Mata air ilmu (Wellspring of Knowledge) adalah simbol yang dipilih untuk menegaskan basis keilmuan yang akan dikembangkan di Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Sebagai sebuah gagasan, ia akan menjadi corpus terbuka. Setiap orang memiliki hak untuk memberikan tafsir, interpretasi ataupun analisis terhadapnya. Sangat mungkin akan tercipta ruang-ruang diskusi dalam diskursus mata air keilmuan UIN KHAS Jember. Tulisan ini adalah salah satunya.

Dalam ajaran Islam sebetulnya tidak dikenal istilah dikotomi keilmuan. Tak ada pemisahan ruang-ruang ilmu pengetahuan secara tegas atau diametral, sebab pada hakekatnya semua yang ada di alam ini bersumber dari satu, yaitu Allah Tuhan semesta alam. Akan tetapi fenomena yang terlihat, dikotomisasi ilmu pengetahuan telah sangat nyata dan mewujud di masyarakat. Ada individu yang cakap dalam “ilmu-ilmu umum” namun hampa dalam penguasaan “ilmu-ilmu agama”, begitu juga sebaliknya. Hal ini sudah terjadi sejak lama dan sepertinya akan tetap terjadi jika tidak segera diselesaikan. Faktanya, problem dikotomi ilmu ini tidak satu pun memberi kontribusi positif bagi keberlangsungan peradaban Islam. Dan sebaliknya, justru menambah persoalan di dunia Islam, terlebih apabila dihadapkan dengan peradaban barat yang sekuler.

Jika saja umat mau belajar dan berpikir jernih sejatinya telah ada prototipe-prototipe sarjana yang bisa menjadi acuan untuk generasi-generasi sesudahnya. Para tokoh muslim seperti Imam al-Ghazali (w. 505 H./1111 M.) atau Ibn Rusyd (w. 595 H./1198 M) sudah pasti bisa menjadi teladan yang cukup ideal. Meski menjadi seperti mereka tidak semudah membalik telapak tangan, melainkan harus dengan upaya yang terstruktur, sistematis dan tentu saja secara kolosal melibatkan partisipasi banyak pihak.

Hal yang paling pertama dan mendasar adalah harus berangkat dari worldview (pandangan dunia), sebab hal ini akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang. Worldview yang dimiliki seseorang akan menjadi motor penggerak dalam segala pikiran dan tindakannya. Oleh karena itu memiliki worldview yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam adalah sebuah keharusan untuk diwujudkan oleh setiap muslim.

Dalam konteks ini pondasi utamanya adalah Tauhid. Ketauhidan menjadi dasar utama munculnya berbabagai realitas-realitas yang lain, sebab adanya sesuatu disebabkan oleh realitas sejati (al-Haqq), yaitu Wajib Al-Wujud sebagai entititas tertinggi. Wujud tunggal ini memosisikan diri sebagai sang Kholiq (Pencipta) untuk meciptakan segala sesuatu yang ada (makhluq), dalam penciptaan tersebut dzatnya sebagai al-‘Alim yang kemudian menciptakan ayat-ayat qauliyah dan kauniyah atau ayat verbal dalam bentuk tertulis (tadwin) dan tercipta (takwini).

Dengan demikian, posisi utama tauhid sebagai ontologi keilmuan Islam menjadi sangat jelas. Ia menjadi titik pangkal atau hulu dan juga hilir dari keilmuan. Sebagaimana iman pada Allah dan kitab-kitabnya serta rasul-rasul-Nya telah menjadi kunci pokok dari lahirnya ilmu-ilmu yang sekaligus sebagai sumber dan ilmu itu sendiri (al-Quran-Hadits). Tauhid menjadi pondasi dari lahirnya realitas-realitas selanjutnya yang sesungguhnya tidak terpisah (dikotomis) dan tidak terbagi bagi (fragmentaris).

Simbol untuk menggambarkan hal ini adalah mata air yang diistilahkan dengan mata air ilmu (Wellspring of Knowledge). Hal ini dipilih karena air merupakan anugerah Allah yang semua makhluk-Nya membutuhkan air. Ilmu juga merupakan anugerah Allah yang semua makhluknya membutuhkannya. Ilmu memiliki peran yang sangat penting dalam peradaban manusia. Kebutuhan yang sangat mendasar akan air, membuat semua makhluk hidup selalu tergantung dengannya. Bahkan, ia akan rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemukan sumber air. Demikian juga dengan ilmu pengetahuan yang begitu identik dengan fenomena sumber air. Setiap insan membutuhkan ilmu pengetahuan untuk bisa menjalani kehidupannya secara lebih baik. Setiap orang semestinya memberlakukan ilmu pengetahuan sebagai mana ia memperlakukan air dalam kehidupan sehari-harinya.

Seseorang yang memiliki pandangan dunia yang benar akan mencari ilmu dengan sekuat tenaga dan sebisa mungkin sebagaimana ia mencari sumber air ketika sedang kehausan. Ia pasti tidak akan lelah untuk menuntut ilmu. Ia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan, meskipun harus membayar mahal.

Sebagaimana mata air yang bisa berada di banyak tempat, maka mata air ilmu berwujud dalam lima kelompok bidang kajian. Kajian yang pertama adalah ilmu wahyu (revealed sciencies) yang meliputi seperti kajian al-Qur’an, kajian hadits dan semacamnya. Kelompok kedua adalah ilmu-ilmu alam (natural sciencies) yang meliputi bidang fisika, kimia, biologi dan sejenisnya. Kelompok ketiga adalah ilmu-ilmu sosial (Social sciencies) yang meliputi bidang antropologi, psikologi, pendidikan, dan semacamnya. Kelompok keempat adalah kajian humaniora seperti sejarah, sastra, dan seterusnya. Dan, kelompok kelima adalah ilmu-ilmu alat (tool sciencies) seperti matematika, bahasa, logika dan semacamnya. Sumber ilmu ini digali dengan berbagai cara dan alat (epistemologi), yang dalam klasifikasi epistem Abid al-Jabiri (w. 2010 M) dikenal dengan Istilah burhani, bayani dan irfani. Ketiganya harus diajarkan dalam satu kesatuan yang terintegrasi untuk menjalankan dan mengamalkan ajaran agama.

Mewujudkan hal itu tentu saja membutuhkan kerja ekstra keras. Tidak sekedar infra struktur saja, akan tetapi kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia adalah mutlak dibutuhkan. Kualitas tenaga pendidik (dosen) akan menentukan tercapainya misi besar ini. Karena tidak mungkin seseorang akan memberikan sesuatu kepada orang lain jika ia tidak memilikinya. Maka tidak mungkin juga seseorang akan memberikan worldview filosofi keilmuan UIN KHAS Jember kepada orang lain kalau yang bersangkutan tidak memiliki hal tersebut.

Pemetaan dan upgrading kemampuan dosen harus dilakukan secara terstruktur dan sistematis agar memperoleh out come yang sesuai dengan standar minimal yang ditetapkan. Jika proses ini dilakukan dengan serius dan benar, maka hasil yang baik akan bisa dinikmati oleh publik. Justru inilah yang sangat ditunggu oleh masyarakat nantinya. Masyarakat luas tentu tidak terlalu peduli dengan proses yang sedang berjalan di sebuah institusi, namun mereka akan melihat dan menguji out put yang telah dihasilkannya dan kemudian memberikan penilaian. Tentu saja, ini menjadi tugas yang sangat berat bagi institusi UIN KHAS Jember. Semoga bisa mewujudkan.

*) Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Jember, Dosen Pascasarjana IAIN Jember.