Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Proses islamisasi di seluruh kawasan jazirah Arab telah usai sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW (di tahun 632 M) pada usia 63 tahun. Suku Quraisy di Makkah, suku yang sangat terpandang dari mana Nabi Muhammad SAW berasal, dan suku-suku Arab lainnya di seluruh kawasan jazirah Arab secara merata telah memeluk Islam. Dalam masa yang sangat singkat, dengan dinamika kekuatan yang luar biasa, Islam selanjutnya menyebar ke luar kawasan jazirah Arab.
Dari sejarah bisa kita pahami bahwa begitu Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira pada usia ke-40, beliau tidak lagi berkunjung ke tempat tersebut untuk selamanya, tetapi langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat yang sudah sekian lama didera kezaliman, ketidakadilan, dan diskriminasi.
Nabi Muhammad SAW segera mengawali upaya-upaya pendidikan dan memandu umat di lingkungan keluarga terdekat, kemudian secara berangsur ke tengah publik. Ajaran Islam yang disemangati misi iqra’ jelas menstimulasi energi umat untuk membaca dan berkarya, sehingga, baik di Makkah maupun di Madinah, Islam selalu bersentuhan dengan kehidupan yang sangat dinamis, kompetitif, dan sangat inspiratif.
Meskipun di masa Nabi Saw belum ada lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah, atau pesantren, tetapi praktik pendidikan telah mapan. M. Alawi Al-Maliki (1984: 5-13) memberi gambaran. Menurutnya, ”Nabi Muhammad SAW tidak memiliki madrasah dan ma’had. Tempat beliau duduk memberikan ceramah di hadapan para sahabat sekaligus sebagai santrinya. Namun, majelis keilmuan beliau luas, umum, dan universal (syamil), laksana hujan turun di setiap tempat, memberikan manfaat kepada orang-orang khusus maupun orang-orang umum. Posisi beliau dalam ketentaraan adalah pelatih dan pemberi nasehat yang mengobarkan hati, memberikan dukungan kepada tentara dengan ucapannya. Posisi beliau saat bepergian adalah guru petunjuk sekaligus penunjuk jalan. Di rumah beliau pendidik keluarganya. Di Masjid beliau pendidik, juru khotbah, qodhi pemutus perkara, pemberi fatwa, dan pengatur. Di jalan ada seseorang yang paling lemah di antara manusia memohonnya berhenti untuk sekadar bertanya tentang urusan agamanya, beliau pun berkenan berhenti”.
Dalam berbagai kesempatan Beliau bukan hanya mendidik, tetapi sekaligus menunjukkan jalan kemaslahatan. Kehidupannya demikian memukau dan inspiratif, sehingga manusia tidak hanya mendapatkan ilmu dan kesadaran darinya, tetapi lebih dari itu, beliau selalu memancarkan nilai-nilai luhur dan kemuliaan. Sejarah kehidupannya (sirah) yang ditulis oleh para sejarawan sejak abad ke-8 Masehi, seperti dilakukan Urwab ibn Zubair ibn Awwam, ‘Amir ibn Syarhabil yang menyusun Kitab Al-Maghāzi, Muhammad ibn Muslim ibn Syihab az-Zuhri, dan salah seorang murid Az-Zuhri, yakni Muhammad ibn Ishaq) adalah penulis-penulis sirah yang karyanya sangat mempesona, menggema dan actual hingga kini. Karena itu, setiap muslim mengakrabinya dan menjadikannya sebagai “a beloved role mode”.
