alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jember Butuh Rumah Aman

Untuk Lindungi Korban Kekerasan Seksual

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan yang menimpa salah seorang dosen dan dilakukan oleh petinggi kampus itu menandakan bahwa Jember telah darurat kekerasan seksual. Sebab, telah menimpa korban dari berbagai kalangan. Pelakunya juga orang-orang terpelajar, serta memiliki kekuasaan. Untuk itu, butuh perlindungan lebih terhadap para korban agar mereka berani bersuara dan merasa aman.

Salah satu sarana yang dapat mendukung perlindungan terhadap para korban pelecehan seksual adalah rumah aman. Sebuah fasilitas yang disediakan pemerintah dengan tenaga terlatih mendampingi korban. Namun, hingga saat ini, Jember masih belum memiliki rumah aman tersebut. “Padahal rumah aman itu sangat penting untuk upaya pendampingan terhadap korban,” kata Ardi Pujo Wibowo, anggota Komisi D DPRD Jember, yang salah satu bidangnya tentang perempuan dan anak.

Menurut dia, kebanyakan korban pelecehan seksual takut menceritakan apa yang dialaminya. Hal itu terjadi karena psikologi korban menganggap yang terjadi merupakan sebuah aib. Akibatnya, mereka tidak berani membuka kasus itu kepada orang lain. “Kalau di Jember ada rumah aman, maka bisa menjadi pusat pendampingan secara total bagi para korban,” ulasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ardi menjelaskan, Komisi D selama ini terus melakukan komunikasi dan diskusi mengenai penanganan korban pelecehan seksual dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember, termasuk dengan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jember. “Kami terus melakukan diskusi-diskusi. Dari semua kasus, pemulihan psikologi tetap penting. Karena ketakutan korban yang mengalaminya, psikologi mereka menganggap itu aib. Sehingga tidak berani membuka,” ucapnya.

Dengan sarana rumah aman itu, kata dia, mereka yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual akan lebih berani dan terbuka. Apalagi, jika korban masih muda atau anak-anak. “Ini yang harus dipecahkan bersama. Dan rumah aman sangat penting sebagai sarana pendukung pendampingan agar maksimal,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan yang menimpa salah seorang dosen dan dilakukan oleh petinggi kampus itu menandakan bahwa Jember telah darurat kekerasan seksual. Sebab, telah menimpa korban dari berbagai kalangan. Pelakunya juga orang-orang terpelajar, serta memiliki kekuasaan. Untuk itu, butuh perlindungan lebih terhadap para korban agar mereka berani bersuara dan merasa aman.

Salah satu sarana yang dapat mendukung perlindungan terhadap para korban pelecehan seksual adalah rumah aman. Sebuah fasilitas yang disediakan pemerintah dengan tenaga terlatih mendampingi korban. Namun, hingga saat ini, Jember masih belum memiliki rumah aman tersebut. “Padahal rumah aman itu sangat penting untuk upaya pendampingan terhadap korban,” kata Ardi Pujo Wibowo, anggota Komisi D DPRD Jember, yang salah satu bidangnya tentang perempuan dan anak.

Menurut dia, kebanyakan korban pelecehan seksual takut menceritakan apa yang dialaminya. Hal itu terjadi karena psikologi korban menganggap yang terjadi merupakan sebuah aib. Akibatnya, mereka tidak berani membuka kasus itu kepada orang lain. “Kalau di Jember ada rumah aman, maka bisa menjadi pusat pendampingan secara total bagi para korban,” ulasnya.

Ardi menjelaskan, Komisi D selama ini terus melakukan komunikasi dan diskusi mengenai penanganan korban pelecehan seksual dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember, termasuk dengan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jember. “Kami terus melakukan diskusi-diskusi. Dari semua kasus, pemulihan psikologi tetap penting. Karena ketakutan korban yang mengalaminya, psikologi mereka menganggap itu aib. Sehingga tidak berani membuka,” ucapnya.

Dengan sarana rumah aman itu, kata dia, mereka yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual akan lebih berani dan terbuka. Apalagi, jika korban masih muda atau anak-anak. “Ini yang harus dipecahkan bersama. Dan rumah aman sangat penting sebagai sarana pendukung pendampingan agar maksimal,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan yang menimpa salah seorang dosen dan dilakukan oleh petinggi kampus itu menandakan bahwa Jember telah darurat kekerasan seksual. Sebab, telah menimpa korban dari berbagai kalangan. Pelakunya juga orang-orang terpelajar, serta memiliki kekuasaan. Untuk itu, butuh perlindungan lebih terhadap para korban agar mereka berani bersuara dan merasa aman.

Salah satu sarana yang dapat mendukung perlindungan terhadap para korban pelecehan seksual adalah rumah aman. Sebuah fasilitas yang disediakan pemerintah dengan tenaga terlatih mendampingi korban. Namun, hingga saat ini, Jember masih belum memiliki rumah aman tersebut. “Padahal rumah aman itu sangat penting untuk upaya pendampingan terhadap korban,” kata Ardi Pujo Wibowo, anggota Komisi D DPRD Jember, yang salah satu bidangnya tentang perempuan dan anak.

Menurut dia, kebanyakan korban pelecehan seksual takut menceritakan apa yang dialaminya. Hal itu terjadi karena psikologi korban menganggap yang terjadi merupakan sebuah aib. Akibatnya, mereka tidak berani membuka kasus itu kepada orang lain. “Kalau di Jember ada rumah aman, maka bisa menjadi pusat pendampingan secara total bagi para korban,” ulasnya.

Ardi menjelaskan, Komisi D selama ini terus melakukan komunikasi dan diskusi mengenai penanganan korban pelecehan seksual dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember, termasuk dengan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jember. “Kami terus melakukan diskusi-diskusi. Dari semua kasus, pemulihan psikologi tetap penting. Karena ketakutan korban yang mengalaminya, psikologi mereka menganggap itu aib. Sehingga tidak berani membuka,” ucapnya.

Dengan sarana rumah aman itu, kata dia, mereka yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual akan lebih berani dan terbuka. Apalagi, jika korban masih muda atau anak-anak. “Ini yang harus dipecahkan bersama. Dan rumah aman sangat penting sebagai sarana pendukung pendampingan agar maksimal,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/