alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Timbunan Pelampung Masih Menggunung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masih ingat dengan proyek pelampung nelayan tahun 2018 yang di-branding tahun 2019 lalu? Lebih dari separuh pelampung yang dibeli Pemkab Jember kala itu, hingga saat ini belum terdistribusi kepada nelayan. Sampai kemarin, alat keselamatan diri itu tetap menggunung di Aula Joko Tole, Jalan Trunojoyo, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates.

Anggaran pengadaan dan branding pelampung ini dulunya mencapai Rp 6,1 miliar. Sebuah angka yang cukup fantastis. Namun, lantaran perencanaan yang tidak matang, program itu gagal. Pelampung tidak termanfaatkan dengan baik.

Pengadaan rompi apung ini dulunya mencapai 55 ribu pelampung dengan dana Rp 4,4 miliar. Sementara, branding sebesar Rp 1,7 miliar. Sehingga total seluruhnya Rp 6,1 miliar. “Dari 55 ribu pelampung, yang terdistribusikan tidak sampai 20 ribu pelampung,” kata David Handoko Seto, Ketua Komisi C DPRD Jember, ketika mendatangi aula yang kini menjadi gudang tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi B Siswono menyebut, program pengadaan pelampung merupakan program yang tidak terencana dengan baik. Buktinya, pelampung tidak tersalurkan seluruhnya. “Sudah berapa tahun sejak 2018, pelampungnya masih ada,” katanya.

Program-program gagal di masa lalu, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi agar ke depan tidak terulang kembali. “Sudah cukup membuat program tanpa perencanaan yang jelas. Kalau emas ditimbun sejak 2018 pasti sekarang mahal. Ini pelampung, bisa jadi sampah kalau rusak,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masih ingat dengan proyek pelampung nelayan tahun 2018 yang di-branding tahun 2019 lalu? Lebih dari separuh pelampung yang dibeli Pemkab Jember kala itu, hingga saat ini belum terdistribusi kepada nelayan. Sampai kemarin, alat keselamatan diri itu tetap menggunung di Aula Joko Tole, Jalan Trunojoyo, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates.

Anggaran pengadaan dan branding pelampung ini dulunya mencapai Rp 6,1 miliar. Sebuah angka yang cukup fantastis. Namun, lantaran perencanaan yang tidak matang, program itu gagal. Pelampung tidak termanfaatkan dengan baik.

Pengadaan rompi apung ini dulunya mencapai 55 ribu pelampung dengan dana Rp 4,4 miliar. Sementara, branding sebesar Rp 1,7 miliar. Sehingga total seluruhnya Rp 6,1 miliar. “Dari 55 ribu pelampung, yang terdistribusikan tidak sampai 20 ribu pelampung,” kata David Handoko Seto, Ketua Komisi C DPRD Jember, ketika mendatangi aula yang kini menjadi gudang tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi B Siswono menyebut, program pengadaan pelampung merupakan program yang tidak terencana dengan baik. Buktinya, pelampung tidak tersalurkan seluruhnya. “Sudah berapa tahun sejak 2018, pelampungnya masih ada,” katanya.

Program-program gagal di masa lalu, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi agar ke depan tidak terulang kembali. “Sudah cukup membuat program tanpa perencanaan yang jelas. Kalau emas ditimbun sejak 2018 pasti sekarang mahal. Ini pelampung, bisa jadi sampah kalau rusak,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masih ingat dengan proyek pelampung nelayan tahun 2018 yang di-branding tahun 2019 lalu? Lebih dari separuh pelampung yang dibeli Pemkab Jember kala itu, hingga saat ini belum terdistribusi kepada nelayan. Sampai kemarin, alat keselamatan diri itu tetap menggunung di Aula Joko Tole, Jalan Trunojoyo, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates.

Anggaran pengadaan dan branding pelampung ini dulunya mencapai Rp 6,1 miliar. Sebuah angka yang cukup fantastis. Namun, lantaran perencanaan yang tidak matang, program itu gagal. Pelampung tidak termanfaatkan dengan baik.

Pengadaan rompi apung ini dulunya mencapai 55 ribu pelampung dengan dana Rp 4,4 miliar. Sementara, branding sebesar Rp 1,7 miliar. Sehingga total seluruhnya Rp 6,1 miliar. “Dari 55 ribu pelampung, yang terdistribusikan tidak sampai 20 ribu pelampung,” kata David Handoko Seto, Ketua Komisi C DPRD Jember, ketika mendatangi aula yang kini menjadi gudang tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi B Siswono menyebut, program pengadaan pelampung merupakan program yang tidak terencana dengan baik. Buktinya, pelampung tidak tersalurkan seluruhnya. “Sudah berapa tahun sejak 2018, pelampungnya masih ada,” katanya.

Program-program gagal di masa lalu, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi agar ke depan tidak terulang kembali. “Sudah cukup membuat program tanpa perencanaan yang jelas. Kalau emas ditimbun sejak 2018 pasti sekarang mahal. Ini pelampung, bisa jadi sampah kalau rusak,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/