinya dari Banyuwangi,” sergah Mirfano.

Walaupun pihaknya kekeh menegaskan bahwa realisasi serapan anggaran APBD dinilainya cukup besar, namun fakta menunjukkan lemahnya tingkat inovasi hingga terperosok di peringkat ke-488 nasional. Ini artinya, banyak OPD yang belum mampu melakukan penyesuaian jargon akselerasi yang digaungkan bupati dan wakil bupati.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki pertengahan tahun 2022 ini, Kabupaten Jember mencatatkan capaian yang bikin mengelus dada. Ya, sejak awal 2022 hingga ini, performa Kabupaten Jember dalam mengeksekusi anggaran APBD masih cukup lemah. Akibatnya, kabupaten berjuluk Kota Tembakau ini terperosok di peringkat ke-488 dari total 514 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, sebagai kabupaten yang miskin inovasi.

BACA JUGA : Jasad Lansia Asal Gumukmas Jember Ditemukan Mengapung di Sungai

Hal itu terkuak dalam dokumen yang dipaparkan Litbang Kemendagri. Di dalamnya terurai bahwa Jember masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam melakukan berbagai gebrakan dan inovasi pembangunan daerah, dengan sokongan APBD tahun anggaran 2022.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jember Mirfano menyebut, capaian realisasi penyerapan anggaran Pemkab Jember sebenarnya sudah besar. Hal itu, menurutnya, jika dilihat dari sisi nilainya. “Kabupaten Jember memiliki APBD sekitar Rp 4 triliun. Sekarang terealisasi Rp 1,1 triliun atau sekitar 27,19 persen. Artinya, secara nilai, capaian Kabupaten Jember itu sudah cukup besar,” beber Mirfano.

Sebagaimana diketahui, APBD Jember tahun 2022 nilainya mencapai Rp 4,2 triliun. Beberapa dana segar itu teralokasikan ke sejumlah megaproyek. Seperti pengaspalan jalan yang mencapai ratusan miliar, penerangan jalan umum (PJU), dan beberapa program lainnya. Namun, melihat dari sejumlah indikator tingkat inovasi, angka yang diterima Jember rata-rata memborong skor kosong alias nol (0). Sehingga tingkat serapan anggaran baru 27,19 persen, sebanding dengan rendahnya capaian inovasi.

Jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga, seperti Banyuwangi yang masuk ke dalam 20 besar kabupaten dalam penyerapan anggaran, lanjut Mirfano, Jember diakuinya juga masih menunjukkan perolehan yang baik. Kabupaten berjuluk Kota Gandrung itu memiliki kekuatan APBD sekitar Rp 3 triliun, dengan tingkat serapannya menyentuh sekitar 29,17 persen. “Tidak bisa dibandingkan. Saya melihat dari sisi yang lain. Jadi, dari aspek nilai, Jember jauh lebih besar realisasinya dari Banyuwangi,” sergah Mirfano.

Walaupun pihaknya kekeh menegaskan bahwa realisasi serapan anggaran APBD dinilainya cukup besar, namun fakta menunjukkan lemahnya tingkat inovasi hingga terperosok di peringkat ke-488 nasional. Ini artinya, banyak OPD yang belum mampu melakukan penyesuaian jargon akselerasi yang digaungkan bupati dan wakil bupati.

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki pertengahan tahun 2022 ini, Kabupaten Jember mencatatkan capaian yang bikin mengelus dada. Ya, sejak awal 2022 hingga ini, performa Kabupaten Jember dalam mengeksekusi anggaran APBD masih cukup lemah. Akibatnya, kabupaten berjuluk Kota Tembakau ini terperosok di peringkat ke-488 dari total 514 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, sebagai kabupaten yang miskin inovasi.

BACA JUGA : Jasad Lansia Asal Gumukmas Jember Ditemukan Mengapung di Sungai

Hal itu terkuak dalam dokumen yang dipaparkan Litbang Kemendagri. Di dalamnya terurai bahwa Jember masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam melakukan berbagai gebrakan dan inovasi pembangunan daerah, dengan sokongan APBD tahun anggaran 2022.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jember Mirfano menyebut, capaian realisasi penyerapan anggaran Pemkab Jember sebenarnya sudah besar. Hal itu, menurutnya, jika dilihat dari sisi nilainya. “Kabupaten Jember memiliki APBD sekitar Rp 4 triliun. Sekarang terealisasi Rp 1,1 triliun atau sekitar 27,19 persen. Artinya, secara nilai, capaian Kabupaten Jember itu sudah cukup besar,” beber Mirfano.

Sebagaimana diketahui, APBD Jember tahun 2022 nilainya mencapai Rp 4,2 triliun. Beberapa dana segar itu teralokasikan ke sejumlah megaproyek. Seperti pengaspalan jalan yang mencapai ratusan miliar, penerangan jalan umum (PJU), dan beberapa program lainnya. Namun, melihat dari sejumlah indikator tingkat inovasi, angka yang diterima Jember rata-rata memborong skor kosong alias nol (0). Sehingga tingkat serapan anggaran baru 27,19 persen, sebanding dengan rendahnya capaian inovasi.

Jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga, seperti Banyuwangi yang masuk ke dalam 20 besar kabupaten dalam penyerapan anggaran, lanjut Mirfano, Jember diakuinya juga masih menunjukkan perolehan yang baik. Kabupaten berjuluk Kota Gandrung itu memiliki kekuatan APBD sekitar Rp 3 triliun, dengan tingkat serapannya menyentuh sekitar 29,17 persen. “Tidak bisa dibandingkan. Saya melihat dari sisi yang lain. Jadi, dari aspek nilai, Jember jauh lebih besar realisasinya dari Banyuwangi,” sergah Mirfano.

Walaupun pihaknya kekeh menegaskan bahwa realisasi serapan anggaran APBD dinilainya cukup besar, namun fakta menunjukkan lemahnya tingkat inovasi hingga terperosok di peringkat ke-488 nasional. Ini artinya, banyak OPD yang belum mampu melakukan penyesuaian jargon akselerasi yang digaungkan bupati dan wakil bupati.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/