alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Lalin Perkotaan Butuh Direvisi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemacetan di Kabupaten Jember tak hanya terjadi pada saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Sejumlah titik juga kerap mengalami antrean panjang pada hari biasa. Salah satunya di sepanjang Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kaliwates. Meski begitu, Ramadan dan menjelang Lebaran menjadi momen yang membuat arus lalu lintas di Jember semakin semrawut. Sebab, banyak pertokoan dan pusat perbelanjaan yang berada di pinggir jalan protokol. Apakah pembangunan pertokoan itu sebelumnya sudah sesuai dengan analisis dampak lalu lintas (andalalin)?

Kepala Unit (Kanit) Dikyasa Satlantas Polres Jember Heru Siswanto menuturkan, semua pembangunan pertokoan di Jember, khususnya di wilayah perkotaan, sudah melalui kajian andalalin lebih dulu. “Soalnya, itu menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi setiap pemilik usaha sebelum membangun tokonya masing-masing,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Seperti diketahui, undang-undang yang menetapkan tentang syarat-syarat pembangunan pertokoan guna mencegah terjadinya kemacetan tertera dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) RI Nomor 75 Tahun 2015. Pada Pasal 9 Ketentuan Umum dijelaskan, sebelumnya perlu mengadakan simulasi kinerja lalu lintas yang dilakukan terhadap andalalin. Simulasi tersebut terdiri atas kinerja lalin sebelum pembangunan, pada saat pembangunan, setelah pembangunan, hingga dalam jangka paling sedikit lima tahun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Para pemilik toko juga direkomendasikan untuk mengimplementasikan berbagai penanganan dampak kemacetan. Disebutkan seperti penyediaan fasilitas parkir berupa gedung parkir, penyediaan akses keluar/masuk untuk orang maupun kendaraan pribadi dan barang, penyediaan fasilitas bongkar muat, penataan sirkulasi lalin di dalam kawasan, serta penyediaan fasilitas penyeberangan.

Selain itu, pemerintah juga diimbau untuk melakukan pemantauan dan evaluasi. Salah satunya, terkait dengan implementasi dari penanganan dampak dan kinerja ruas jalan sekaligus akses keluar/masuk kendaraan. Meski sudah jelas, nyatanya kemacetan masih menjadi momok di jalur perkotaan Jember. Lalu, bagaimana peran pemerintah?

Heru menjelaskan, pihaknya kerap melakukan pemantauan jika terjadi macet. “Salah satunya, dengan memantau sirkulasi keluar/masuk kendaraan di Golden Market,” katanya.

Bahkan, secara detail, dia pernah menghitung berapa detik yang dibutuhkan para pegawai penyeberangan jalan di GM saat menghentikan kendaraan ketika mengeluarkan mobil dari parkiran ke jalan. “Satu mobil menghabiskan waktu sekitar 45 detik. Nah, kalau sepuluh mobil? Sudah memakan waktu sekitar 7 menitan, dan itu bukan waktu yang singkat,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya pernah memberikan solusi kepada pihak toko agar mengefektifkan waktu penyeberangan guna mengurangi risiko kemacetan. “Yakni dengan menahan beberapa mobil yang akan keluar. Minimal lima mobil sekali seberang,” imbuhnya. Dengan begitu, akan lebih mengefektifkan waktu tunggu jika dibandingkan dengan menyeberangkan satu per satu mobil. Apakah fakta di lapangan seperti itu?

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menerangkan, banyak faktor yang mengakibatkan Kota Jember menjadi penuh sesak. Salah satunya, terkait dengan tidak adanya lahan parkir yang mumpuni di sepanjang Jalan Trunojoyo. “Sebelumnya, kami sudah meminta para petugas dan pengembang untuk melakukan kajian andalalin,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember. Terutama para pemilik toko di sepanjang Jalan Trunojoyo.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemacetan di Kabupaten Jember tak hanya terjadi pada saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Sejumlah titik juga kerap mengalami antrean panjang pada hari biasa. Salah satunya di sepanjang Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kaliwates. Meski begitu, Ramadan dan menjelang Lebaran menjadi momen yang membuat arus lalu lintas di Jember semakin semrawut. Sebab, banyak pertokoan dan pusat perbelanjaan yang berada di pinggir jalan protokol. Apakah pembangunan pertokoan itu sebelumnya sudah sesuai dengan analisis dampak lalu lintas (andalalin)?

Kepala Unit (Kanit) Dikyasa Satlantas Polres Jember Heru Siswanto menuturkan, semua pembangunan pertokoan di Jember, khususnya di wilayah perkotaan, sudah melalui kajian andalalin lebih dulu. “Soalnya, itu menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi setiap pemilik usaha sebelum membangun tokonya masing-masing,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Seperti diketahui, undang-undang yang menetapkan tentang syarat-syarat pembangunan pertokoan guna mencegah terjadinya kemacetan tertera dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) RI Nomor 75 Tahun 2015. Pada Pasal 9 Ketentuan Umum dijelaskan, sebelumnya perlu mengadakan simulasi kinerja lalu lintas yang dilakukan terhadap andalalin. Simulasi tersebut terdiri atas kinerja lalin sebelum pembangunan, pada saat pembangunan, setelah pembangunan, hingga dalam jangka paling sedikit lima tahun.

Para pemilik toko juga direkomendasikan untuk mengimplementasikan berbagai penanganan dampak kemacetan. Disebutkan seperti penyediaan fasilitas parkir berupa gedung parkir, penyediaan akses keluar/masuk untuk orang maupun kendaraan pribadi dan barang, penyediaan fasilitas bongkar muat, penataan sirkulasi lalin di dalam kawasan, serta penyediaan fasilitas penyeberangan.

