Pada hari ini umat muslim di seluruh penjuru dunia hampir tuntas menunaikan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan dengan penuh khidmat dan khusyuk meskipun dalam suasana merebaknya pandemi covid-19. Bahkan pemerintah menganjurkan masyarakat untuk melakukan physical distancing (jaga jarak aman), tetapi kondisi tersebut tidak mengurangi ghirah (semangat) dan kekhidmatan dalam menjalankan ibadah puasa. Tentu rasa syukur umat muslim kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan lahir dan batin sehingga dapat menjalankan perintah ibadah puasa tersebut dengan sempurna dan dua hari lagi hari Raya Idul Fitri 1441 H atau Lebaran 2020 akan segera tiba.

IKLAN

Saat Lebaran, umat muslim pada umumnya saling bersilaturahmi berjabat tangan untuk bermaaf-maafan dengan keluarga, kerabat, hingga sahabat. Namun, menghadapi Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19, pemerintah telah resmi melarang warga untuk melakukan perjalanan mudik. Hal tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran virus korona yang kemungkinan bisa terbawa oleh perantau yang mudik ke kampung halaman.

Kata Idul Fitri diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu id yang artinya kembali dan fitri artinya suci. Jadi Idul Fitri berarti kembali pada kesucian, maksudnya kembali kepada kesucian sifat-sifat asli manusia pada waktu dilahirkan yakni suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan, sesuai hadis Nabi SAW yang artinya: setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).

Menurut Alquran terdapat 5 macam fitrah manusia yang hendak dikembalikan oleh puasa Ramadan kepada keasliannya, yaitu 1) fitrah beragama, 2) fitrah bersosial, 3) fitrah bersusila, 4) fitrah bermartabat tinggi, dan 5) fitrah kesucian.

Pertama; Fitrah Beragama. Manusia adalah makhluk beragama. Menurut Alquran, karena sewaktu di alam roh manusia sudah pernah mengadakan suatu perjanjian dengan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-A`raf: 172 yang artinya: “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka roh manusia menjawab: betul Engkau Tuhan Kami. Menurut para ahli ilmu jiwa, bahwa fitrah keagamaan pada manusia telah dibawanya sejak lahir yang diberikan oleh alam kepadanya, sehingga para ahli ilmu jiwa tersebut mengistilahkannya dengan naturaliter religiosa. Tetapi setelah manusia lahir ke dunia ini, ia terkadang telah lupa akan perjanjian itu, sebab manusia memang pelupa. Karena itu, untuk mengingatkannya Allah mengirimkan para utusan-Nya kepada manusia.

Manusia telah diperingatkan Nabi Muhammad SAW untuk kembali akan hal itu dengan perantara Alquran. Orang yang berpuasa tentu lapar dan haus. Menurut emosi dan akal orang yang lapar dan haus, harus makan dan minum tetapi selama berpuasa itu, manusia tidak mau makan dan minum karena hendak mematuhi perintah Allah SWT. Jadi, orang yang berpuasa mengutamakan perintah Allah daripada kehendak emosi dan akalnya sendiri. Dengan demikian puasa hendak mengembalikan manusia untuk lebih menaati perintah Allah SWT.

Kedua; Fitrah Bersosial. Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial dapat dilihat dari hidup bermasyarakat yang harus didasari oleh rasa kasih sayang dan tolong menolong. Mustahil akan terbina masyarakat yang baik, kalau anggota-anggotanya saling benci-membenci dan tidak mau tolong menolong. Puasa Ramadan adalah mengidentifikasikan diri kepada saudara-saudara yang kekurangan, yang sedang tidak makan (lapar) agar timbul dalam diri manusia rasa kasihan kepada mereka dan ingin menolong mereka. Karena itulah, selama berpuasa itu, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, amal jariah, dan di akhir bulan Ramadan diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk diberikan kepada para fakir-miskin. Dengan demikian puasa Ramadan hendak mengembalikan manusia kepada hidup bermasyarakat yang didasari oleh kasih sayang dan saling tolong menolong.

Ketiga; Fitrah Bersusila. Setiap tingkah laku manusia mempunyai nilai karena manusia adalah makhluk bersusila. Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia adalah untuk menyempurnakan budi pekerti manusia, sesuai hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya “Aku diutus ke dunia ini hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti manusia”. Jadi puasa Ramadan benar-benar hendak melatih manusia agar berbudi pekerti yang baik. Dengan demikian puasa hendak mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk bersusila.

Keempat; Fitrah Bermartabat Tinggi. Sebagaimana misi Allah SWT menciptakan manusia dengan tegas dan jelas bahwa manusia adalah: a) Makhluk-Nya yang terbaik. Setiap manusia yang diciptakan oleh Allah telah diberi misi dan tanggung jawab masing-masing untuk meneruskan kehidupan di atas muka bumi ini, di mana setiap tugas dan tanggung jawab tersebut merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin termasuk di dalamnya adalah memastikan terciptanya generasi muslim yang beriman, bertakwa, dan berkualitas, b) Makhluk-Nya yang termulia. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat al-Isra` ayat 70 yang artinya; “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. c) Makhluk Tersayang. Hal ini kita pahami karena Allah SWT telah memudahkan (menyerahkan) segala apa yang ada di langit dan di bumi untuk umat manusia serta telah disempurnakan nikmatnya baik lahir maupun batin untuk manusia.

Kelima; Fitrah Kesucian. Menurut ajaran Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Ia baru menjadi kotor kalau mengerjakan dosa. Manusia harus selalu hidup dengan kesucian, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Kalau sudah demikian, kehidupannya akan sukses, selamat dan bahagia sebagaimana Allah jelaskan dalam Alquran surat al-A`la: 14 yang artinya Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).

Begitulah ibadah puasa Ramadan hendak mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang suci. Karena itulah hari rayanya dinamakan dengan Idul Fitri (kembali kepada fithrah). Meskipun hari Raya Idul Fitri tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena dibatasinya kegiatan silaturahmi tetapi kaum muslimin dapat memanfaatkan jejaring sosial. Di antaranya mengucapkan selamat Lebaran melalui caption-caption menarik untuk dibagikan ke media sosial, seperti media WhatsApps (WA), messenger, Instagram, Twitter, Facebook, aplikasi teleconference Zoom, timeline, dan lain-lain.

Melalui media komunikasi itu, kita dapat menyampaikan selamat hari Raya Idul Fitri 1-Syawal-1441 H seraya berdoa taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim, minal aidzin wal-faizin (semoga Allah menerima amal ibadah Kami dan Kamu, semoga Kamu termasuk golongan orang yang telah kembali kepada fithrahnya dan golongan orang yang sukses, mohon maaf lahir dan batin)

 

* Dr. Khotibul Umam, M.A., Dosen Pascasarjana IAIN Jember dan Kepala Pusat Audit dan Pengendali Mutu pada Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Jember