alexametrics
25.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Akses Wisata Jember Belum Dapat Solusi

Butuh Perawatan, Jalur Rusak dan Gelap

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perasaan waswas dirasakan Tatok Rahwono dan Agung Syahputra saat melintas di jalan menuju Pantai Papuma pada Sabtu malam sekitar pukul 19.00. Dengan mengendarai dua motor bersama satu kawan lain, mereka berencana untuk camping di pantai yang memiliki nama panjang Pasir Putih Malikan tersebut.

Tatok mengaku takut meski berangkat tak sendirian. Sebab, jalanan itu gelap gulita lantaran tak ada penerangan jalan. “Sebenarnya ada alternatif jalan lain, yang mudah dan terang,” papar pria yang berusia 25 tahun itu. Yakni melalui jalan Pantai Watu Ulo.

Sayangnya, warga Dusun Curah Tepas, Desa/Kecamatan Jenggawah, itu menambahkan bahwa pihaknya enggan melewati Pantai Watu Ulo lantaran harus mengeluarkan biaya ganda. “Kalau mau lewat Watu Ulo harus bayar tiket masuk, kan jadi dua kali meski hanya melintas,” paparnya. Terlebih, biayanya juga tak sedikit. Karena itu, mau tak mau, jalanan yang pernah ditakuti karena rawan begal itu harus dilewati.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, Agung Syahputra, warga Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, juga menyayangkan akses jalan yang penuh lubang. Akibatnya, dia harus pelan-pelan saat melintasinya di malam hari. “Ngeri, gelap, dan jalanannya rusak. Kalau ada apa-apa, jelas nggak bisa kabur. Pasrah,” canda pria berusia 23 tahun itu.

Keduanya berharap pemerintah mau perhatian dengan potensi alam yang dimiliki. Yang sebenarnya tak kalah jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga. Jika mau diseriusi, Jember bisa saja menjadi daerah wisata. Itu jika melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya, dengan melakukan perawatan akses jalan menuju wisata. Mengingat, banyak potensi wisata yang mampu menarik minat para wisatawan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perasaan waswas dirasakan Tatok Rahwono dan Agung Syahputra saat melintas di jalan menuju Pantai Papuma pada Sabtu malam sekitar pukul 19.00. Dengan mengendarai dua motor bersama satu kawan lain, mereka berencana untuk camping di pantai yang memiliki nama panjang Pasir Putih Malikan tersebut.

Tatok mengaku takut meski berangkat tak sendirian. Sebab, jalanan itu gelap gulita lantaran tak ada penerangan jalan. “Sebenarnya ada alternatif jalan lain, yang mudah dan terang,” papar pria yang berusia 25 tahun itu. Yakni melalui jalan Pantai Watu Ulo.

Sayangnya, warga Dusun Curah Tepas, Desa/Kecamatan Jenggawah, itu menambahkan bahwa pihaknya enggan melewati Pantai Watu Ulo lantaran harus mengeluarkan biaya ganda. “Kalau mau lewat Watu Ulo harus bayar tiket masuk, kan jadi dua kali meski hanya melintas,” paparnya. Terlebih, biayanya juga tak sedikit. Karena itu, mau tak mau, jalanan yang pernah ditakuti karena rawan begal itu harus dilewati.

Selain itu, Agung Syahputra, warga Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, juga menyayangkan akses jalan yang penuh lubang. Akibatnya, dia harus pelan-pelan saat melintasinya di malam hari. “Ngeri, gelap, dan jalanannya rusak. Kalau ada apa-apa, jelas nggak bisa kabur. Pasrah,” canda pria berusia 23 tahun itu.

Keduanya berharap pemerintah mau perhatian dengan potensi alam yang dimiliki. Yang sebenarnya tak kalah jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga. Jika mau diseriusi, Jember bisa saja menjadi daerah wisata. Itu jika melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya, dengan melakukan perawatan akses jalan menuju wisata. Mengingat, banyak potensi wisata yang mampu menarik minat para wisatawan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perasaan waswas dirasakan Tatok Rahwono dan Agung Syahputra saat melintas di jalan menuju Pantai Papuma pada Sabtu malam sekitar pukul 19.00. Dengan mengendarai dua motor bersama satu kawan lain, mereka berencana untuk camping di pantai yang memiliki nama panjang Pasir Putih Malikan tersebut.

Tatok mengaku takut meski berangkat tak sendirian. Sebab, jalanan itu gelap gulita lantaran tak ada penerangan jalan. “Sebenarnya ada alternatif jalan lain, yang mudah dan terang,” papar pria yang berusia 25 tahun itu. Yakni melalui jalan Pantai Watu Ulo.

Sayangnya, warga Dusun Curah Tepas, Desa/Kecamatan Jenggawah, itu menambahkan bahwa pihaknya enggan melewati Pantai Watu Ulo lantaran harus mengeluarkan biaya ganda. “Kalau mau lewat Watu Ulo harus bayar tiket masuk, kan jadi dua kali meski hanya melintas,” paparnya. Terlebih, biayanya juga tak sedikit. Karena itu, mau tak mau, jalanan yang pernah ditakuti karena rawan begal itu harus dilewati.

Selain itu, Agung Syahputra, warga Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, juga menyayangkan akses jalan yang penuh lubang. Akibatnya, dia harus pelan-pelan saat melintasinya di malam hari. “Ngeri, gelap, dan jalanannya rusak. Kalau ada apa-apa, jelas nggak bisa kabur. Pasrah,” canda pria berusia 23 tahun itu.

Keduanya berharap pemerintah mau perhatian dengan potensi alam yang dimiliki. Yang sebenarnya tak kalah jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga. Jika mau diseriusi, Jember bisa saja menjadi daerah wisata. Itu jika melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya, dengan melakukan perawatan akses jalan menuju wisata. Mengingat, banyak potensi wisata yang mampu menarik minat para wisatawan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/