alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Isu Lingkungan Butuh Keterlibatan Pemerintah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isu kelestarian lingkungan masih menjadi sajian renyah kalangan pemerhati dan aktivis lingkungan. Terlebih di Jember, selama ini dalam beberapa catatan, isu lingkungan masih kerap mendulang perhatian publik hingga menyulut konflik warga lokal.

Sejumlah pemerhati dan aktivis lingkungan menilai, Jember memiliki sederet catatan mengenai isu lingkungan. Mulai dari isu tambang emas di Silo, Manggar di Wuluhan, pasir besi di Jember selatan, hingga soal tambak. “Kondisi alam Jember memang potensi dalam banyak hal. Tapi hemat saya, masyarakatnya masih bisa hidup berdampingan dengan lingkungan, tanpa merusaknya,” kata RZ Hakim, salah seorang narasumber diskusi isu lingkungan di salah satu kedai, Jalan Semeru, Sumbersari, belum lama ini.

Aktivis asal Kalisat ini berpandangan, adanya konflik yang kerap membenturkan warga lokal karena masih minim perhatian pemerintah. Senada dengan Hakim, aktivis lingkungan Wahyu Giri juga bersuara serupa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam forum diskusi dan bedah film yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jember itu, Wahyu lebih menyoroti ke upaya-upaya kecil yang bisa dilakukan para aktivis, pemerhati lingkungan, maupun pemerintah. Seperti melakukan penghijauan di sekitar rumah atau sejenisnya yang masih bisa dijangkau.

Pria yang juga sebagai guru ini mengakui, isu lingkungan di Jember bakal terus mendapat sorotan karena memang kondisi alamnya yang cukup menggiurkan investor. “Memang semuanya butuh keterlibatan atau komitmen pemerintah. Namun, kita sendiri bisa apa selain bersuara di jalan. Ya melakukan hal-hal kecil seperti yang saya sebut di awal itu,” tukasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isu kelestarian lingkungan masih menjadi sajian renyah kalangan pemerhati dan aktivis lingkungan. Terlebih di Jember, selama ini dalam beberapa catatan, isu lingkungan masih kerap mendulang perhatian publik hingga menyulut konflik warga lokal.

Sejumlah pemerhati dan aktivis lingkungan menilai, Jember memiliki sederet catatan mengenai isu lingkungan. Mulai dari isu tambang emas di Silo, Manggar di Wuluhan, pasir besi di Jember selatan, hingga soal tambak. “Kondisi alam Jember memang potensi dalam banyak hal. Tapi hemat saya, masyarakatnya masih bisa hidup berdampingan dengan lingkungan, tanpa merusaknya,” kata RZ Hakim, salah seorang narasumber diskusi isu lingkungan di salah satu kedai, Jalan Semeru, Sumbersari, belum lama ini.

Aktivis asal Kalisat ini berpandangan, adanya konflik yang kerap membenturkan warga lokal karena masih minim perhatian pemerintah. Senada dengan Hakim, aktivis lingkungan Wahyu Giri juga bersuara serupa.

Dalam forum diskusi dan bedah film yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jember itu, Wahyu lebih menyoroti ke upaya-upaya kecil yang bisa dilakukan para aktivis, pemerhati lingkungan, maupun pemerintah. Seperti melakukan penghijauan di sekitar rumah atau sejenisnya yang masih bisa dijangkau.

Pria yang juga sebagai guru ini mengakui, isu lingkungan di Jember bakal terus mendapat sorotan karena memang kondisi alamnya yang cukup menggiurkan investor. “Memang semuanya butuh keterlibatan atau komitmen pemerintah. Namun, kita sendiri bisa apa selain bersuara di jalan. Ya melakukan hal-hal kecil seperti yang saya sebut di awal itu,” tukasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isu kelestarian lingkungan masih menjadi sajian renyah kalangan pemerhati dan aktivis lingkungan. Terlebih di Jember, selama ini dalam beberapa catatan, isu lingkungan masih kerap mendulang perhatian publik hingga menyulut konflik warga lokal.

Sejumlah pemerhati dan aktivis lingkungan menilai, Jember memiliki sederet catatan mengenai isu lingkungan. Mulai dari isu tambang emas di Silo, Manggar di Wuluhan, pasir besi di Jember selatan, hingga soal tambak. “Kondisi alam Jember memang potensi dalam banyak hal. Tapi hemat saya, masyarakatnya masih bisa hidup berdampingan dengan lingkungan, tanpa merusaknya,” kata RZ Hakim, salah seorang narasumber diskusi isu lingkungan di salah satu kedai, Jalan Semeru, Sumbersari, belum lama ini.

Aktivis asal Kalisat ini berpandangan, adanya konflik yang kerap membenturkan warga lokal karena masih minim perhatian pemerintah. Senada dengan Hakim, aktivis lingkungan Wahyu Giri juga bersuara serupa.

Dalam forum diskusi dan bedah film yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jember itu, Wahyu lebih menyoroti ke upaya-upaya kecil yang bisa dilakukan para aktivis, pemerhati lingkungan, maupun pemerintah. Seperti melakukan penghijauan di sekitar rumah atau sejenisnya yang masih bisa dijangkau.

Pria yang juga sebagai guru ini mengakui, isu lingkungan di Jember bakal terus mendapat sorotan karena memang kondisi alamnya yang cukup menggiurkan investor. “Memang semuanya butuh keterlibatan atau komitmen pemerintah. Namun, kita sendiri bisa apa selain bersuara di jalan. Ya melakukan hal-hal kecil seperti yang saya sebut di awal itu,” tukasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/