alexametrics
29.6 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Beras KJHS untuk ASN Tak Pernah Uji Lab di Bulog

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Jember sepertinya benar-benar menjadi korban bisnis beras yang dijual Koperasi Konsumen Jember Harmoni Sejahtera (KJHS). Setelah kualitas beras dinyatakan di bawah standar medium, kini beras tersebut diduga kuat belum diuji lab, namun telah diedarkan.

BACA JUGA : Dibuka Pendaftaran untuk Volunteer ASEAN Para Games 2022

Beras di bawah kualitas medium disampaikan sebelumnya oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang (PSMB) Jember. Kendati hasil lab lembaga yang mengantongi legalitas dari Komite Akreditasi Nasional itu sudah disodorkan, sejumlah supplier beras dari Koperasi KJHS mengelak. Salah satunya seperti disampaikan Ketua Koperasi KTNA Sejahtera, Sucipto.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut pria ini, dirinya tegas menolak jika ada yang mengklaim beras dari petani-petani itu kalah enak dibandingkan beras untuk warga miskin (raskin). “Saya tidak percaya sama sekali. Karena kami datangi semuanya ke teman-teman penyuplai. Kami lihat kualitasnya,” aku Sucipto.

Standar mutu beras medium sebagaimana diatur Permentan Nomor 31 Tahun 2017, ketentuannya telah jelas. Seperti derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen, beras kepala minimal 75 persen, butir patah maksimal 25 persen. Toleransi untuk total butir lainnya maksimal 5 persen, butir gabah maksimal 1 persen, dan benda lain maksimal 0,05 persen. Sementara, beras Koperasi KJHS yang dijual Rp 9 ribu per kilogram, berada di bawah indikator standar medium tersebut.

Sucipto kembali menegaskan, selama ini kualitas beras itu selalu terjaga dengan mengupayakan menjaga tingkat kemurnian, dengan mengeluarkan broken dan menirnya, serta tanpa pengoplosan. Sucipto bersikukuh, mustahil beras yang diproduksi oleh 9 penggiling, termasuk oleh dirinya, tidak memenuhi standar.

Bahkan beras dari kelompok penggilingannya diklaim hasilnya sudah dilakukan pengujian oleh Bulog. “Saya bersama Bulog sudah 15 tahun. Di Bulog laboratoriumnya lebih canggih. Beras diuji sampai PH. Karena begitu mengetahui ada hasil uji lab seperti itu, kami selaku petani merasa prihatin,” seru Sucipto.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Jember sepertinya benar-benar menjadi korban bisnis beras yang dijual Koperasi Konsumen Jember Harmoni Sejahtera (KJHS). Setelah kualitas beras dinyatakan di bawah standar medium, kini beras tersebut diduga kuat belum diuji lab, namun telah diedarkan.

BACA JUGA : Dibuka Pendaftaran untuk Volunteer ASEAN Para Games 2022

Beras di bawah kualitas medium disampaikan sebelumnya oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang (PSMB) Jember. Kendati hasil lab lembaga yang mengantongi legalitas dari Komite Akreditasi Nasional itu sudah disodorkan, sejumlah supplier beras dari Koperasi KJHS mengelak. Salah satunya seperti disampaikan Ketua Koperasi KTNA Sejahtera, Sucipto.

Menurut pria ini, dirinya tegas menolak jika ada yang mengklaim beras dari petani-petani itu kalah enak dibandingkan beras untuk warga miskin (raskin). “Saya tidak percaya sama sekali. Karena kami datangi semuanya ke teman-teman penyuplai. Kami lihat kualitasnya,” aku Sucipto.

Standar mutu beras medium sebagaimana diatur Permentan Nomor 31 Tahun 2017, ketentuannya telah jelas. Seperti derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen, beras kepala minimal 75 persen, butir patah maksimal 25 persen. Toleransi untuk total butir lainnya maksimal 5 persen, butir gabah maksimal 1 persen, dan benda lain maksimal 0,05 persen. Sementara, beras Koperasi KJHS yang dijual Rp 9 ribu per kilogram, berada di bawah indikator standar medium tersebut.

Sucipto kembali menegaskan, selama ini kualitas beras itu selalu terjaga dengan mengupayakan menjaga tingkat kemurnian, dengan mengeluarkan broken dan menirnya, serta tanpa pengoplosan. Sucipto bersikukuh, mustahil beras yang diproduksi oleh 9 penggiling, termasuk oleh dirinya, tidak memenuhi standar.

Bahkan beras dari kelompok penggilingannya diklaim hasilnya sudah dilakukan pengujian oleh Bulog. “Saya bersama Bulog sudah 15 tahun. Di Bulog laboratoriumnya lebih canggih. Beras diuji sampai PH. Karena begitu mengetahui ada hasil uji lab seperti itu, kami selaku petani merasa prihatin,” seru Sucipto.

SUMBERSARI, Radar Jember – Aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Jember sepertinya benar-benar menjadi korban bisnis beras yang dijual Koperasi Konsumen Jember Harmoni Sejahtera (KJHS). Setelah kualitas beras dinyatakan di bawah standar medium, kini beras tersebut diduga kuat belum diuji lab, namun telah diedarkan.

BACA JUGA : Dibuka Pendaftaran untuk Volunteer ASEAN Para Games 2022

Beras di bawah kualitas medium disampaikan sebelumnya oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang (PSMB) Jember. Kendati hasil lab lembaga yang mengantongi legalitas dari Komite Akreditasi Nasional itu sudah disodorkan, sejumlah supplier beras dari Koperasi KJHS mengelak. Salah satunya seperti disampaikan Ketua Koperasi KTNA Sejahtera, Sucipto.

Menurut pria ini, dirinya tegas menolak jika ada yang mengklaim beras dari petani-petani itu kalah enak dibandingkan beras untuk warga miskin (raskin). “Saya tidak percaya sama sekali. Karena kami datangi semuanya ke teman-teman penyuplai. Kami lihat kualitasnya,” aku Sucipto.

Standar mutu beras medium sebagaimana diatur Permentan Nomor 31 Tahun 2017, ketentuannya telah jelas. Seperti derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen, beras kepala minimal 75 persen, butir patah maksimal 25 persen. Toleransi untuk total butir lainnya maksimal 5 persen, butir gabah maksimal 1 persen, dan benda lain maksimal 0,05 persen. Sementara, beras Koperasi KJHS yang dijual Rp 9 ribu per kilogram, berada di bawah indikator standar medium tersebut.

Sucipto kembali menegaskan, selama ini kualitas beras itu selalu terjaga dengan mengupayakan menjaga tingkat kemurnian, dengan mengeluarkan broken dan menirnya, serta tanpa pengoplosan. Sucipto bersikukuh, mustahil beras yang diproduksi oleh 9 penggiling, termasuk oleh dirinya, tidak memenuhi standar.

Bahkan beras dari kelompok penggilingannya diklaim hasilnya sudah dilakukan pengujian oleh Bulog. “Saya bersama Bulog sudah 15 tahun. Di Bulog laboratoriumnya lebih canggih. Beras diuji sampai PH. Karena begitu mengetahui ada hasil uji lab seperti itu, kami selaku petani merasa prihatin,” seru Sucipto.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/