Memaknai Komunikasi Pesantren

Oleh: Dr. Kun Wazis, M.I.Kom

Dinamika ilmu komunikasi semakin menarik untuk dikaji. Bukan hanya dari sisi ontologis bahwa manusia adalah makhluk komunikasi yang selalu bersentuhan dengan pertukaran pesan dan lalu lintas simbol dalam interaksi kehidupan sehari-hari. Realitas filosofisnya, komunikasi (penyampaian pesan dari satu orang kepada orang lain)—mau tidak mau–menjadi kebutuhan hidup manusia. Tetapi, secara epistemologis, metode risetnya dapat menyentuh ranah kajian banyak bidang, mulai dari komunikasi politik, komunikasi massa, komunikasi organisasi, komunikasi kesehatan, komunikasi transendental, komunikasi kerukunan, dan sebagainya. Dan, yang terpenting, secara aksiologis, kemanfaatan dan kegunaan ilmu komunikasi dapat menjadi solusi bagi problematika kehidupan manusia. Secara empiris, banyak masalah yang muncul dan dapat ditemukan solusinya melalui komunikasi.

IKLAN

Fenomena pondok pesantren di nusantara dapat pula didekati melalui perspektif komunikasi. Atau bisa kita sebut dengan “istilah” komunikasi pesantren. Sebagai sebuah institusi pendidikan agama Islam khas Indonesia, kyai adalah komunikator yang berperan menyampaikan pesan ajaran Islam kepada para santrinya sehingga dapat diteliti tentang model atau pola komunikasi kyai-santri. Sebagai tokoh elit, pengasuh pondok pesantren memiliki kharisma kepemimpinan yang mampu mempengaruhi masyarakat luas sehingga kajian komunikasi dapat meneliti tentang pengaruh pesan-pesan kyai dalam menentukan pilihan politik masyarakat.

Sebagai penguat dalil komunikasi pesantren ini, tiga naskah disertasi yang diujikan pada program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) S3 Pascasarjana IAIN Jember, Jumat-Sabtu (17-18 Mei 2019) dapat menjadi salah satu fenomena yang menarik untuk diteliti dengan perspektif komunikasi. Pertama, riset promovendus Arfandi dengan judul “Kepemimpinan Kyai dalam Transformasi Pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo” memberikan pesan komunikasi bahwa proses transformasi pendidikan di pondok pesantren adalah dengan menjadikan pondok pesantren itu tetap survive dalam menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi.

Kedua, penelitian promovendus Haya berjudul “Kepemimpinan Kyai dalam Resolusi Konflik Pesantren dengan Masyarakat” menyajikan pesan simbolik bahwa tindakan komunikasi kyai di Bali dalam penanganan konflik horizontal muslim dan non-muslim dilakukan dengan memberikan bimbingan internal dan eksternal serta prakarsa masyarakat sekitar agar dapat hidup bersama secara damai. Dalam konteks teori interaksi simbolik, penelitian dengan studi multisitus di pondok pesantren Istiqlal Buleleng dan pondok pesantren Bali Bina Insani Tabanan membuktikan kemampuan komunikasi kyai dapat mengatasi konflik melalui nilai-nilai Islam yang diaplikasikan oleh sang komunikator, kyai.

Ketiga, disertasi promovendus Aminatuz Zahroh berjudul “Konstruksi dan Transformasi Budaya Pesantren berbasis Ahlussunnah Wal Jama’ah” memberikan makna bahwa konstruksi budaya pesantren berakar dari nilai-nilai At-Tawazun (seimbang dalam segala hal), At-Tawasuth (sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun kanan), Al I’tidal (tegak lurus dan membela kebenaran), dan Tasamuh (toleransi). Dengan mengambil dua obyek riset di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo menunjukkan bahwa penyampaikan pesan komunikasi budaya pesantren itu dipengaruhi oleh tiga pola pikir Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja); Ishlahiyah (pola pikir seformatif), maknanya Aswaja senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (ishlah ila ma huwa al-ashlah); Tatawwuriyah (pola pikir dinamis), maknanya Aswaja senantiasa mengupayakan kontekstualitas dalam merespons berbagai persoalan; Manhajiyah (pola pikir metodologis), maknanya Aswaja senantiasa menggunakan kerangka berfikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.

