Dewan Sorot Kinerja Dispenduk

WAWAN DWI/RADAR JEMBER JADI PERHATIAN: Usai paripurna, beberapa anggota DRPD langsung mendatangi Kepala Dispendukcapil Sri Wahyuniati menanyakan kinerja dinas yang dipimpinnya. Sri Wahyuniati saat berdiri menjawab pertanyaan Sukarso anggota komisi D fraksi PPP.

RADARJEMBER.ID – – Sejumlah fraksi di DPRD Jember menyoroti kinerja dinas kependudukan dan pencatatan sipil (dispendukcapil) yang dinilai amburadul. Setidaknya, ada empat fraksi yang menilai miring kinerja dispendukcapil tersebut. Di antaranya Fraksi Kesejahteraan Sosial, Fraksi Kebangkitan Bangsa, Fraksi PDIP, dan Fraksi Hanura-Demokrat (Harkat).

IKLAN

Melalui juru bicara masing-masing, mayoritas fraksi ini menilai, pelayanan di dispenduk masih kurang efektif dan efisien. Ini terindikasi dari panjangnya antrean warga yang mengurus administrasi kependudukan (adminduk). Akibatnya, jumlah kendaraan ikut membeludak hingga mengganggu arus lalulintas di Jalan Jawa. Karena kendaraan yang mayoritas sepeda motor itu sampai parkir di badan jalan.

Juru Bicara Fraksi Harkat Anang Murwanto mengatakan, antrean panjang menjadi salah satu indikasi ada sesuatu yang belum efektif dan efisien dalam kinerja dispenduk. Belum lagi masa kepengurusan adminduk yang dikeluhkan cukup lama. Padahal, kata dia, adminduk menjadi ujung tombak kehidupan di masyarakat. “Ada apa di dispenduk? Mohon penjelasan dari Ibu Bupati,” tuturnya.

Menjawab hal itu, Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief menjelaskan, panjangnya antrean itu karena Gerakan Indonesia Sadar Adminduk (GISA) yang diluncurkan bupati 18 Agustus lalu berhasil. Indikasinya, banyak masyarakat yang mengurus sendiri adminduk mereka ke kantor dispendukcapil, tanpa melalui calo atau perantara.

Selain itu, program Semedi (secepat-cepatnya jadi) juga disebutkan menambah minat masyarakat mengurus adminduk. Karena tak usah menunggu lama, hanya hitungan menit kebutuhan adminduk warga langsung bisa tercetak saat itu juga. Apakah KK, KTP elektronik, akta kelahiran, maupun Kartu Identitas Anak (KIA). “Semuanya dilayani dengan cepat. Durasi waktunya mulai satu hingga dua belas menit. Tergantung jenis layanan yang diberikan,” jelas Muqit.

Dia mencontohkan, untuk layanan pencetakan KTP Elektronik dispendukcapil menyediakan tiga loket, yang masing-masing loket hanya memerlukan waktu lima menit untuk pencetakan tersebut. Tercepat, adalah layanan yang diberikan terhadap warga yang mengurus KIA. Layanan ini, petugas hanya butuh waktu satu menit saja. Sedangkan terlama, pengurusan surat perpindahan penduduk, serta perekaman KTP elektronik yang masing-masing memakan waktu hingga 12 menit. Ini membantah pernyataan sebelumnya yang menilai dispendukcapil tidak efektif dan efisien melayani masyarakat.

Kendati layanan yang diberikan sudah cukup singkat, namun tingginya antusiasme masyarakat mengurus adminduk menjadi tantangan tersendiri. Sehingga wajar jika antrean sampai berjubel. Berdasarkan pencatatan dispendukcapil, selama satu periode 18 Agustus hingga kemarin, total layanan yang diberikan mencapai 22.300 dokumen. Artinya, jika dibagi hari kerja efektif, tiap hari dispenduk melayani hingga 1.100 dokumen kependudukan. “Selama sepekan, enam hari petugas di dispendukcapil bekerja. Sejak dibuka, tak ada pemohon yang ditolak, selama persyaratan pemohon lengkap,” ujarnya.

Meski begitu, dispendukcapil juga tak tinggal diam melihat antrean warga yang membeludak. Untuk memfasilitasi, dispenduk menyediakan tenda di luar gedung sebagai tempat masyarakat menunggu giliran. Tak hanya itu, layanan serupa dengan sistem semedi juga dilaksanakan di Galeri Roxy Square. Bahkan layanan yang diberikan tak mengenal hari libur alias all day. Ini untuk mengurai antrean yang memanjang tersebut. “Kami juga membuka layanan on the spot di desa-desa, juga perekaman di sekolah sebanyak 18 SMA/SMK,” paparnya.

Sementara soal parkir kendaraan yang dinilai mengganggu arus lalu lintas, Wabup Muqit menjelaskan, problem itu lebih karena lokasi gedung dispendukcapil yang berada di kawasan jalur padat. Selain berdekatan dengan beberapa kampus, juga ada pertokoan, sekolah, perkantoran, serta pedagang kaki lima. Sehingga, seringkali terjadi kemacetan, terutama di jam-jam sibuk.

Reporter : Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :