Satpol PP-nya Kalah Pagi, Pedagang di Kepatihan Kembali Tumpah ke Jalan

JUMAI/RADAR JEMBER TETAP JUALAN: Seorang pedagang yang berjualan di Gladak Kembar tetap cuek meski di sebelahnya ada petugas polisi pamong praja.

RADARJEMBER.ID – Pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan Ahmad Yani (depan Pasar Kepatihan) semakin ngawur. Jumlahnya bertambah banyak dan memakai badan jalan. Padahal, jalur itu cukup ramai meski pagi hari.

IKLAN

Beberapa waktu lalu kondisi di sana sempat tertib. Yakni pasca penertiban yang melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, Satlantas Polres Jember, Kelurahan Kepatihan, dan Muspika Kaliwates. Saat ini, kondisinya tak tertib lagi. Mereka dengan seenaknya berjualan di aspal.

Awalnya, paling banyak hanya yang berjualan di sekitar depan Pasar Kepatihan. Tetapi, semakin hari jumlahnya semakin banyak, hingga berjualan di tengah jembatan.

Warga yang enggan masuk ke Pasar Kepatihan memilih berbelanja di sekitar jembatan. “Saya enggan masuk ke dalam pasar karena barang yang mau dibeli sudah ada di luar pasar,” ujar Anita, 45, warga Jalan Letjen Suprapto Gg II.

Kepala Satpol PP Jember Arief Tyahyono mengakui, setiap hari kondisi Pasar Kepatihan selalu dipenuhi pedagang. Bahkan, sampai ke bahu jalan hingga ke Gladak Kembar. Dia mengaku, kondisi tersebut jika dibiarkan saja akan mengganggu masyarakat Jember. Terlebih lagi, posisi melubernya pedagang tersebut berada di jalan protokol atau jalur sibuk di Kota Jember.

Meski begitu, Satpol PP terus berusaha terciptanya kondisi yang nyaman dan tenteram. Pada intinya, Satpol PP bangun lebih lagi untuk bisa menertibkan pedagang saat memasuki padatnya arus lalu lintas. “Mulainya petugas menertibkan ini antara pukul 05.00-05.30. Pada intinya jam 6 pagi harus steril dari pedagang yang berjualan di bahu jalan serta Jembatan Gladak Kembar,” paparnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember Anas Ma’ruf mengatakan, dari pantauan setiap hari memang pedagang Pasar Kepatihan semakin banyak, hingga berjualan di Jembatan Gladak Kembar. Dia mengakui, kondisi tersebut tidak tepat, karena berada di tepi jalan utama. “Jadi, dulu Pasar Kepatihan itu pasar krempyeng (kecil, Red) yang sekarang berkembang jadi jujukan warga. Sehingga, semakin ramai dan berkembang,” imbuhnya.

Anas menjelaskan, lokasi Pasar Kepatihan ini awalnya hanya berada di Jalan A. Yani. “Yang atapnya terbuat dari seng itu,” jelasnya. Semakin meluas hingga masuk ke perkampungan, sampai ke Jalan Trunoyono, dan kini meluber hingga Jembatan Gladak Kembar.

Jumlah pedagang pun juga semakin bertambah. Pedagang yang menempati lapak resmi ini ada 80 pedagang. “Sekarang jumlahnya antara 200-300 pedagang,” terangnya.

Dia menambahkan, pedagang yang berjualan di bahu jalan dan jembatan tersebut datang sejak matahari belum terbit. “Pedagang berjualan itu sebelum subuh. Pada jam itu petugas keamanan belum datang,” imbuhnya.

Anas mengaku telah melakukan sosialisasi agar tidak berjualan terutama di Jembatan Gladak Kembar. “Berjualan di jembatan itu membahayakan keselamatan. Ini adalah tantangan kami bagaimana mengaturnya,” paparnya.

Pasar Kepatihan juga masuk dalam rencana pasar tradisional yang direvitalisasi. Namun, tidak bisa memperluas lagi, hanya pembenahan. Terutama revitalisasi tersebut menjadikan pasar lebih nyaman dan bersih.

Reporter : Dwi Siswanto, Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :