alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Perketat Pelaksanaan Pendewasaan Usia Nikah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suburnya praktik perkawinan dini di Jember perlu menjadi catatan serius pemerintah. Sebab, pernikahan usia muda disebut-sebut menjadi penyumbang terbesar angka perceraian, sekaligus pemicu keretakan rumah tangga. Menikah dini juga menyumbang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, serta angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB).

Dalam catatan Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Jember 2020 lalu, terdapat 402 laki-laki menikah dini di usia kurang dari 19 tahun. Dan sebanyak 664 perempuan menikah di umur kurang dari 19 tahun. Mereka melangsungkan pernikahan setelah permohonan dispensasi kawin dikabulkan pengadilan agama.

Kusno, salah seorang penghulu madya di Kecamatan Mayang, mengatakan, upaya menekan angka nikah muda itu perlu dimulai dari skala terkecil, yakni keluarga. Sebab, hal itu dinilainya lebih efektif.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya sendiri di Kecamatan Mayang melibatkan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) dan tokoh masyarakat setempat untuk memberikan edukasi, sekaligus layanan seputar pernikahan. “Tujuannya sama. Bagaimana menekan perkawinan di bawah umur dan perkawinan yang tidak tercatat atau siri,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suburnya praktik perkawinan dini di Jember perlu menjadi catatan serius pemerintah. Sebab, pernikahan usia muda disebut-sebut menjadi penyumbang terbesar angka perceraian, sekaligus pemicu keretakan rumah tangga. Menikah dini juga menyumbang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, serta angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB).

Dalam catatan Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Jember 2020 lalu, terdapat 402 laki-laki menikah dini di usia kurang dari 19 tahun. Dan sebanyak 664 perempuan menikah di umur kurang dari 19 tahun. Mereka melangsungkan pernikahan setelah permohonan dispensasi kawin dikabulkan pengadilan agama.

Kusno, salah seorang penghulu madya di Kecamatan Mayang, mengatakan, upaya menekan angka nikah muda itu perlu dimulai dari skala terkecil, yakni keluarga. Sebab, hal itu dinilainya lebih efektif.

Pihaknya sendiri di Kecamatan Mayang melibatkan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) dan tokoh masyarakat setempat untuk memberikan edukasi, sekaligus layanan seputar pernikahan. “Tujuannya sama. Bagaimana menekan perkawinan di bawah umur dan perkawinan yang tidak tercatat atau siri,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suburnya praktik perkawinan dini di Jember perlu menjadi catatan serius pemerintah. Sebab, pernikahan usia muda disebut-sebut menjadi penyumbang terbesar angka perceraian, sekaligus pemicu keretakan rumah tangga. Menikah dini juga menyumbang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, serta angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB).

Dalam catatan Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Jember 2020 lalu, terdapat 402 laki-laki menikah dini di usia kurang dari 19 tahun. Dan sebanyak 664 perempuan menikah di umur kurang dari 19 tahun. Mereka melangsungkan pernikahan setelah permohonan dispensasi kawin dikabulkan pengadilan agama.

Kusno, salah seorang penghulu madya di Kecamatan Mayang, mengatakan, upaya menekan angka nikah muda itu perlu dimulai dari skala terkecil, yakni keluarga. Sebab, hal itu dinilainya lebih efektif.

Pihaknya sendiri di Kecamatan Mayang melibatkan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) dan tokoh masyarakat setempat untuk memberikan edukasi, sekaligus layanan seputar pernikahan. “Tujuannya sama. Bagaimana menekan perkawinan di bawah umur dan perkawinan yang tidak tercatat atau siri,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/