Alquran menegaskan: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad), dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang” (QS. An-Nisa’, 4: 174). Sosok beliau adalah bukti kebenaran yang bersumber dari Allah SWT. Banyak tafsir tentang makna ayat ini, namun yang jelas dan pasti bahwa keterlibatan Allah SWT secara langsung menyangkut sosok itu amat-sangat besar. Semua kegiatannya tidak lahir semata-mata dari kecerdasan atau kegeniusan beliau, tetapi karena bimbingan Allah SWT. Alquran adalah mukjizad dan Nabi Muhammad SAW memperagakan Alquran dalam kehidupan keseharian beliau, sebagaimana penjelasan Aisyah Ra yang melukiskan Nabi Muhammad SAW sebagai “kā khuluquhul-qur’ān”, kepribadian dan tingkah laku beliau adalah cerminan dari Alquran. Karena itu, tidak keliru jika ketika memahami Sirah Nabi Muhammad SAW tidak bisa melepaskan diri dari sosok beliau yang harus diyakini sebagai Nabi dan sekaligus sebagai bukti kebenaran.
Para penulis non-muslim yang objektif juga sangat terkesan dan mengapresiasi kelebihan Muhammad SAW. Seorang Profesor dari Cleveland University, James E. Royster, mengawali tulisannya dengan mengemukakan bahwa belum ada dalam sejarah manusia, seseorang yang demikian sempurna diikuti dan diteladani seperti Muhammad SAW. Kenyataan ini sering tidak disadari oleh para penulis non-muslim, dan harus dipahami agar secara tepat mampu terjajaki dan terselami pengaruh Muhammad yang tiada pernah berhenti di kalangan mereka yang mengakuinya sebagai Nabi Saw.
Selain itu, Michael H. Hart, setelah melakukan riset dalam waktu yang cukup lama, dalam bukunya “The 100: a Rangking of The Most Influential Persons in History” (1978, 1992) menyimpulkan bahwa Muhammad adalah satu-satunya pribadi manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Seorang pemimpin yang tangguh dan efektif, sekaligus penyebar dan penegak ajaran agama. Empat belas abad telah berlalu sejak hari ia wafat, namun pengaruhnya semakin hari semakin menguat dan mengakar. Oleh karenanya Michael H. Hart menempatkannya di urutan pertama, di atas barisan manusia genius, seniman, raja-raja, dan bahkan Nabi Musa As dan Nabi Isa As. Seiring dengan kajian ini, penyair Inggris kenamaan, Bernand Shaw (1856-1950) lebih jauh memberikan optimisme yang besar terhadap kepemimpinannya yang diperlihatkan Nabi: “if a man like Muhammad were 10 assumed to the dictatorship of modern world, he would succeed in solving its problem in a manner which would bring it to the much needed peace and happiness”
Nabi Muhammad SAW ditunjuk oleh Allah SWT sebagai suri teladan kehidupan bagi seluruh umat manusia, atau dalam Alquran disebut rahmatan lil ‘alamin. Misi universal ini lebih dipertegas dengan sikap dan ucapan Nabi yang tidak memilah-milah suku dan kulit manusia kecuali kadar kedekatan dan ketaqwaannya pada Allah SWT. Ajaran universal dan egalitarian inilah yang menyebabkan Islam berkembang pesat dan dewasa ini disebut sebagai “the fastest gowing religion in the world”. Dan, Muhammad SAW mempunyai standar budi pekerti terbaik (QS. 63: 40). Allah SWT memujinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab, 3: 21). Seyogianyalah jika seluruh umat Islam meneladani dan mencintai tokoh besar ini, karena beliaulah yang menunjukkan jalan menuju cinta sejati pada Allah, “Katakan Muhammad, jika kalian cinta pada Allah, ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintai kalian” (QS. 3: 31).
Secara factual dapat kita pahami, jika para sahabat menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik sejati, in actual teacher, yang bisa diteladani sekaligus dilihat sehari-hari dengan mata kepala sendiri, namun sebagian umat memandang Nabi Saw sebagai pendidik imajiner. Yakni pendidik dan pemandu umat yang belum pernah ditemuinya dengan mata kepala sendiri, tetapi kedekatan dengannya dan dengan ajaran-ajarannya terasa tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, dan terus menginspirasi. Semoga kita terus mencintainya dan memperoleh syafaatnya, amin. Allahumma Salli ‘Ala Muhammad.
*Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa, Direktur Pascasarjana IAIN Jember dan Ketua Umum MUI Kabupaten Jember.
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



