alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Maling Dana Desa di Jember Tahun 2009, Baru di Vonis Sekarang

Mantan Kades Paseban Diganjar Penjara

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Mantan kepala Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Sunanjar, harus memulai rutinitas baru di balik jeruji besi Lapas Kelas II A Jember. Hal itu menyusul setelah Pengadilan Tinggi Jawa Timur memutuskan eksekusi kepada terdakwa karena terbukti melakukan korupsi pada tahun 2009 silam.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Zullikar Tanjung mengatakan, surat putusan eksekusi Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya turun awal September kemarin. Pihaknya kemudian mengirimkan panggilan pertama terhadap Sunanjar. “Panggilan pertama, yang bersangkutan tidak datang. Datang saat panggilan kedua,” kata Zullikar. Saat itulah, mantan kades Paseban itu digelandang ke lapas.

Sunanjar pada 2009 lalu tersandung kasus korupsi pengelolaan alokasi dana desa (ADD) sebesar Rp 140 juta. Anggaran itu diketahui tidak digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, terpidana tidak melibatkan tim pelaksana desa (TPD) dalam pengerjaan proyek. Saat itu, Sunanjar mengerjakan proyek ADD secara mandiri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Zullikar menyebut, berdasar bukti laporan pertanggungjawaban, anggaran yang bisa dipertanggungjawabkan sebesar Rp 133 juta lebih. Sementara, Sunanjar tidak bisa membuktikan dana sebesar Rp 6,3 juta. Tak hanya itu, Sunanjar juga terbukti melakukan perbuatan pidana berupa pengerjaan proyek fiktif dan penggelembungan anggaran kegiatan. Akibatnya, negara mengalami kerugian senilai Rp 54,3 juta. Total kerugian seluruhnya sesuai hasil audit BPKP Perwakilan Jawa Timur saat itu mencapai Rp 60 juta.

“Saat ditetapkan sebagai tersangka, Sunanjar menitipkan uang pengembalian kerugian keuangan negara sebesar Rp 60 juta. Dalam persidangan, kerugian negara menjadi lebih Rp 51 juta. Sehingga ada pengembalian sebesar lebih Rp 8 juta,” jelas pria yang pernah menjabat Kajari Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, itu.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Mantan kepala Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Sunanjar, harus memulai rutinitas baru di balik jeruji besi Lapas Kelas II A Jember. Hal itu menyusul setelah Pengadilan Tinggi Jawa Timur memutuskan eksekusi kepada terdakwa karena terbukti melakukan korupsi pada tahun 2009 silam.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Zullikar Tanjung mengatakan, surat putusan eksekusi Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya turun awal September kemarin. Pihaknya kemudian mengirimkan panggilan pertama terhadap Sunanjar. “Panggilan pertama, yang bersangkutan tidak datang. Datang saat panggilan kedua,” kata Zullikar. Saat itulah, mantan kades Paseban itu digelandang ke lapas.

Sunanjar pada 2009 lalu tersandung kasus korupsi pengelolaan alokasi dana desa (ADD) sebesar Rp 140 juta. Anggaran itu diketahui tidak digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, terpidana tidak melibatkan tim pelaksana desa (TPD) dalam pengerjaan proyek. Saat itu, Sunanjar mengerjakan proyek ADD secara mandiri.

Zullikar menyebut, berdasar bukti laporan pertanggungjawaban, anggaran yang bisa dipertanggungjawabkan sebesar Rp 133 juta lebih. Sementara, Sunanjar tidak bisa membuktikan dana sebesar Rp 6,3 juta. Tak hanya itu, Sunanjar juga terbukti melakukan perbuatan pidana berupa pengerjaan proyek fiktif dan penggelembungan anggaran kegiatan. Akibatnya, negara mengalami kerugian senilai Rp 54,3 juta. Total kerugian seluruhnya sesuai hasil audit BPKP Perwakilan Jawa Timur saat itu mencapai Rp 60 juta.

“Saat ditetapkan sebagai tersangka, Sunanjar menitipkan uang pengembalian kerugian keuangan negara sebesar Rp 60 juta. Dalam persidangan, kerugian negara menjadi lebih Rp 51 juta. Sehingga ada pengembalian sebesar lebih Rp 8 juta,” jelas pria yang pernah menjabat Kajari Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, itu.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Mantan kepala Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Sunanjar, harus memulai rutinitas baru di balik jeruji besi Lapas Kelas II A Jember. Hal itu menyusul setelah Pengadilan Tinggi Jawa Timur memutuskan eksekusi kepada terdakwa karena terbukti melakukan korupsi pada tahun 2009 silam.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Zullikar Tanjung mengatakan, surat putusan eksekusi Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya turun awal September kemarin. Pihaknya kemudian mengirimkan panggilan pertama terhadap Sunanjar. “Panggilan pertama, yang bersangkutan tidak datang. Datang saat panggilan kedua,” kata Zullikar. Saat itulah, mantan kades Paseban itu digelandang ke lapas.

Sunanjar pada 2009 lalu tersandung kasus korupsi pengelolaan alokasi dana desa (ADD) sebesar Rp 140 juta. Anggaran itu diketahui tidak digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, terpidana tidak melibatkan tim pelaksana desa (TPD) dalam pengerjaan proyek. Saat itu, Sunanjar mengerjakan proyek ADD secara mandiri.

Zullikar menyebut, berdasar bukti laporan pertanggungjawaban, anggaran yang bisa dipertanggungjawabkan sebesar Rp 133 juta lebih. Sementara, Sunanjar tidak bisa membuktikan dana sebesar Rp 6,3 juta. Tak hanya itu, Sunanjar juga terbukti melakukan perbuatan pidana berupa pengerjaan proyek fiktif dan penggelembungan anggaran kegiatan. Akibatnya, negara mengalami kerugian senilai Rp 54,3 juta. Total kerugian seluruhnya sesuai hasil audit BPKP Perwakilan Jawa Timur saat itu mencapai Rp 60 juta.

“Saat ditetapkan sebagai tersangka, Sunanjar menitipkan uang pengembalian kerugian keuangan negara sebesar Rp 60 juta. Dalam persidangan, kerugian negara menjadi lebih Rp 51 juta. Sehingga ada pengembalian sebesar lebih Rp 8 juta,” jelas pria yang pernah menjabat Kajari Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/