Selain itu, pemerintah juga diimbau untuk melakukan pemantauan dan evaluasi. Salah satunya, terkait dengan implementasi dari penanganan dampak dan kinerja ruas jalan sekaligus akses keluar/masuk kendaraan. Meski sudah jelas, nyatanya kemacetan masih menjadi momok di jalur perkotaan Jember. Lalu, bagaimana peran pemerintah?

Heru menjelaskan, pihaknya kerap melakukan pemantauan jika terjadi macet. “Salah satunya, dengan memantau sirkulasi keluar/masuk kendaraan di Golden Market,” katanya.

Bahkan, secara detail, dia pernah menghitung berapa detik yang dibutuhkan para pegawai penyeberangan jalan di GM saat menghentikan kendaraan ketika mengeluarkan mobil dari parkiran ke jalan. “Satu mobil menghabiskan waktu sekitar 45 detik. Nah, kalau sepuluh mobil? Sudah memakan waktu sekitar 7 menitan, dan itu bukan waktu yang singkat,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya pernah memberikan solusi kepada pihak toko agar mengefektifkan waktu penyeberangan guna mengurangi risiko kemacetan. “Yakni dengan menahan beberapa mobil yang akan keluar. Minimal lima mobil sekali seberang,” imbuhnya. Dengan begitu, akan lebih mengefektifkan waktu tunggu jika dibandingkan dengan menyeberangkan satu per satu mobil. Apakah fakta di lapangan seperti itu?

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menerangkan, banyak faktor yang mengakibatkan Kota Jember menjadi penuh sesak. Salah satunya, terkait dengan tidak adanya lahan parkir yang mumpuni di sepanjang Jalan Trunojoyo. “Sebelumnya, kami sudah meminta para petugas dan pengembang untuk melakukan kajian andalalin,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember. Terutama para pemilik toko di sepanjang Jalan Trunojoyo.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemacetan di Kabupaten Jember tak hanya terjadi pada saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Sejumlah titik juga kerap mengalami antrean panjang pada hari biasa. Salah satunya di sepanjang Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kaliwates. Meski begitu, Ramadan dan menjelang Lebaran menjadi momen yang membuat arus lalu lintas di Jember semakin semrawut. Sebab, banyak pertokoan dan pusat perbelanjaan yang berada di pinggir jalan protokol. Apakah pembangunan pertokoan itu sebelumnya sudah sesuai dengan analisis dampak lalu lintas (andalalin)?

Kepala Unit (Kanit) Dikyasa Satlantas Polres Jember Heru Siswanto menuturkan, semua pembangunan pertokoan di Jember, khususnya di wilayah perkotaan, sudah melalui kajian andalalin lebih dulu. “Soalnya, itu menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi setiap pemilik usaha sebelum membangun tokonya masing-masing,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Seperti diketahui, undang-undang yang menetapkan tentang syarat-syarat pembangunan pertokoan guna mencegah terjadinya kemacetan tertera dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) RI Nomor 75 Tahun 2015. Pada Pasal 9 Ketentuan Umum dijelaskan, sebelumnya perlu mengadakan simulasi kinerja lalu lintas yang dilakukan terhadap andalalin. Simulasi tersebut terdiri atas kinerja lalin sebelum pembangunan, pada saat pembangunan, setelah pembangunan, hingga dalam jangka paling sedikit lima tahun.

Para pemilik toko juga direkomendasikan untuk mengimplementasikan berbagai penanganan dampak kemacetan. Disebutkan seperti penyediaan fasilitas parkir berupa gedung parkir, penyediaan akses keluar/masuk untuk orang maupun kendaraan pribadi dan barang, penyediaan fasilitas bongkar muat, penataan sirkulasi lalin di dalam kawasan, serta penyediaan fasilitas penyeberangan.

Selain itu, pemerintah juga diimbau untuk melakukan pemantauan dan evaluasi. Salah satunya, terkait dengan implementasi dari penanganan dampak dan kinerja ruas jalan sekaligus akses keluar/masuk kendaraan. Meski sudah jelas, nyatanya kemacetan masih menjadi momok di jalur perkotaan Jember. Lalu, bagaimana peran pemerintah?

Heru menjelaskan, pihaknya kerap melakukan pemantauan jika terjadi macet. “Salah satunya, dengan memantau sirkulasi keluar/masuk kendaraan di Golden Market,” katanya.

Bahkan, secara detail, dia pernah menghitung berapa detik yang dibutuhkan para pegawai penyeberangan jalan di GM saat menghentikan kendaraan ketika mengeluarkan mobil dari parkiran ke jalan. “Satu mobil menghabiskan waktu sekitar 45 detik. Nah, kalau sepuluh mobil? Sudah memakan waktu sekitar 7 menitan, dan itu bukan waktu yang singkat,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya pernah memberikan solusi kepada pihak toko agar mengefektifkan waktu penyeberangan guna mengurangi risiko kemacetan. “Yakni dengan menahan beberapa mobil yang akan keluar. Minimal lima mobil sekali seberang,” imbuhnya. Dengan begitu, akan lebih mengefektifkan waktu tunggu jika dibandingkan dengan menyeberangkan satu per satu mobil. Apakah fakta di lapangan seperti itu?

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menerangkan, banyak faktor yang mengakibatkan Kota Jember menjadi penuh sesak. Salah satunya, terkait dengan tidak adanya lahan parkir yang mumpuni di sepanjang Jalan Trunojoyo. “Sebelumnya, kami sudah meminta para petugas dan pengembang untuk melakukan kajian andalalin,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember. Terutama para pemilik toko di sepanjang Jalan Trunojoyo.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/