alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Bahas RPJMD, Sektor Sosial Jadi Sorotan

AKI/AKB Masih Menjadi Perhatian

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor kesehatan menjadi isu yang paling disorot oleh organisasi masyarakat sipil yang diundang oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemkab Jember. Sebab, hingga kini angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Jember masih cukup tinggi. Bahkan menjadi yang tertinggi di Jawa Timur.

Sebanyak 15 organisasi yang diundang ini khusus membahas isu sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Setiap lembaga yang hadir diminta memberikan usulan mengenai problem di bidang sosial yang nantinya akan menjadi pertimbangan dalam perumusan RPJMD.

Dalam pembahasan itu mencuat tingginya AKI/AKB di Jember salah satu penyumbangnya adalah tingginya angka pernikahan dini. Kasus kawin muda ini memiliki efek berantai. Tak hanya terhadap meningkatnya AKI/AKB. Tapi, juga kualitas ekonomi keluarga yang rendah serta tingginya angka perceraian.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pengaruhnya pada kesejahteraan ekonomi. Ini menjadi problem yang penting untuk diatasi,” ungkap Titin Suatinah dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, dalam forum yang berlangsung di salah satu ruang pertemuan Gedung Pemkab Jember, kemarin (19/5).

Tenaga Ahli Penyusun RPJMD Agung Dewantoro mengungkapkan, angka AKI/AKB yang terus naik mengindikasikan bahwa penanganan yang sudah dilakukan selama ini belum efektif. Dia menilai, kalau dilihat di lapangan, sebenarnya akses kesehatan bagi ibu hamil sudah terwadahi. Fasilitasnya juga sudah baik. Namun, jika angka kasusnya tetap naik, kata dia, ini menandakan selama ini penanganannya belum menyentuh ke masalah krusial. “Ada sesuatu yang belum terpotret,” ungkapnya.

Agung menjelaskan, sejatinya Dinas Kesehatan Jember telah mengantongi data by name by dress ibu hamil di kabupaten setempat. Namun, walaupun data sudah dikantongi, tetap tidak ada perubahan yang signifikan di masyarakat. “Kasusnya saja yang banyak. Tapi intervensinya tidak membuahkan hasil,” tuturnya.

Selanjutnya, Agung menegaskan bahwa SDGs ini merupakan pakem pembangunan berkelanjutan bagi daerah. Karena itu, adanya rapat dengar aspirasi dan pendapat para penggerak masyarakat sipil itu diharapkan bisa menemukan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.

Agung menargetkan, draf RPJMD akan rampung dalam waktu dekat ini. “Yang jelas, program-program itu menjadi masalah prioritas. Nantinya kami akan merumuskan alternatif yang efektif,” pungkasnya.

 

NGO Sayangkan Program Terhenti

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor kesehatan menjadi isu yang paling disorot oleh organisasi masyarakat sipil yang diundang oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemkab Jember. Sebab, hingga kini angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Jember masih cukup tinggi. Bahkan menjadi yang tertinggi di Jawa Timur.

Sebanyak 15 organisasi yang diundang ini khusus membahas isu sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Setiap lembaga yang hadir diminta memberikan usulan mengenai problem di bidang sosial yang nantinya akan menjadi pertimbangan dalam perumusan RPJMD.

Dalam pembahasan itu mencuat tingginya AKI/AKB di Jember salah satu penyumbangnya adalah tingginya angka pernikahan dini. Kasus kawin muda ini memiliki efek berantai. Tak hanya terhadap meningkatnya AKI/AKB. Tapi, juga kualitas ekonomi keluarga yang rendah serta tingginya angka perceraian.

“Pengaruhnya pada kesejahteraan ekonomi. Ini menjadi problem yang penting untuk diatasi,” ungkap Titin Suatinah dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, dalam forum yang berlangsung di salah satu ruang pertemuan Gedung Pemkab Jember, kemarin (19/5).