Pesan komunikasi pesantren yang digarasikan dalam disertasi ini mendapatkan apresiasi bermakna dari Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si (Guru Besar Universtitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya) dan Dr. H. Imam Syafi’i, M.Pd (Sekretaris Ditjen Pendis Kemenag RI) yang menjadi penguji. Menurutnya, kajian tentang manajemen pendidikan Islam di Pesantren ini memiliki bobot ilmiah bagi mahasiswa S3 mengingat peran besar pondok pesantren dalam perubahan sosial dan pembangunan bangsa. Kiprah pesantren melalui peran sentral tokoh kyai dengan beragam karakteristiknya akan semakin memperkaya dan memperdalam keilmuan para ilmuwan yang ingin meraih gelar akademik tertinggi, yakni doktor.

Dalam konteks program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) yang dikembangkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia seperti di STAIN, IAIN, dan UIN maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di tanah air, komunikasi pesantren layak dikembangkan sebagai bentuk atau varian dinamisnya kajian ilmu komunikasi. Dalam hal ini, Komunikasi Islam maupun Penyiaran Islam dapat memfokuskan salah satu kajiannya melalui pesan-pesan komunikasi yang dikembangkan melalui pondok pesantren sebagai lembaga yang mengajarkan agama Islam. Karakteristik ilmu komunikasi yang tidak kaku, meniscayakan multiperspektif, dan tetap memiliki basis metodologis yang jelas akan menjangkau kajian dengan varian baru “komunikasi pesantren”, sekaligus melengkapi bentuk komunikasi yang ada sebelumnya.

Tentu saja, komunikasi pesantren ini tidak bisa lepas dari “identitas utama” sebuah pondok pesantren dengan mengadaptasi model komunikasi Laswell; yakni komunikator (communicator) kyai, komunikan (communicant) santri, pesan (message) kitab kuning, sarana (media/ channel) masjid, dan dampak (effect) dari kehidupan dunia pesantren terhadap dunia luarnya. Persentuhan komunikasi pesantren ini menegaskan bahwa Islam bisa menerima komunikasi yang akar keilmuannya dari Barat dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam yang dikembangkan oleh pondok pesantren.

Pertemuan ini semakin mempertegas bahwa Islam sebagai ajaran (ilmu) universal (rahmatan lil ‘alamin) yang wajib (fardhu ‘ain) dipahami oleh umatnya memberikan ruang yang terbuka luas untuk mendalami ilmu komunikasi sebagai kewajiban kifayah (fardhu kifayah). Sebagai suatu kewajiban, kedua diletakkan dalam aras yang sama meskipun tindakan komunikasinya bisa “berbeda”. Dalam konteks ini, pertautan ini bukanlah bentuk dikotomi keilmuan, tetapi kolaborasi keilmuan yang memperkuat, sebagaimana politik Islam, ekonomi Islam, sosiologi Islam, psikologi Islam, manajemen pendidikan Islam, dan sejenisnya.

Sebagai sebuah titik pertemuan Ilmu Barat (komunikasi) dan Ilmu Islam (pesantren), maka komunikasi pesantren akan melahirkan identitas yang “khas” untuk kajian-kajian perkembangan Islam di Nusantara pada masa-masa mendatang. Sebagai contoh riset, kajian komunikasi pesantren dapat menggunakan obyek media massa (komunikasi massa) untuk melihat potret pesantren melalui konstruksi media. Bagaimana wajah pesantren dikonstruksi dalam wacana-wacana media dapat dilihat dari beragam perspektif riset, baik paradigma positivistik, paradigma konstruktivis, maupun paradigma kritis, misalnya. Dan, tentu saja, dari sisi keilmuan komunikasi semakin menunjukkan aksiologinya dalam meneliti dunia pesantren.

*) Dr. Kun Wazis, M.I.Kom, Dosen Pascasarjana IAIN Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :