alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Realisasikan Sirkuit Balap Motor 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan, balapan liar makin marak terjadi. Menurut Ketua Federasi Olahraga Balap Motor (FOBM) Jember Ahmad Yusuf, adanya balapan liar ditengarai disebabk0an oleh banyak faktor. Setidaknya terdapat tiga faktor yang melatarbelakangi maraknya balapan liar di Jember. Pertama adalah tidak adanya event balapan motor selama lima tahun belakangan. Sehingga para pembalap lokal lebih banyak tertarik untuk melakukan balapan liar.

“Di Jember ini sering digunakan tim dari luar. Tidak hanya lokalan, misalnya dari Surabaya,” ungkap Yusuf, kemarin (21/3). Terlebih saat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung, praktis semua event balapan motor diurungkan secara nasional. Alhasil, beberapa tim gahar dari luar kota nekat mengadakan balapan liar di Jember. Biasanya di JLS.

Kenapa memilih JLS? Yusuf mengungkapkan, di jalur yang bersebelahan dengan laut selatan itu akses untuk balapan lebih leluasa. Selain itu, pengawasannya juga lebih longgar. Tentu saja, nominal taruhan balapan liar di JLS tidak remeh-temeh. Yusuf menuturkan, nilai taruhannya bisa mencapai Rp 50 juta.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Jadi, korelasinya dengan PSBB dan pandemi adalah tidak adanya event balapan. Karena pandemi, event dibatalkan. Akhirnya, para pembalap nekat mengadakan event sendiri, tapi ilegal,” jelentreh Yusuf ketika ditemui di kediamannya, kawasan Jalan Sumatera, Sumbersari.

Faktor kedua, hingga saat ini Jember belum memiliki tempat yang memadai untuk latihan balapan. Seperti halnya FOBM Jember. Mulanya organisasi ini mengadakan latihan balap motor di Jember Sport Garden (JSG). Menurut Yusuf, cara ini cukup efektif. Terbukti, pada 2018 lalu, jumlah balapan liar turun drastis. “Kalau menghilangkan secara total balapan liar itu tidak bisa. Bisanya cuma dikurangi. Tapi 2018, kami upayakan ada tempat latihan, balapan liar mereda. Lebih sedikit. Mereka butuh tempat,” papar bapak tiga anak itu.

Terakhir, lantaran kurangnya SDM aparat keamanan untuk mengawasi balapan liar. Menurut Yusuf, jumlah pembalap liar belakangan ini meningkat, dan penanggulangannya tidak setara dengan jumlah polisi yang bertugas di daerah. Berbeda lagi jika di kota. “Mungkin kalau di kota, tingkat keamanan dan pengamanannya bisa dilakukan. Karena polres lebih bisa menjangkau,” imbuhnya.

Oleh karena itu, menurut Yusuf, alternatifnya adalah pemerintah daerah perlu merealisasikan atau meneruskan cetak biru pembangunan sirkuit di JSG. Jika program tersebut dapat direalisasikan, maka para pembalap memiliki tempat untuk latihan. “Blue print di JSG diteruskan agar bisa membangun sirkuit. Untuk balapan misalnya, panjang track lurusnya itu 500 meter. Sirkuitnya sepanjang 1,7 kilometer. Itu sudah cukup. Ya, kalau mau balapan liar yang bergengsi, ya pakai sirkuit itu saja. Jadi, menurut saya solusinya teruskan pembangunan sirkuit,” sarannya.

Yusuf menyadari, dengan kondisi jember saat ini, meneruskan pembangunan sirkuit bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang relatif lama. Sehingga, opsi lainnya adalah diadakannya event perlombaan untuk mewadahi para pembalap. Baik tingkat lokal maupun luar daerah. Tentunya dengan menaati protokol kesehatan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan, balapan liar makin marak terjadi. Menurut Ketua Federasi Olahraga Balap Motor (FOBM) Jember Ahmad Yusuf, adanya balapan liar ditengarai disebabk0an oleh banyak faktor. Setidaknya terdapat tiga faktor yang melatarbelakangi maraknya balapan liar di Jember. Pertama adalah tidak adanya event balapan motor selama lima tahun belakangan. Sehingga para pembalap lokal lebih banyak tertarik untuk melakukan balapan liar.

“Di Jember ini sering digunakan tim dari luar. Tidak hanya lokalan, misalnya dari Surabaya,” ungkap Yusuf, kemarin (21/3). Terlebih saat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung, praktis semua event balapan motor diurungkan secara nasional. Alhasil, beberapa tim gahar dari luar kota nekat mengadakan balapan liar di Jember. Biasanya di JLS.

Kenapa memilih JLS? Yusuf mengungkapkan, di jalur yang bersebelahan dengan laut selatan itu akses untuk balapan lebih leluasa. Selain itu, pengawasannya juga lebih longgar. Tentu saja, nominal taruhan balapan liar di JLS tidak remeh-temeh. Yusuf menuturkan, nilai taruhannya bisa mencapai Rp 50 juta.

“Jadi, korelasinya dengan PSBB dan pandemi adalah tidak adanya event balapan. Karena pandemi, event dibatalkan. Akhirnya, para pembalap nekat mengadakan event sendiri, tapi ilegal,” jelentreh Yusuf ketika ditemui di kediamannya, kawasan Jalan Sumatera, Sumbersari.

