alexametrics
28.6 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Pedagangnya Disiplin, Tinggal Pemerintahnya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menguji apakah ada pedagang yang bandel dan enggan membayar retribusi, Jawa Pos Radar Jember mendatangi dua pasar berbeda di kawasan kota. Rupanya, dari beberapa pedagang yang ditanya, mereka mengaku rajin membayar retribusi. Kendati begitu, mereka belum mengungkapkan bagaimana jika nanti pemerintah menerapkan e-retribusi. Apakah mereka setuju? Yang jelas, pedagang menyatakan, apa pun yang diputuskan oleh pemerintah, mereka akan mengikutinya.

Meski hasil wawancara ini tidak mewakili secara keseluruhan, tapi setidaknya bisa memberi gambaran bagaimana sikap pedagang terhadap kebijakan pemerintah. Termasuk respons ketika ada program atau kebijakan baru. Pada dasarnya, para pedagang itu disiplin. Ini diwujudkan dengan rutin memenuhi kewajiban membayar retribusi dan iuran lain. Terlepas apakah duit yang mereka bayarkan itu masuk ke kas daerah atau tidak. Berikut penuturan mereka.

Siang itu, Mila masih bersemangat menjajakan buah-buahan. Dia menawarkan kepada setiap pengunjung yang lewat di lapaknya. Dia seperti tak pernah lelah berusaha menarik perhatian pengunjung yang melintas di depannya. Ya, perempuan 54 tahun itu adalah pekerja keras. Dia mulai berjualan sejak pukul 01.00 dini hari hingga 20.00 malam. Begitulah kegiatan niaganya yang berada di lantai 2 Pasar Tanjung tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mila sempat khawatir dengan pembangunan yang pernah dicanangkan oleh bupati sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu. Pembangunan itu adalah penyempurnaan Pasar Tanjung hingga tiga lantai. Tak berbeda dengan teman-teman lainnya, Mila takut jika pasar akan dibangun menjadi tiga lantai, pemerintah tak mampu menyediakan akses memadai untuk berniaga. “Walaupun ditingkat berapa lantai, kalau kami tidak punya tempat, ya percuma. Tidak jelas tempatnya mau ditaruh di mana? Kami tidak mau,” katanya sembari menimbang buah yang dibeli pengunjung.

Beberapa tahun yang lalu, lanjut Mila, sempat ada renovasi yang terjadi di Pasar Tanjung. Renovasi itu tidak berjalan efektif. Sebab, para pedagang tidak diberi tempat untuk berjualan. Imbasnya, para penjual yang ada di dalam pasar keluar semua. Mereka banyak yang mendirikan tenda-tenda di sepanjang jalan. “Pedagang tidak tertata. Berkeliaran,” ungkapnya.

Terlepas dari semua itu, Mila yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun ini tidak pernah absen membayar retribusi yang dibebankan padanya. Dia mengungkapkan, selain retribusi juga ada iuran yang dibayarnya kepada koperasi. Mila tidak menyebut besaran duit yang harus dia bayarkan. “Di koperasi. Setiap hari iuran kebersihan itu juga wajib,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menguji apakah ada pedagang yang bandel dan enggan membayar retribusi, Jawa Pos Radar Jember mendatangi dua pasar berbeda di kawasan kota. Rupanya, dari beberapa pedagang yang ditanya, mereka mengaku rajin membayar retribusi. Kendati begitu, mereka belum mengungkapkan bagaimana jika nanti pemerintah menerapkan e-retribusi. Apakah mereka setuju? Yang jelas, pedagang menyatakan, apa pun yang diputuskan oleh pemerintah, mereka akan mengikutinya.

Meski hasil wawancara ini tidak mewakili secara keseluruhan, tapi setidaknya bisa memberi gambaran bagaimana sikap pedagang terhadap kebijakan pemerintah. Termasuk respons ketika ada program atau kebijakan baru. Pada dasarnya, para pedagang itu disiplin. Ini diwujudkan dengan rutin memenuhi kewajiban membayar retribusi dan iuran lain. Terlepas apakah duit yang mereka bayarkan itu masuk ke kas daerah atau tidak. Berikut penuturan mereka.

Siang itu, Mila masih bersemangat menjajakan buah-buahan. Dia menawarkan kepada setiap pengunjung yang lewat di lapaknya. Dia seperti tak pernah lelah berusaha menarik perhatian pengunjung yang melintas di depannya. Ya, perempuan 54 tahun itu adalah pekerja keras. Dia mulai berjualan sejak pukul 01.00 dini hari hingga 20.00 malam. Begitulah kegiatan niaganya yang berada di lantai 2 Pasar Tanjung tersebut.

