Ketika saya cek data di SISTER (Sistem Informasi Terpadu) IAIN Jember, saya ketahui bahwa data peminat dan pendaftar Pascasarjana cukup menggembirakan. Dalam situasi Covid-19, jumlah peminat dan pendaftar Pascasarjana IAIN Jember ternyata tidak menurun, melainkan melebihi peminat dan pendaftar tahun-tahun sebelumnya. Pascasarjana IAIN Jember yang kini mengembangkan sepuluh program studi (dua program doktor dan delapan program magister) ternyata memperoleh respons yang baik dari para sarjana yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Ini sekaligus membuktikan bahwa Pascasarjana IAIN Jember menjadi magnet tersendiri dan memiliki warga luar Jember untuk studi di Jember.

IKLAN

Dua program doktor mengembangkan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI), sedang delapan program magister mengembangkan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Guru Madrasah Diniyah, Ekonomi Syariah, Hukum Keluarga, Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta Studi Islam. Ini yang membanggakan saya tentang pendidikan di Jember.

Saya teringat sekitar empat puluh tahun yang lalu, tepatnya 12 Januari 1978 mulai belajar di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) dan di Pesantren Ash-Shiddiqi Putera Jember. Kami memilih belajar di PGAN Jember (1992 beralih status menjadi MAN 2) dan di pesantren yang dibina KH. Achmad Siddiq, karena ayah kami sudah cukup mengenal dan mengagumi beliau, sehingga setiap hari kami menikmati jalan kaki dari Pesantren Ashtra ke PGAN Jember

Kenapa kami memilih Jember? Kala itu, Jember dikenal sebagai kota pelajar selain Yogyakarta dan Malang. Jember juga dikenal sebagai kota santri karena banyaknya pesantren, pendidikan di Jember kala itu sangat menarik minat pelajar luar kabupaten. Di PGAN Jember (1978-1980) mayoritas pelajarnya berasal dari luar kabupaten, dan ketika belajar di IAIN Jember (1980-1987) mayoritas mahasiswanya berasal dari luar kabupaten, demikian juga ketika kami belajar di pesantren, mayoritas santrinya berasal dari luar kabupaten. Itulah Jember, kabupaten yang memiliki “magnet besar” untuk pendidikan, sehingga menjadi pilihan utama calon pelajar dan mahasiswa dari luar daerah.

Mengapa pendidikan Jember mempesona dan memiliki “magnet besar” bagi pelajar luar kabupaten? Kita bisa membaca dinamika perkembangan institusi pendidikan Jember, sebagai cara memahami kemajuan pendidikan. Jember kini memiliki empat perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Jember, Institut Agama Islam Negeri Jember, Politeknik Negeri Jember, dan Universitas Terbuka. Dulu, Universitas Jember dan Institut Agama Islam Negeri Jember hanya membuka program sarjana, kini keduanya telah berkembang sangat pesat dengan membuka program magister, program doktor, dan telah banyak menghasilkan doktor. Demikian juga Politeknik Negeri Jember, dulu hanya membuka program D-4 (sarjana terapan), kini telah mengembangkan program magister ilmu terapan. Selain itu, Universitas Terbuka, yang membuka layanan pendidikan secara online. Semua itu tidak dimiliki oleh kabupaten lain, khususnya di Jawa Timur bagian timur.

Kini, Jember adalah kabupaten yang memiliki empat perguruan tinggi negeri berbentuk universitas, institut, politeknik dan Universitas terbuka. Jember juga memiliki sekitar dua puluh perguruan tinggi swasta berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, bahkan ada dua ma’had ‘aly dan akademi. Universitas milik Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang besar hanya ada di Jember, yakni: Universitas Islam Jember dan Universitas Muhammadiyah Jember, dan belum dimiliki kabupaten tetangga. Tidak terhitung layanan jenjang pendidikan dasar dan menengah di Jember seperti SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, dan yang sederajat. Bahkan, kabupaten yang memiliki jumlah penduduk lebih dua setengah juta tersebut memiliki 611 pondok pesantren lebih, sehingga hampir di setiap desa terdapat pondok pesantren dengan karakteristik yang beragam, sehingga, akses pendidikan di Jember sangat mudah, dan layanan pendidikan sangat bervariasi.

