alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Satgas Perlu Introspeksi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro digelar, Februari lalu, kasus Covid-19 di Kabupaten Jember sempat mengalami fluktuasi. Tinggi di Februari, tapi kemudian naik turun di bulan-bulan berikutnya. Namun, memasuki medio Juni, peningkatan kasus kembali terjadi. Bahkan, per tanggal 19 Juni, ada 71 kasus baru. Lonjakan ini menjadi alarm bahwa masyarakat dan Satgas Covid-19 harus tetap siaga. Sebab, virus korona masih menjadi ancaman berbahaya.

Merunut data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember dari bulan ke bulan, angka kasus baru tertinggi memang terjadi pada Februari. Tercatat ada 811 warga Jember yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebanyak 72 pasien meninggal. Bulan berikutnya, kasus penambahan pasien menurun drastis. Tercatat 258 orang dan yang meninggal sejumlah 30 jiwa.

Kasus positif baru terus menurun pada bulan berikutnya. April, ada 104 kasus. Dan yang meninggal akibat Covid-19 juga turun menjadi 28 kasus. Sedangkan pada Mei, sebanyak 90 orang terpapar Covid-19, dan hanya enam pasien yang meninggal akibat virus korona itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski belum diketahui, apakah tren menurunnya kasus korona itu karena PPKM mikro atau bukan, tapi yang jelas tren peningkatan kembali terjadi pada bulan Juni. Sebab, kasus baru pasien Covid-19 bertambah drastis. Sampai 19 Juni saja, tercatat sebanyak 149 orang yang terkonfirmasi positif. Bahkan, sampai ada 71 kasus baru dalam sehari.

Kemudian, yang menjadi sorotan adalah pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Paling banyak ada di Sumbersari, disusul Kaliwates, dan Patrang. Bagaimanapun, mereka dikhawatirkan bisa menularkan virus itu kepada orang lain jika tidak dipantau. Di sinilah peran petugas di posko PPKM mikro cukup penting.

“Yang pasti, mereka harus berkolaborasi dalam menangani apa pun yang terjadi terkait dengan Covid-19 di desa-desa,” kata dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. Sebelumnya, para petugas berperan mengawasi setiap warga di lingkungannya. Jika ada yang bergejala, mereka bisa melapor kepada satgas desa, kecamatan, atau puskesmas agar segera mendapat penanganan.

Setelah mendapatkan pemeriksaan, baru akan ditentukan pasien itu bakal menjalani perawatan di rumah sakit atau menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. “Itu bergantung pada gejalanya. Berat, sedang, atau ringan,” ungkap dokter yang juga akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Jember tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro digelar, Februari lalu, kasus Covid-19 di Kabupaten Jember sempat mengalami fluktuasi. Tinggi di Februari, tapi kemudian naik turun di bulan-bulan berikutnya. Namun, memasuki medio Juni, peningkatan kasus kembali terjadi. Bahkan, per tanggal 19 Juni, ada 71 kasus baru. Lonjakan ini menjadi alarm bahwa masyarakat dan Satgas Covid-19 harus tetap siaga. Sebab, virus korona masih menjadi ancaman berbahaya.

Merunut data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember dari bulan ke bulan, angka kasus baru tertinggi memang terjadi pada Februari. Tercatat ada 811 warga Jember yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebanyak 72 pasien meninggal. Bulan berikutnya, kasus penambahan pasien menurun drastis. Tercatat 258 orang dan yang meninggal sejumlah 30 jiwa.

Kasus positif baru terus menurun pada bulan berikutnya. April, ada 104 kasus. Dan yang meninggal akibat Covid-19 juga turun menjadi 28 kasus. Sedangkan pada Mei, sebanyak 90 orang terpapar Covid-19, dan hanya enam pasien yang meninggal akibat virus korona itu.