Mila sempat khawatir dengan pembangunan yang pernah dicanangkan oleh bupati sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu. Pembangunan itu adalah penyempurnaan Pasar Tanjung hingga tiga lantai. Tak berbeda dengan teman-teman lainnya, Mila takut jika pasar akan dibangun menjadi tiga lantai, pemerintah tak mampu menyediakan akses memadai untuk berniaga. “Walaupun ditingkat berapa lantai, kalau kami tidak punya tempat, ya percuma. Tidak jelas tempatnya mau ditaruh di mana? Kami tidak mau,” katanya sembari menimbang buah yang dibeli pengunjung.

Beberapa tahun yang lalu, lanjut Mila, sempat ada renovasi yang terjadi di Pasar Tanjung. Renovasi itu tidak berjalan efektif. Sebab, para pedagang tidak diberi tempat untuk berjualan. Imbasnya, para penjual yang ada di dalam pasar keluar semua. Mereka banyak yang mendirikan tenda-tenda di sepanjang jalan. “Pedagang tidak tertata. Berkeliaran,” ungkapnya.

Terlepas dari semua itu, Mila yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun ini tidak pernah absen membayar retribusi yang dibebankan padanya. Dia mengungkapkan, selain retribusi juga ada iuran yang dibayarnya kepada koperasi. Mila tidak menyebut besaran duit yang harus dia bayarkan. “Di koperasi. Setiap hari iuran kebersihan itu juga wajib,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menguji apakah ada pedagang yang bandel dan enggan membayar retribusi, Jawa Pos Radar Jember mendatangi dua pasar berbeda di kawasan kota. Rupanya, dari beberapa pedagang yang ditanya, mereka mengaku rajin membayar retribusi. Kendati begitu, mereka belum mengungkapkan bagaimana jika nanti pemerintah menerapkan e-retribusi. Apakah mereka setuju? Yang jelas, pedagang menyatakan, apa pun yang diputuskan oleh pemerintah, mereka akan mengikutinya.

Meski hasil wawancara ini tidak mewakili secara keseluruhan, tapi setidaknya bisa memberi gambaran bagaimana sikap pedagang terhadap kebijakan pemerintah. Termasuk respons ketika ada program atau kebijakan baru. Pada dasarnya, para pedagang itu disiplin. Ini diwujudkan dengan rutin memenuhi kewajiban membayar retribusi dan iuran lain. Terlepas apakah duit yang mereka bayarkan itu masuk ke kas daerah atau tidak. Berikut penuturan mereka.

Siang itu, Mila masih bersemangat menjajakan buah-buahan. Dia menawarkan kepada setiap pengunjung yang lewat di lapaknya. Dia seperti tak pernah lelah berusaha menarik perhatian pengunjung yang melintas di depannya. Ya, perempuan 54 tahun itu adalah pekerja keras. Dia mulai berjualan sejak pukul 01.00 dini hari hingga 20.00 malam. Begitulah kegiatan niaganya yang berada di lantai 2 Pasar Tanjung tersebut.

Mila sempat khawatir dengan pembangunan yang pernah dicanangkan oleh bupati sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu. Pembangunan itu adalah penyempurnaan Pasar Tanjung hingga tiga lantai. Tak berbeda dengan teman-teman lainnya, Mila takut jika pasar akan dibangun menjadi tiga lantai, pemerintah tak mampu menyediakan akses memadai untuk berniaga. “Walaupun ditingkat berapa lantai, kalau kami tidak punya tempat, ya percuma. Tidak jelas tempatnya mau ditaruh di mana? Kami tidak mau,” katanya sembari menimbang buah yang dibeli pengunjung.

Beberapa tahun yang lalu, lanjut Mila, sempat ada renovasi yang terjadi di Pasar Tanjung. Renovasi itu tidak berjalan efektif. Sebab, para pedagang tidak diberi tempat untuk berjualan. Imbasnya, para penjual yang ada di dalam pasar keluar semua. Mereka banyak yang mendirikan tenda-tenda di sepanjang jalan. “Pedagang tidak tertata. Berkeliaran,” ungkapnya.

Terlepas dari semua itu, Mila yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun ini tidak pernah absen membayar retribusi yang dibebankan padanya. Dia mengungkapkan, selain retribusi juga ada iuran yang dibayarnya kepada koperasi. Mila tidak menyebut besaran duit yang harus dia bayarkan. “Di koperasi. Setiap hari iuran kebersihan itu juga wajib,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Patenkan Target Masuk Final

Hanya Punya Satu Dokter Hewan

Pabrik Pupuk Gagal Dibangun!

Bahagia, Ibadah Bersama Keluarga

Wajib Dibaca

/