alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Klaim Serius Terapkan Kebijakan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesan setengah hati larangan mudik bisa dilihat dari tidak dijaganya secara ketat semua jalur masuk dan keluar kota di pembatasan. Apalagi, Jember juga bukan merupakan kawasan yang menjadi titik pembatasan. Untuk itu, Pemkab Jember dan forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) diharapkan mengambil langkah tepat untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

Mengenai pembatasan pada Idul Fitri kali ini, Jawa Pos Radar Jember langsung menanyakan hal itu kepada Bupati Jember Hendy Siswanto. Bagaimana dengan adanya kesan pembatasan yang setengah hati tersebut?

Menanggapi hal itu, Hendy mengklaim, kebijakan pembatasan di Jember dilakukan dengan maksimal. Yaitu, dengan menjaga beberapa pintu masuk Jember. Meski tidak menjadi titik utama pembatasan, namun Jember akan melakukan penjagaan secara ketat. “Pembatasan ini justru serius. Kami maksimal melakukan pembatasan,” sanggahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam menjalankan kebijakan, menurut Hendy, tidak ada kata setengah hati. “Ukurannya tidak ada standar setengah. Jadi full,” katanya.

Hendy mencontohkan, adanya ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) yang masuk ke Jember. Dia menyebut, seluruhnya ditangani. “Semuanya di-swab, masing-masing di-swab dua kali,” ucapnya.

Ditanya jika ada warga yang akan masuk Jember di luar data PMI, menurut Hendy, yang ditemukan masuk juga akan di-swab. “Kalau ada orang luar masuk Jember, akan diambil dan harus melakukan isolasi mandiri,” tegasnya.

Menurutnya, di setiap desa ada petugas penanganan wabah korona. Merekalah yang nantinya akan mengontrol warga tersebut. “Kalau ada yang melanggar, akan diambil dan diisolasi di rumah penampungan. Sama dengan yang PMI,” jelasnya.

Hendy pun menegaskan, pembatasan wilayah tersebut akan dilakukan secara maksimal. Yaitu dengan berkoordinasi dan bekerja sama dengan TNI-Polri, serta satgas Covid-19. Larangan mudik pun akan terus diberlakukan sehingga orang yang akan mudik ke Jember belum bisa sejak tanggal 10 sampai 17 Mei mendatang.

Selain melakukan pembatasan pada masuk dan keluarnya warga, Pemkab Jember juga melakukan sejumlah kebijakan lain. Misalnya, pengetatan pusat perbelanjaan, penutupan tempat wisata, serta beberapa hal lain.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesan setengah hati larangan mudik bisa dilihat dari tidak dijaganya secara ketat semua jalur masuk dan keluar kota di pembatasan. Apalagi, Jember juga bukan merupakan kawasan yang menjadi titik pembatasan. Untuk itu, Pemkab Jember dan forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) diharapkan mengambil langkah tepat untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

Mengenai pembatasan pada Idul Fitri kali ini, Jawa Pos Radar Jember langsung menanyakan hal itu kepada Bupati Jember Hendy Siswanto. Bagaimana dengan adanya kesan pembatasan yang setengah hati tersebut?

Menanggapi hal itu, Hendy mengklaim, kebijakan pembatasan di Jember dilakukan dengan maksimal. Yaitu, dengan menjaga beberapa pintu masuk Jember. Meski tidak menjadi titik utama pembatasan, namun Jember akan melakukan penjagaan secara ketat. “Pembatasan ini justru serius. Kami maksimal melakukan pembatasan,” sanggahnya.

Dalam menjalankan kebijakan, menurut Hendy, tidak ada kata setengah hati. “Ukurannya tidak ada standar setengah. Jadi full,” katanya.

Hendy mencontohkan, adanya ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) yang masuk ke Jember. Dia menyebut, seluruhnya ditangani. “Semuanya di-swab, masing-masing di-swab dua kali,” ucapnya.

Ditanya jika ada warga yang akan masuk Jember di luar data PMI, menurut Hendy, yang ditemukan masuk juga akan di-swab. “Kalau ada orang luar masuk Jember, akan diambil dan harus melakukan isolasi mandiri,” tegasnya.

Menurutnya, di setiap desa ada petugas penanganan wabah korona. Merekalah yang nantinya akan mengontrol warga tersebut. “Kalau ada yang melanggar, akan diambil dan diisolasi di rumah penampungan. Sama dengan yang PMI,” jelasnya.

Hendy pun menegaskan, pembatasan wilayah tersebut akan dilakukan secara maksimal. Yaitu dengan berkoordinasi dan bekerja sama dengan TNI-Polri, serta satgas Covid-19. Larangan mudik pun akan terus diberlakukan sehingga orang yang akan mudik ke Jember belum bisa sejak tanggal 10 sampai 17 Mei mendatang.

Selain melakukan pembatasan pada masuk dan keluarnya warga, Pemkab Jember juga melakukan sejumlah kebijakan lain. Misalnya, pengetatan pusat perbelanjaan, penutupan tempat wisata, serta beberapa hal lain.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesan setengah hati larangan mudik bisa dilihat dari tidak dijaganya secara ketat semua jalur masuk dan keluar kota di pembatasan. Apalagi, Jember juga bukan merupakan kawasan yang menjadi titik pembatasan. Untuk itu, Pemkab Jember dan forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) diharapkan mengambil langkah tepat untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

Mengenai pembatasan pada Idul Fitri kali ini, Jawa Pos Radar Jember langsung menanyakan hal itu kepada Bupati Jember Hendy Siswanto. Bagaimana dengan adanya kesan pembatasan yang setengah hati tersebut?

Menanggapi hal itu, Hendy mengklaim, kebijakan pembatasan di Jember dilakukan dengan maksimal. Yaitu, dengan menjaga beberapa pintu masuk Jember. Meski tidak menjadi titik utama pembatasan, namun Jember akan melakukan penjagaan secara ketat. “Pembatasan ini justru serius. Kami maksimal melakukan pembatasan,” sanggahnya.

Dalam menjalankan kebijakan, menurut Hendy, tidak ada kata setengah hati. “Ukurannya tidak ada standar setengah. Jadi full,” katanya.

Hendy mencontohkan, adanya ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) yang masuk ke Jember. Dia menyebut, seluruhnya ditangani. “Semuanya di-swab, masing-masing di-swab dua kali,” ucapnya.

Ditanya jika ada warga yang akan masuk Jember di luar data PMI, menurut Hendy, yang ditemukan masuk juga akan di-swab. “Kalau ada orang luar masuk Jember, akan diambil dan harus melakukan isolasi mandiri,” tegasnya.

Menurutnya, di setiap desa ada petugas penanganan wabah korona. Merekalah yang nantinya akan mengontrol warga tersebut. “Kalau ada yang melanggar, akan diambil dan diisolasi di rumah penampungan. Sama dengan yang PMI,” jelasnya.

Hendy pun menegaskan, pembatasan wilayah tersebut akan dilakukan secara maksimal. Yaitu dengan berkoordinasi dan bekerja sama dengan TNI-Polri, serta satgas Covid-19. Larangan mudik pun akan terus diberlakukan sehingga orang yang akan mudik ke Jember belum bisa sejak tanggal 10 sampai 17 Mei mendatang.

Selain melakukan pembatasan pada masuk dan keluarnya warga, Pemkab Jember juga melakukan sejumlah kebijakan lain. Misalnya, pengetatan pusat perbelanjaan, penutupan tempat wisata, serta beberapa hal lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/