KokDalam Islam ada sebuah kaidah ushul fiqih, Dar’ul mafasid muqodamun ‘ala jalbil mashalih. Kaidah ini menjelaskan bahwa menghindarkan dari kerusakan hendaknya didahulukan dari pada mengambil manfaat. Sesuatu yang berpotensi menimbulkan kemudharatan dan bahaya harus menjadi  prioritas utama harus ditinggalkan dibandingkan dengan mengambil manfaat dari sesuatu tersebut. Saat merebak wabah Coronavirus 2019 atau dikenal Covid-19, kaidah ushul fiqih ini menemukan momentumnya untuk  bersama sama melakukan evaluasi.

IKLAN

Ya, sebenarnya situasi pandemi yang terjadi saat ini mengajarkan dua hal penting, yaitu disiplin dan konsistensi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),   kata konsisten dan disiplin memiliki arti yang sama,  berarti taat asas, taat peraturan. Pada praktiknya kata disiplin lebih mengarah pada perilaku, sementara konsisten lebih kepada sikap mental. Kedua hal baik ini yang jika dibiasakan, akan menjadi budaya dan karakter mulia. Setiap keluarga, semua lembaga bahkan negara pun mengharap dan memperjuangkan bagian dari pendidikan karakter ini. Namun sayangnya, kini sebagian masyarakat telah kehilangan sikap disiplin dan konsisten tersebut. Inkonsistensi dan indisipliner tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Yang tampak misalnya, ketika menjelang Idul Fitri 1441 H, terlihat hampir semua tempat perbelanjaan penuh dengan kerumunan orang yang hendak berbelanja. Mungkin membeli baju, kue atau simbol lebaran lainnya. Protokol kesehatan yang sudah disosialisasikan secara luar biasa oleh pemerintah, diabaikan begitu saja. Padahal untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masih ada cara yang lain seperti belanja on line, atau mestinya menahan diri untuk berbelanja di waktu yang lain

Contoh lain dalam aspek ibadah, salat tarawih di masjid dengan berjamaah memang lebih utama daripada salat tarawih sendiri di rumah. Akan tetapi jika dikaitkan dengan kaidah ushul fiqih tadi, maka pada masa seperti ini salat tarawih di rumah dengan berjamaah mungkin saja justru lebih utama jika dibandingkan dengan salat tarawih berjamaah di masjid. Artinya orang yang mengerjakan salat tarawih berjamaah di rumah akan mendapatkan pahala lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid. Mengapa? Karena dengan melaksanakan salat tarawih di masjid memberi potensi kemudharatan terhadap orang lain. Siapa tahu ada diantara jamaah yang telah terpapar virus tanpa sadar, hingga menularkannya pada yang lain.

Demikian juga ketika salat Idul Fitri. Dalam kondisi normal, salat Id di masjid atau lapangan lebih utama daripada melaksanakan salat Id di rumah.  Namun karena situasi pandemi yang terjadi sekarang, maka melakukan salat Idul Fitri di rumah diperbolehkan. Bahkan jika dikaitkan dengan kaidah ushul fiqh diatas, salat Id dengan berjamaah bersama keluarga mungkin mendatangkan pahala lebih besar.

 

Sadar Bahaya, Tapi Masih Melanggar

Fenomena yang terjadi di tengah masyarakat ini terjadi bukan karena ketidaktahuan. Hampir semua faham tentang protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Informasi tentang hal ini sudah sangat gencar disampaikan dengan berbagai cara. Maka, sebetulnya sebagian besar masyarakat tahu bahwa yang  dilakukan menimbulkan potensi kemudharatan baik terhadap dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Namun, mengapa justru kemudian banyak yang melanggarnya.

Ternyata situasi pandemi ini telah membuat banyak orang berubah.  Kaidah ushul fiqh tersebut tidak lagi dipandang atau justru secara sadar melanggarnya. Ya, nampaknya asumsi yang terakhirlah yang lebih mendekati jika melihat fenomena di masyarakat dalam menghadapi pandemi corona ini. Ternyata menjadi manusia yang bisa selalu konsisten dan disiplin, bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi jika hal itu dilakukan secara kolosal atau bersama-sama.

Mengenakan masker, jaga jarak fisik (physical distancing) dan jaga jarak sosial (social distancing), pada awalnya ditaati. Tapi ketika sebagian besar orang kemudian mengabaikannya, maka yang bertahan menjalankannya menjadi nampak asing. Disinilah kedisiplinan dan konsistensi warga bangsa diuji. Memilih mengikuti arus, larut bersama euforia merayakan kebebasan, atau tetap bertahan menaati anjuran ulama dan pemerintah untuk menjaga diri dan lingkungan.

Tiga bulan menahan diri menjalani aturan ketat masa pandemi ini sungguh sangat berat. Tapi sebetulnya masyarakat telah berhasil melewatinya. Mulai menghindari kerumunan hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sayang jika setelah semua yang  dilakukan berakhir sia-sia hanya karena mengikuti keinginan bersenang semata. Memang tak ada yang tahu pasti, kapan wabah ini berakhir. Tapi saatnya nanti, mau tak mau semuanya akan menjalani era selanjutnya, New Normal. Sebuah tatanan kehidupan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: Bekerja dari Rumah (Work From Home/WFH) menjadi kebutuhan, salat Jumat dengan shaf yang tidak lagi rapat atau justru di rumah saja, ujian dan seminar online, tak ada pesta dan jabat tangan, wilayah publik sangat dibatasi pengunjungnya. Tak ada pilihan lain selain harus beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru. Nah, latihan disiplin dan konsistensi selama masa pandemi ini, akan sangat bermanfaat ketika memasuki era The New Normal nanti.

 

Merawat Istiqamah dengan Sabar

Benar, bahwa mempertahankan disiplin dan merawat konsistensi yang dalam Islam dikenal dengan istiqomah ini tak segampang membalik tangan. Diperlukan pembiasaan yang terus menerus, juga dukungan lingkungan yang tak putus. Lebih dari itu, kesadaran dalam diri menjadi faktor yang sangat menentukan. Betapapun ulama telah menganjurkan, sesering apapun pemerintah melakukan penertiban, jika tak ada kesadaran untuk menerapkan, tentu disiplin menjadi sekedar harapan dan konsistensi hanya berwujud angan-angan.

Maka benar perkataan Sayyidina Umar bin Khattab ra. bahwa istiqamah adalah selalu berkomitmen terhadap perintah dan larangan. Lalu apa yang harus dilakukan agar dapat menjaga istiqamah? Imam al-Ghazali telah mengajarkan  dalam kitab Minhajul Abidin bahwa kunci istiqomah adalah sabar. Setiap kebaikan akan berhasil jika dibarengi dengan kesabaran. Perlahan, latihan sabar yang terus menerus akan memudahkan untuk menggapai maqam istiqomah. Tak harus seketika, tapi keajegan yang sedikit demi sedikit terus terjaga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Salah satu amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang terus menerus dilakukan meski sedikit”.

Memang tak mudah, tapi inilah saatnya untuk belajar. Belajar menjadi sabar, belajar untuk mengikuti pimpinan, belajar taat ulama, belajar menjaga diri sendiri dan orang lain, juga belajar beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru. Semoga kita termasuk orang yang selalu konsisten, disiplin, dan istiqamah.  Selamat Idul Fitri 1441 H, selamat merayakannya dengan cara yang syahdu. Mohon maaf lahir batin, kullu am wa antum bi khair. Waallahu a’lamu bishowab.

 

*) Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag, Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Wakil Rektor I IAIN Jember.