Banyaknya perguruan tinggi terkenal, pondok pesantren, dan layanan pendidikan berkualitas menunjukkan bahwa di Jember banyak tokoh dan tenaga ahli, yang menjadi pembina pendidikan tinggi di luar kabupaten Jember. Ini adalah pesona tersendiri, karena ada claim, kalau ingin belajar silat, carilah perguruan yang memiliki pendekar terkenal; kalau ingin belajar ke perguruan tinggi, carilah kampus yang banyak guru besarnya; kalau ingin belajar di pondok pesantren carilah kiai yang ‘alim dan istiqamah.

Bagi kami, keberadaan pondok pesantren menjadi sangat penting dan strategis untuk menjaga keseimbangan pendidikan dan pembangunan Jember. Komunitas pondok pesantren akan menjadi pengarah dan sekaligus kontrol pengembangan iklim akademis dan iklim keagamaan Jember dengan cara-caranya yang khas, yang berbeda dengan cara-cara akademisi, birokrat dan politisi. Perbedaan dan sekaligus kekhasan itu perlu dipahami, karena itulah cara yang paling mungkin bagi mereka untuk ikut berkontribusi membangun Jember.

Ke depan. Jika pendidikan benar-benar ingin dibenahi, pimpinan daerah benar-benar ingin fokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM), maka “Jember harus dibangun bersama-sama”, “jangan hanya bersama-sama membangun di Jember”. “Jember harus dibangun bersama-sama”, artinya, pengembangan SDM Jember harus diprioritaskan karena tujuan utamanya memang membangun Jember, membangun SDM Jember, membangun ketrampilan SDM Jember. “Jangan hanya bersama-sama membangun di Jember”, artinya, ada kepentingan pihak luar, ada kepentingan investor yang lebih diprioritaskan untuk mengeruk hasil di Jember, sementara SDM Jember diposisikan pada urut ke sekian.

Oleh karena itu, demi pengembangan pendidikan, demi menyelamatkan anak bangsa, dan demi kemaslahatan generasi yang sedang belajar di Jember, beberapa langkah perlu dipertimbangkan dan Pemerintah Kabupaten perlu memfasilitasi kerja sama kemitraan antara dinas pendidikan dan pondok pesantren tertentu. Kami menyebut pondok pesantren tertentu, karena tidak semua pondok pesantren memiliki fasilitas memadai dan tidak semua pengasuh siap menjalin kerja sama. Kerja sama kemitraan bisa dilakukan melalui program “pendidikan terintegrasi”. Hal ini penting, karena, pendidikan di sekolah lebih bersifat verbalistik, pondok pesantren bisa diharap sebagai laboratorium kehidupan bagi anak. Penyelenggaraan PAI misalnya, di sekolah sangat verbal, miskin amaliah. Ketika guru Pendidikan Agama menerangkan fadilah salat Tahajud, salat hajat, atau salat tasbih, di sekolah tidak pernah menjalani praktik, sehingga alangkah indahnya jika kerja sama ini terealisir, di sekolah teori-teori ibadah dimantapkan, di pondok pesantren teori itu dipraktikkan dipimpin oleh seorang kiai pengasuh yang alim dan istiqamah.

Ini semua adalah tantangan bagi kita, karena yang kita inginkan terkait sosok generasi mendatang adalah generasi yang memiliki kekuatan spiritual dan kekuatan intelektual secara utuh, yang akan menjadi Pesona Baru Pendidikan di Jember. Wallâhu a’lam bish shawâb.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, Guru Besar Pendidikan Islam dan Direktur Pascasarjana IAIN Jember