alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

ASN Jember Jadi Korban Bisnis?

Beras dari Koperasi KJHS Di Bawah Standar Medium

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – DPRD Jember mulai menguliti kualitas beras yang diperdagangkan Koperasi Konsumen Jember Harmoni Sejahtera (KJHS). Hal itu menyusul telah keluarnya uji laboratorium dari UPT Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang (PSMB) Jember. Hasilnya, beras yang dibeli ASN di lingkungan Pemkab Jember memiliki kualitas di bawah standar medium.

BACA JUGA : Lagunya Viral Dinyanyikan Duta SO7, Atmojo Buat Single Semoga

Penguji mutu barang dari UPT PSMB Jember, Tristianto, menguraikan, sejak awal beras hendak diuji dalam kondisi masih tersegel. Ketika dilakukan pengujian hingga keluar hasilnya, dilakukan secara profesional. Tanpa keteledoran apalagi rekayasa.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Hasilnya memang demikian (terlampir, Red). Karena satu saja ada yang di bawah indikator, itu sudah tidak masuk standar medium,” beber Tristianto kala rapat dengar pendapat (RDP) di Ruang Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jember, kemarin.

Bahkan, dirinya memastikan, sampling hingga uji lab yang dilakukan oleh lembaga yang berkantor di Jalan Kalimantan, Jember, itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, pengujian dari lembaganya sudah diakui oleh lembaga pengujian nasional, sehingga hasilnya menjadi acuan atau standar nasional Indonesia atau SNI. “Pengujian di laboratorium kami terakreditasi dan diakui nasional. Hasilnya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tristianto.

Sejak awal DPRD sempat mencium aroma bisnis yang tidak sehat dari keberadaan Koperasi KJHS. Inisiatif dewan meminta pengujian itu untuk membuktikan kecurigaan tersebut sebagai langkah kontrol dewan selaku lembaga legislatif terhadap eksekutif. Kemudian, DPRD melalui Komisi B menyodorkan beras berlabel A, B, D, dan F, yang sebelumnya dibeli ASN dari Koperasi KJHS secara acak. Bahkan ada beberapa sampling sebelum diuji diketahui berkutu.

Hasil itu kemudian semakin menguatkan indikasi bahwa mutu semua beras yang dijual oleh koperasi yang belum menempati kantor itu benar-benar di bawah standar medium. “Kami random sampling dari beras yang dibeli ASN. Tidak ada pengondisian sampel. Itu hasilnya sekarang, mutu tidak ada yang sesuai ketentuan beras medium,” sahut David Handoko Seto, Sekretaris Komisi B DPRD Jember.

Pengujian itu, kata David, dimaksudkan supaya memperoleh bukti untuk menghindari asumsi. Sebab, 25 ribu orang ASN berikut keluarganya mulai menjadi objek penjualan beras Koperasi KJHS. Terlebih, Pemerintah Kabupaten Jember telah menunjuk 9 penggilingan atau RMU (rice milling unit) untuk memproduksi berasnya. Adapun setiap kilogram beras dipatok dengan harga senilai Rp 9 ribu, yang merupakan standar harga beras medium.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – DPRD Jember mulai menguliti kualitas beras yang diperdagangkan Koperasi Konsumen Jember Harmoni Sejahtera (KJHS). Hal itu menyusul telah keluarnya uji laboratorium dari UPT Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang (PSMB) Jember. Hasilnya, beras yang dibeli ASN di lingkungan Pemkab Jember memiliki kualitas di bawah standar medium.

BACA JUGA : Lagunya Viral Dinyanyikan Duta SO7, Atmojo Buat Single Semoga

Penguji mutu barang dari UPT PSMB Jember, Tristianto, menguraikan, sejak awal beras hendak diuji dalam kondisi masih tersegel. Ketika dilakukan pengujian hingga keluar hasilnya, dilakukan secara profesional. Tanpa keteledoran apalagi rekayasa.

“Hasilnya memang demikian (terlampir, Red). Karena satu saja ada yang di bawah indikator, itu sudah tidak masuk standar medium,” beber Tristianto kala rapat dengar pendapat (RDP) di Ruang Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jember, kemarin.

Bahkan, dirinya memastikan, sampling hingga uji lab yang dilakukan oleh lembaga yang berkantor di Jalan Kalimantan, Jember, itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, pengujian dari lembaganya sudah diakui oleh lembaga pengujian nasional, sehingga hasilnya menjadi acuan atau standar nasional Indonesia atau SNI. “Pengujian di laboratorium kami terakreditasi dan diakui nasional. Hasilnya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tristianto.

