Dewasa ini, perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) menyisakan beberapa persoalan yang perlu perhatian. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat modern telah menjadikan iptek sebagai alternatif dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di sisi lain kemajuan iptek tidak sejalan dengan peningkatan ahlak yang baik. Fenomena penurunan kualitas ahlak bukan hanya melanda kalangan dewasa, tetapi juga kaum remaja (pelajar). Perilaku yang tidak baik, seperti bersikap kurang hormat, penyalahgunaan narkoba, kekerasan remaja, dan tawuran pelajar bukan masalah yang asing lagi. Berdasarkan data terakhir dari Badan Narkotika Nasional pada tahun 2019, tercatat adanya peningkatan dari 20 persen menjadi 24-28 persen kaum remaja yang telah menggunakan narkoba. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa pendidikan nasional telah gagal dalam mengatasi ahlak anak bangsa. Melihat problematika yang melanda, pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak individu yang berpengetahuan luas, melainkan juga memunculkan karakter yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, untuk melahirkan generasi yang unggul, salah satu upaya yang dilakukan adalah lahirnya gagasan tentang pendidikan karakter.

Pendidikan karakter kini banyak diterapkan di lembaga pendidikan Indonesia, termasuk pondok pesantren. Masyarakat memandang bahwa pesantren dianggap memiliki karakteristik dalam mengaplikasikan pendidikan karakter bagi peserta didiknya (santri). Pandangan demikian, beranjak dari kenyataan bahwa pesantren menggunakan sistem asrama yang memungkinkan untuk menerapkan nilai-nilai dalam kehidupan keseharian. Nilai-nilai yang diimplementasikan di pondok merupakan nilai karakter khas pesantren yang dikenal dengan panca jiwa santri. Panca jiwa ialah nilai-nilai yang dijiwai oleh siapa pun yang tinggal di dalam pesantren yang terdiri dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.

Sebagai sistem pendidikan, pesantren memiliki beberapa subsistem, termasuk sistem pengajaran. Sistem pengajaran pesantren dalam mengaktualisasikan nilai-nilai karakter dilaksanakan melalui program Tarbiyah Diniyah yang meliputi dua cara, yaitu madrasiyah (diniyah klasikal) dan ma’hadiyah (luar diniyah klasikal). Diniyah klasikal (madrasah diniyah) merupakan madrasah yang seluruh mata pelajarannya memuat materi ilmu agama. Madrasah diniyah terdiri atas tiga macam, yakni formal, informal, dan nonformal.

Berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 13 Tahun 2014, pendidikan diniyah nonformal diselenggarakan dalam bentuk madrasah diniyah takmiliyah (MDT), pendidikan Alquran, majelis taklim, dan pendidikan keagamaan Islam lainnya yang dapat diselenggarakan dalam bentuk satuan pendidikan atau program. Adapun madrasah diniyah yang dimaksud dalam tulisan ini ialah madrasah diniyah takmiliyah (MDT). Madrasah ini bertujuan untuk melengkapi, memperkaya, dan memperdalam pendidikan agama Islam pada MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/MAK/SMK, dan pendidikan tinggi atau yang sederajat dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan santri kepada Allah SWT.

Proses pembelajaran pada MDT berdasarkan pada jenjang pendidikan dan random sesuai dengan kemampuan santri. Hal ini memungkinkan timbulnya ukhuwah Islamiyah di antara sesama. Kehidupan di pesantren selalu diliputi oleh semangat persaudaraan yang sangat akrab, sehingga susah dan senang tampak dirasakan bersama. Tidak ada lagi pembatas yang memisahkan mereka. Di samping itu, santri juga diajarkan untuk memiliki jiwa keikhlasan (ikhlas dalam menuntut ilmu). Keikhlasan memiliki makna sepi ing pamrih (tidak didorong oleh keinginan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu).

Keikhlasan adalah nyawa dari setiap perbuatan. Perbuatan tanpa adanya niat yang ikhlas bagaikan badan tanpa jiwa, karena sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung pada niatnya.
Santri belajar pula tentang kemandirian, seperti belajar sendiri. Santri harus memiliki jiwa kemandirian karena setiap saat kiai dan ustad/ah senantiasa memberikan tugas diniyah. Dengan adanya kemandirian pada santri, maka dapat dijadikan sebagai bekal kehidupan, baik di dalam kehidupan pesantren maupun setelah menjadi alumni. Selain penanaman ketiga nilai karakter pesantren tersebut, MDT juga berkontribusi untuk menanamkan nilai kesederhanaan dan kebebasan. Sederhana dalam arti santri diajarkan untuk mampu menguasai diri dalam menghadapi segala macam kesulitan yang dihadapi terutama selama proses pembelajaran. Kesederhanaan juga bermakna keputusan untuk menjalani hidup yang berfokus pada apa yang benar-benar berarti. Sedangkan jiwa kebebasan yakni santri diberi kebebasan untuk bertanya da

n mengeluarkan pendapat atau pemikirannya dalam rangka meyakinkan pemahamannya mengenai suatu pembahasan materi. Kebebasan diberikan pula dalam memilih jalan hidupnya di tengah masyarakat kelak.