Faktor kedua, hingga saat ini Jember belum memiliki tempat yang memadai untuk latihan balapan. Seperti halnya FOBM Jember. Mulanya organisasi ini mengadakan latihan balap motor di Jember Sport Garden (JSG). Menurut Yusuf, cara ini cukup efektif. Terbukti, pada 2018 lalu, jumlah balapan liar turun drastis. “Kalau menghilangkan secara total balapan liar itu tidak bisa. Bisanya cuma dikurangi. Tapi 2018, kami upayakan ada tempat latihan, balapan liar mereda. Lebih sedikit. Mereka butuh tempat,” papar bapak tiga anak itu.

Terakhir, lantaran kurangnya SDM aparat keamanan untuk mengawasi balapan liar. Menurut Yusuf, jumlah pembalap liar belakangan ini meningkat, dan penanggulangannya tidak setara dengan jumlah polisi yang bertugas di daerah. Berbeda lagi jika di kota. “Mungkin kalau di kota, tingkat keamanan dan pengamanannya bisa dilakukan. Karena polres lebih bisa menjangkau,” imbuhnya.

Oleh karena itu, menurut Yusuf, alternatifnya adalah pemerintah daerah perlu merealisasikan atau meneruskan cetak biru pembangunan sirkuit di JSG. Jika program tersebut dapat direalisasikan, maka para pembalap memiliki tempat untuk latihan. “Blue print di JSG diteruskan agar bisa membangun sirkuit. Untuk balapan misalnya, panjang track lurusnya itu 500 meter. Sirkuitnya sepanjang 1,7 kilometer. Itu sudah cukup. Ya, kalau mau balapan liar yang bergengsi, ya pakai sirkuit itu saja. Jadi, menurut saya solusinya teruskan pembangunan sirkuit,” sarannya.

Yusuf menyadari, dengan kondisi jember saat ini, meneruskan pembangunan sirkuit bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang relatif lama. Sehingga, opsi lainnya adalah diadakannya event perlombaan untuk mewadahi para pembalap. Baik tingkat lokal maupun luar daerah. Tentunya dengan menaati protokol kesehatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan, balapan liar makin marak terjadi. Menurut Ketua Federasi Olahraga Balap Motor (FOBM) Jember Ahmad Yusuf, adanya balapan liar ditengarai disebabk0an oleh banyak faktor. Setidaknya terdapat tiga faktor yang melatarbelakangi maraknya balapan liar di Jember. Pertama adalah tidak adanya event balapan motor selama lima tahun belakangan. Sehingga para pembalap lokal lebih banyak tertarik untuk melakukan balapan liar.

“Di Jember ini sering digunakan tim dari luar. Tidak hanya lokalan, misalnya dari Surabaya,” ungkap Yusuf, kemarin (21/3). Terlebih saat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung, praktis semua event balapan motor diurungkan secara nasional. Alhasil, beberapa tim gahar dari luar kota nekat mengadakan balapan liar di Jember. Biasanya di JLS.

Kenapa memilih JLS? Yusuf mengungkapkan, di jalur yang bersebelahan dengan laut selatan itu akses untuk balapan lebih leluasa. Selain itu, pengawasannya juga lebih longgar. Tentu saja, nominal taruhan balapan liar di JLS tidak remeh-temeh. Yusuf menuturkan, nilai taruhannya bisa mencapai Rp 50 juta.

“Jadi, korelasinya dengan PSBB dan pandemi adalah tidak adanya event balapan. Karena pandemi, event dibatalkan. Akhirnya, para pembalap nekat mengadakan event sendiri, tapi ilegal,” jelentreh Yusuf ketika ditemui di kediamannya, kawasan Jalan Sumatera, Sumbersari.

Faktor kedua, hingga saat ini Jember belum memiliki tempat yang memadai untuk latihan balapan. Seperti halnya FOBM Jember. Mulanya organisasi ini mengadakan latihan balap motor di Jember Sport Garden (JSG). Menurut Yusuf, cara ini cukup efektif. Terbukti, pada 2018 lalu, jumlah balapan liar turun drastis. “Kalau menghilangkan secara total balapan liar itu tidak bisa. Bisanya cuma dikurangi. Tapi 2018, kami upayakan ada tempat latihan, balapan liar mereda. Lebih sedikit. Mereka butuh tempat,” papar bapak tiga anak itu.

Terakhir, lantaran kurangnya SDM aparat keamanan untuk mengawasi balapan liar. Menurut Yusuf, jumlah pembalap liar belakangan ini meningkat, dan penanggulangannya tidak setara dengan jumlah polisi yang bertugas di daerah. Berbeda lagi jika di kota. “Mungkin kalau di kota, tingkat keamanan dan pengamanannya bisa dilakukan. Karena polres lebih bisa menjangkau,” imbuhnya.

Oleh karena itu, menurut Yusuf, alternatifnya adalah pemerintah daerah perlu merealisasikan atau meneruskan cetak biru pembangunan sirkuit di JSG. Jika program tersebut dapat direalisasikan, maka para pembalap memiliki tempat untuk latihan. “Blue print di JSG diteruskan agar bisa membangun sirkuit. Untuk balapan misalnya, panjang track lurusnya itu 500 meter. Sirkuitnya sepanjang 1,7 kilometer. Itu sudah cukup. Ya, kalau mau balapan liar yang bergengsi, ya pakai sirkuit itu saja. Jadi, menurut saya solusinya teruskan pembangunan sirkuit,” sarannya.

Yusuf menyadari, dengan kondisi jember saat ini, meneruskan pembangunan sirkuit bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang relatif lama. Sehingga, opsi lainnya adalah diadakannya event perlombaan untuk mewadahi para pembalap. Baik tingkat lokal maupun luar daerah. Tentunya dengan menaati protokol kesehatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/