Sejak awal DPRD sempat mencium aroma bisnis yang tidak sehat dari keberadaan Koperasi KJHS. Inisiatif dewan meminta pengujian itu untuk membuktikan kecurigaan tersebut sebagai langkah kontrol dewan selaku lembaga legislatif terhadap eksekutif. Kemudian, DPRD melalui Komisi B menyodorkan beras berlabel A, B, D, dan F, yang sebelumnya dibeli ASN dari Koperasi KJHS secara acak. Bahkan ada beberapa sampling sebelum diuji diketahui berkutu.

Hasil itu kemudian semakin menguatkan indikasi bahwa mutu semua beras yang dijual oleh koperasi yang belum menempati kantor itu benar-benar di bawah standar medium. “Kami random sampling dari beras yang dibeli ASN. Tidak ada pengondisian sampel. Itu hasilnya sekarang, mutu tidak ada yang sesuai ketentuan beras medium,” sahut David Handoko Seto, Sekretaris Komisi B DPRD Jember.

Pengujian itu, kata David, dimaksudkan supaya memperoleh bukti untuk menghindari asumsi. Sebab, 25 ribu orang ASN berikut keluarganya mulai menjadi objek penjualan beras Koperasi KJHS. Terlebih, Pemerintah Kabupaten Jember telah menunjuk 9 penggilingan atau RMU (rice milling unit) untuk memproduksi berasnya. Adapun setiap kilogram beras dipatok dengan harga senilai Rp 9 ribu, yang merupakan standar harga beras medium.

SUMBERSARI, Radar Jember – DPRD Jember mulai menguliti kualitas beras yang diperdagangkan Koperasi Konsumen Jember Harmoni Sejahtera (KJHS). Hal itu menyusul telah keluarnya uji laboratorium dari UPT Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang (PSMB) Jember. Hasilnya, beras yang dibeli ASN di lingkungan Pemkab Jember memiliki kualitas di bawah standar medium.

BACA JUGA : Lagunya Viral Dinyanyikan Duta SO7, Atmojo Buat Single Semoga

Penguji mutu barang dari UPT PSMB Jember, Tristianto, menguraikan, sejak awal beras hendak diuji dalam kondisi masih tersegel. Ketika dilakukan pengujian hingga keluar hasilnya, dilakukan secara profesional. Tanpa keteledoran apalagi rekayasa.

“Hasilnya memang demikian (terlampir, Red). Karena satu saja ada yang di bawah indikator, itu sudah tidak masuk standar medium,” beber Tristianto kala rapat dengar pendapat (RDP) di Ruang Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jember, kemarin.

Bahkan, dirinya memastikan, sampling hingga uji lab yang dilakukan oleh lembaga yang berkantor di Jalan Kalimantan, Jember, itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, pengujian dari lembaganya sudah diakui oleh lembaga pengujian nasional, sehingga hasilnya menjadi acuan atau standar nasional Indonesia atau SNI. “Pengujian di laboratorium kami terakreditasi dan diakui nasional. Hasilnya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tristianto.

Sejak awal DPRD sempat mencium aroma bisnis yang tidak sehat dari keberadaan Koperasi KJHS. Inisiatif dewan meminta pengujian itu untuk membuktikan kecurigaan tersebut sebagai langkah kontrol dewan selaku lembaga legislatif terhadap eksekutif. Kemudian, DPRD melalui Komisi B menyodorkan beras berlabel A, B, D, dan F, yang sebelumnya dibeli ASN dari Koperasi KJHS secara acak. Bahkan ada beberapa sampling sebelum diuji diketahui berkutu.

Hasil itu kemudian semakin menguatkan indikasi bahwa mutu semua beras yang dijual oleh koperasi yang belum menempati kantor itu benar-benar di bawah standar medium. “Kami random sampling dari beras yang dibeli ASN. Tidak ada pengondisian sampel. Itu hasilnya sekarang, mutu tidak ada yang sesuai ketentuan beras medium,” sahut David Handoko Seto, Sekretaris Komisi B DPRD Jember.

Pengujian itu, kata David, dimaksudkan supaya memperoleh bukti untuk menghindari asumsi. Sebab, 25 ribu orang ASN berikut keluarganya mulai menjadi objek penjualan beras Koperasi KJHS. Terlebih, Pemerintah Kabupaten Jember telah menunjuk 9 penggilingan atau RMU (rice milling unit) untuk memproduksi berasnya. Adapun setiap kilogram beras dipatok dengan harga senilai Rp 9 ribu, yang merupakan standar harga beras medium.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/