Meski belum diketahui, apakah tren menurunnya kasus korona itu karena PPKM mikro atau bukan, tapi yang jelas tren peningkatan kembali terjadi pada bulan Juni. Sebab, kasus baru pasien Covid-19 bertambah drastis. Sampai 19 Juni saja, tercatat sebanyak 149 orang yang terkonfirmasi positif. Bahkan, sampai ada 71 kasus baru dalam sehari.

Kemudian, yang menjadi sorotan adalah pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Paling banyak ada di Sumbersari, disusul Kaliwates, dan Patrang. Bagaimanapun, mereka dikhawatirkan bisa menularkan virus itu kepada orang lain jika tidak dipantau. Di sinilah peran petugas di posko PPKM mikro cukup penting.

“Yang pasti, mereka harus berkolaborasi dalam menangani apa pun yang terjadi terkait dengan Covid-19 di desa-desa,” kata dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. Sebelumnya, para petugas berperan mengawasi setiap warga di lingkungannya. Jika ada yang bergejala, mereka bisa melapor kepada satgas desa, kecamatan, atau puskesmas agar segera mendapat penanganan.

Setelah mendapatkan pemeriksaan, baru akan ditentukan pasien itu bakal menjalani perawatan di rumah sakit atau menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. “Itu bergantung pada gejalanya. Berat, sedang, atau ringan,” ungkap dokter yang juga akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Jember tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro digelar, Februari lalu, kasus Covid-19 di Kabupaten Jember sempat mengalami fluktuasi. Tinggi di Februari, tapi kemudian naik turun di bulan-bulan berikutnya. Namun, memasuki medio Juni, peningkatan kasus kembali terjadi. Bahkan, per tanggal 19 Juni, ada 71 kasus baru. Lonjakan ini menjadi alarm bahwa masyarakat dan Satgas Covid-19 harus tetap siaga. Sebab, virus korona masih menjadi ancaman berbahaya.

Merunut data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember dari bulan ke bulan, angka kasus baru tertinggi memang terjadi pada Februari. Tercatat ada 811 warga Jember yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebanyak 72 pasien meninggal. Bulan berikutnya, kasus penambahan pasien menurun drastis. Tercatat 258 orang dan yang meninggal sejumlah 30 jiwa.

Kasus positif baru terus menurun pada bulan berikutnya. April, ada 104 kasus. Dan yang meninggal akibat Covid-19 juga turun menjadi 28 kasus. Sedangkan pada Mei, sebanyak 90 orang terpapar Covid-19, dan hanya enam pasien yang meninggal akibat virus korona itu.

Meski belum diketahui, apakah tren menurunnya kasus korona itu karena PPKM mikro atau bukan, tapi yang jelas tren peningkatan kembali terjadi pada bulan Juni. Sebab, kasus baru pasien Covid-19 bertambah drastis. Sampai 19 Juni saja, tercatat sebanyak 149 orang yang terkonfirmasi positif. Bahkan, sampai ada 71 kasus baru dalam sehari.

Kemudian, yang menjadi sorotan adalah pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Paling banyak ada di Sumbersari, disusul Kaliwates, dan Patrang. Bagaimanapun, mereka dikhawatirkan bisa menularkan virus itu kepada orang lain jika tidak dipantau. Di sinilah peran petugas di posko PPKM mikro cukup penting.

“Yang pasti, mereka harus berkolaborasi dalam menangani apa pun yang terjadi terkait dengan Covid-19 di desa-desa,” kata dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. Sebelumnya, para petugas berperan mengawasi setiap warga di lingkungannya. Jika ada yang bergejala, mereka bisa melapor kepada satgas desa, kecamatan, atau puskesmas agar segera mendapat penanganan.

Setelah mendapatkan pemeriksaan, baru akan ditentukan pasien itu bakal menjalani perawatan di rumah sakit atau menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. “Itu bergantung pada gejalanya. Berat, sedang, atau ringan,” ungkap dokter yang juga akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Jember tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/