Problematika kesehatan yang dialami oleh manusia, baik psikis maupun fisik tidak pernah berakhir. Beragam jenis penyakit yang berkembang di era digital saat ini, sebut saja kasus di Jember seperti keracunan massal ikan tongkol, merebaknya virus hepatitis, mewabahnya demam berdarah, memberikan pesan komunikasi bahwa persoalan kesehatan harus diperhatikan lebih serius lagi.

IKLAN

Dunia kesehatan yang serbamodern sekalipun tetap saja dihadapkan dengan munculnya varian penyakit, dari yang berjenis ringan hingga pada level berat. Bersamaan itu pula, muncul industri farmasi yang menawarkan beragam jenis obat untuk mengatasi berbagai penyakit itu. Ragam penyakit, layanan kesehatan, dan bisnis obat seperti “simbiosis mutualisme”.

Begitu kompleksnya masalah kesehatan, tanggungjawabnya menyebar mulai individu, masyarakat, hingga negara. Kampanye hidup sehat pun dikomunikasikan secara terus-menerus. Diantaranya, makan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat cukup.

Kompleksitas masalah kesehatan menjadi pesan komunikasi yang direspon oleh para ilmuwan komunikasi. Seperti komunikasi kesehatan yang dikembangkan Prof. Dedy Mulyana, Ph.D, guru besar ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam bukunya Health and Therapeutic Communication (Rosdakarya, 2016), menegaskan agar setiap “makhluk komunikasi” dapat membaca simbol-simbol “problematik” kesehatan yang dihadapi setiap individu agar dirinya hidup sehat dan bahagia.

Komunikasi Kesehatan Perspektif Islam
Sebagai agama sempurna yang rahmatan lil alamin, ajaran Islam tidak hanya mengatur persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum, dan bidang lainnya. Bidang kesehatan menjadi pesan komunikasi yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim. Setidaknya komunikasi kesehatan dalam perspektif Islam dapat dimaknai dari beberapa teks wahyu dalam Al Quran dan Al Hadits yang mendorong umat manusia untuk selalu menjaga kesehatan dan bergaya hidup sehat.

Pertama, komunikasi kesehatan berkaitan dengan pola keimanan seseorang. Hadits Imam Muslim “ath thohuru syathrul iman” yang artinya kesucian atau bersuci merupakan sebagian dari iman merupakan pesan komunikasi yang jelas bahwa aktivitas bersuci (thaharah) merupakan implementasi aqidah seorang muslim. Untuk itu, kesehatan tubuh menjadi salah satu doa yang dipanjatkan oleh Nabi SAW setiap pagi dan petang. “Allahumma ‘afini fi badani, allahumma ‘afini fi sam’i, allahumma ‘afini bi bashari” (Ya, Allah sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, dan sehatkanlah penglihatanku), demikian doa kanjeng Nabi kepada Ilahi Rabbi!
Dalam hal ini, komunikasi transedental Nabi SAW melalui doa ini membuktikan bahwa Allah merupakan pemilik segala hal yang mengendalikan, termasuk kesehatan tubuh hamba-Nya. Praktik kehidupan yang menyehatkan juga dapat disimak dari perintah dan tindakan Nabi SAW agar mengajari anak-anak dengan berenang, memanah, dan berkuda. Tiga jenis olahraga ini—-secara empiris—jika dilakukan secara teratur dan terpola akan melahirkan generasi yang sehat, kuat, tangguh, dan cerdas.
Kedua, komunikasi kesehatan berkaitan dengan pola konsumsi. Dalam ajaran Islam, kesehatan bergantung dengan apa yang dimasukkan kedalam tubuh, baik melalui makan dan minum.

Untuk itu, produk yang dikonsumsi oleh tubuh harus mensyaratkan dua dimensi penting, yakni halal dan baik (halalan thayyiban). Halal bisa terkait dengan dzat/ produk yang harus dipastikan statusnya halal, seperti tidak halalnya makan daging babi, tidak bolehnya minum minuman keras, dan larangnya lainnya. Dalam konteks tatacara memperoleh produk makanan dan minuman, tidak halal memperoleh harta yang dikonsumsi melalui jalur batil, seperti korupsi, manipulasi, mencuri, dan tindakan kriminal lainnya.