Berdasarkan uraian tersebut dapat kita ketahui bahwa nilai-nilai karakter pesantren yang diaktualisasikan melalui kegiatan pembelajaran diniyah, mampu menjadi bekal bagi para santri dalam menjalani kehidupannya. Akan tetapi, minimnya jumlah jam pelajaran di kelas diniyah, menyebabkan aktualisasi nilai-nilai tersebut menjadi kurang efektif. Oleh sebab itu, aktualisasi nilai karakter pesantren juga dilakukan di luar kegiatan diniyah atau yang biasa disebut dengan kegiatan ma’hadiyah.

Ma’hadiyah adalah pendidikan yang diadakan tanpa berdasar kelas pada umumnya yang berupa pengajaran kitab kuning. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ma’hadiyah di antaranya sorogan, bandongan/wetonan, dan takrar (tahriri). Pertama, sorogan ialah metode pembelajaran kitab, di mana santri menghadap seorang kiai atau ustad/ah seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajari. Metode ini menuntut seseorang untuk mandiri. Santri, kiai, dan ustad/ah juga dituntut untuk melatih jiwa kesabaran (pantang menyerah/jiwa kesederhanaan), keikhlasan, kedisiplinan, dan ketaatan dalam mempelajari kitab.

Kedua, pada sistem bandongan/wetonan, kiai dan ustad/ah menjelaskan materi suatu kitab tertentu di hadapan santri secara masal dan santri membawa kitab yang sama memberi makna bacaan kiai tersebut. Dalam metode ini, jumlah santri yang berpartisipasi antara 5 sampai 500 orang. Dengan jumlah yang demikian, maka santri diajarkan untuk menanamkan jiwa ukhuwah Islamiyah. Selain itu, santri diberi kebebasan penuh, baik dari segi kehadiran maupun pemilihan materi pelajaran. Bagi santri yang mengikuti kegiatan bandongan, maka ia harus memiliki jiwa keikhlasan. Keikhlasan adalah pilar utama dari panca jiwa pesantren, nilai karakter ini harus senantiasa dijaga agar pesantren tetap eksis dan tidak berubah jati dirinya.

Ketiga, takrar ialah belajar wajib dengan cara mendiskusikan kembali materi pelajaran yang belum dipahami dengan sistem musyawarah yang dipimpin oleh seorang moderator. Kegiatan ini wajib diikuti oleh semua santri sesuai dengan tingkatan kelasnya masing-masing. Metode takrar akan melatih santri untuk berjiwa sederhana dan bebas. Dinamakan berjiwa sederhana karena santri pantang menyerah dalam mempelajari dan memahami ilmu yang dia peroleh dan berjiwa bebas karena santri diberi ruang untuk menyampaikan pendapatnya selama diskusi berlangsung. Kebebasan dan kesederhanaan merupakan suatu kekuatan (karakter) yang menjadi syarat bagi suksesnya suatu perjuangan dalam segala kehidupan.

Dengan demikian, program madrasiyah dan ma’hadiyah merupakan pengejewantahan dari corak dan warna pendidikan pesantren yang secara terus menerus dilestarikan sebagai jaminan untuk mempertahankan nilai karakter pesantren. Pendidikan nilai karakter pesantren terletak pada nilai panca jiwa. Dalam pendidikan pesantren akan terjalin jiwa yang kuat dan dapat menentukan falsafah hidup santri. Selain itu, tujuan pendidikan pesantren yang utama ialah terbentuknya nilai panca jiwa ke dalam diri santri, sehingga menjadikannya sebagai sebaik-baiknya manusia dalam hubungannya dengan Allah, sesamanya, dan lingkungannya.

*) Feny Dyah Arillia, S.Pd., Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jember. Artikel ini telah dipresentasikan dalam Seminar Internasional “The 3rd National and International Conference on Islamic Education and Education for Development” di Yala Rajabhat University, Thailand, pada 8-9 April 2020.