Tenaga Ahli Penyusun RPJMD Agung Dewantoro mengungkapkan, angka AKI/AKB yang terus naik mengindikasikan bahwa penanganan yang sudah dilakukan selama ini belum efektif. Dia menilai, kalau dilihat di lapangan, sebenarnya akses kesehatan bagi ibu hamil sudah terwadahi. Fasilitasnya juga sudah baik. Namun, jika angka kasusnya tetap naik, kata dia, ini menandakan selama ini penanganannya belum menyentuh ke masalah krusial. “Ada sesuatu yang belum terpotret,” ungkapnya.

Agung menjelaskan, sejatinya Dinas Kesehatan Jember telah mengantongi data by name by dress ibu hamil di kabupaten setempat. Namun, walaupun data sudah dikantongi, tetap tidak ada perubahan yang signifikan di masyarakat. “Kasusnya saja yang banyak. Tapi intervensinya tidak membuahkan hasil,” tuturnya.

Selanjutnya, Agung menegaskan bahwa SDGs ini merupakan pakem pembangunan berkelanjutan bagi daerah. Karena itu, adanya rapat dengar aspirasi dan pendapat para penggerak masyarakat sipil itu diharapkan bisa menemukan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.

Agung menargetkan, draf RPJMD akan rampung dalam waktu dekat ini. “Yang jelas, program-program itu menjadi masalah prioritas. Nantinya kami akan merumuskan alternatif yang efektif,” pungkasnya.

 

NGO Sayangkan Program Terhenti

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor kesehatan menjadi isu yang paling disorot oleh organisasi masyarakat sipil yang diundang oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemkab Jember. Sebab, hingga kini angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Jember masih cukup tinggi. Bahkan menjadi yang tertinggi di Jawa Timur.

Sebanyak 15 organisasi yang diundang ini khusus membahas isu sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Setiap lembaga yang hadir diminta memberikan usulan mengenai problem di bidang sosial yang nantinya akan menjadi pertimbangan dalam perumusan RPJMD.

Dalam pembahasan itu mencuat tingginya AKI/AKB di Jember salah satu penyumbangnya adalah tingginya angka pernikahan dini. Kasus kawin muda ini memiliki efek berantai. Tak hanya terhadap meningkatnya AKI/AKB. Tapi, juga kualitas ekonomi keluarga yang rendah serta tingginya angka perceraian.

“Pengaruhnya pada kesejahteraan ekonomi. Ini menjadi problem yang penting untuk diatasi,” ungkap Titin Suatinah dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, dalam forum yang berlangsung di salah satu ruang pertemuan Gedung Pemkab Jember, kemarin (19/5).

Tenaga Ahli Penyusun RPJMD Agung Dewantoro mengungkapkan, angka AKI/AKB yang terus naik mengindikasikan bahwa penanganan yang sudah dilakukan selama ini belum efektif. Dia menilai, kalau dilihat di lapangan, sebenarnya akses kesehatan bagi ibu hamil sudah terwadahi. Fasilitasnya juga sudah baik. Namun, jika angka kasusnya tetap naik, kata dia, ini menandakan selama ini penanganannya belum menyentuh ke masalah krusial. “Ada sesuatu yang belum terpotret,” ungkapnya.

Agung menjelaskan, sejatinya Dinas Kesehatan Jember telah mengantongi data by name by dress ibu hamil di kabupaten setempat. Namun, walaupun data sudah dikantongi, tetap tidak ada perubahan yang signifikan di masyarakat. “Kasusnya saja yang banyak. Tapi intervensinya tidak membuahkan hasil,” tuturnya.

Selanjutnya, Agung menegaskan bahwa SDGs ini merupakan pakem pembangunan berkelanjutan bagi daerah. Karena itu, adanya rapat dengar aspirasi dan pendapat para penggerak masyarakat sipil itu diharapkan bisa menemukan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.

Agung menargetkan, draf RPJMD akan rampung dalam waktu dekat ini. “Yang jelas, program-program itu menjadi masalah prioritas. Nantinya kami akan merumuskan alternatif yang efektif,” pungkasnya.

 

NGO Sayangkan Program Terhenti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/