Sedangkan makanan yang baik, Islam Tidak hanya halal, status baik wajib diperhatikan oleh seorang muslim. Pesan komunikasinya, setiap individu memastikan bahwa tubuhnya dapat mencerna secara baik makanan yang dinikmati. Misalnya, konsep lama tentang “empat sehat lima sempurna” dapat menjadi salah satu ukuran bahwa nutrisi yang masuk ke dalam tubuh setidaknya memenuhi unsur gizi yang baik (cukup), seperti nasi, sayuran, lauk-pauk, buah-buahan, dan minum susu.

Al Quran dan Al Hadits mencontohkan secara baik tentang kualitas gizi luar biasa dari produk madu, habbatus sauda (dikenal dengan jinten hitam), susu kambing, minyak zaitun, buah tin, dan buah kurma, yang lebih dari 1400 tahun silam menjadi konsumsi menyehatkan bagi tubuh manusia. Dan dalam praktik pengobatan dunia millenial saat inipun, keampuhannya masih dirasakan dan teruji bagi kesehatan manusia.

Ketiga, komunikasi kesehatan berkaitan dengan pola hidup. Sama seperti pola komunikasi, sehat tidaknya seseorang sangat bergantung kepada pola hidupnya. Dalam ajaran Islam, pola konsumsi yang masuk dalam tubuh diatur sedemikian rupa, yakni sepertiga udara, sepertiga air, dan sepertiga udara. Makan dan minum tidak boleh berlebihan-lebihan (melampaui batas). Bahkan, pola hidup melalui puasa, dapat menyehatkan tubuh sebagaimana perintah Nabi SAW, “shoumuu tashikhu” berpusalah kaliah, niscaya sehat. Sejumlah riset modern di era Revolusi Industri 4.0 sekarang pun membuktikan bahwa puasa itu menyehatkan.

Berkaitan dengan pola hidup sehat ini pula, Rasulullah SAW mencontohkan pengobatan yang teratur, misalnya bekam. Konsep penanganan kesehatan melalui bekam ini sampai saat ini masih menjadi alternatif yang baik bagi kekuatan tubuh manusia. Ditengah-tengah tawaran berbagai macam penanganan medis, bekam mampu memberikan solusi sehat. Tentu saja, dalam perkembangan dunia kesehatan modern, beragam penyakit yang tidak bisa ditangani, sebaiknya diserahkan kepada ahlinya (dokter, tabib), bukan sembarang orang.

Tentu saja, pola menjaga kesehatan ini terkait dengan pengaturan waktu istirahat dalam menjalani aktivitas sehari semalam. Misalnya, aktivitas/ rutinitas harian seorang muslim, disehatkan dengan pola kewajiban shalat lima waktu, di luar shalat sunnah. Dan, sebagaimana telah dibuktikan sejumlah riset, seluruh gerakan shalat adalah bentuk tindakan komunikasi yang menyehatkan, seperti mengalirkan sirkulasi darah, dan menata sendi-sendi.

Khatimah Komunikasi sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin, pesan komunikasi kesehatan perspektif Islam bersifat mencegah (preventif), yakni diawali dengan pola iman, pola makan dan pola hidup. Agar tercapai derajat kesehatan, dimulai dari menjaga kesucian (kebersihan), mengatur pola makan, dan mengelola pola hidup. Ketiganya adalah bagian yang saling terkait, tidak bisa dipisahkan. Dari sisi, penyembuhan (kuratif), Islam mengajarkan ikhtiar maksimal (berusaha keras) mengobati dengan berbagai produk herbal maupun kimiawi melalui rekomendasi ahlinya, baik herbalis maupun dokter spesialis. Dan, yang terpenting karena masalah kesehatan ini menjadi ukuran kualitas hidup suatu bangsa, sepanjang sejarah peradaban Islam, negara menjamin penuh kesehatan warga negaranya secara gratis!