Migrasi digital dalam pembelajaran terjadi sejak pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memasuki wilayah Indonesia awal Maret 2020. Saat itu, virus yang juga dikenal dengan  Novel Coronavirus (2019-nCoV) itu menyerang 2 pasien pada tanggal 2 Maret 2020 dan pada tanggal 31 Maret 2020 berkembang cepat menjadi  1.528 pasien dan 136 meninggal dunia.

IKLAN

Sejak itulah, para penentu kebijakan (pemerintah pusat dan  daerah, dan diikuti oleh para pemimpin lembaga pendidikan) mengambil kebijakan yang sangat mengejutkan, yaitu penerapan social distancing dan physical distancing, serta online learning (pembelajaran virtual dalam dunia maya). Dari sini lahir para pembelajaran digital (baca: pendidik dan peserta didik) di bidang pembelajaran. Mereka menyadari bahwa pendekatan pedagogi dan androgogi sudah harus bermigrasi ke pendekatan heutagogy dan cybergogi. Mereka akhirnya berkreasi dan berinovasi di bidang pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran berbasis IT yang serba digital dan terhubung dengan internet, sebagai pelengkap pembelajaran konvensional (pembelajaran tatap muka). Lahirlah pembelajaran yang mengakomodasi keduanya secara proporsional dan kondisional dalam semua model pembelajaran blended learning.

Covid-19 telah mengondisikan terjadinya migrasi digital secara besar-besaran dan masih di berbagai bidang, termasuk bidang pembelajaran. Para imigran pembelajaran digital ini dapat dikategorikan ke dalam level unggul, menengah, dan rendah. Tipe imigran digital level unggul layak disematkan kepada para pendidik dan peserta didik yang telah melakukan pembelajaran online atau offline secara blended learning jauh sebelum Covid-19 datang, dengan modal literasi digital yang cukup. Mereka sudah terbiasa melakukan proses pembelajaran berbasis media, berbasis IT, dan berbasis multisumber. Laptop, smartphone, LCD, internet dan semacamnya bukan merupakan sesuatu yang asing bagi mereka dalam rangka peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.

Tipe imigran digital level menengah layak disematkan kepada para pendidik dan peserta didik yang lebih familier dengan pembelajaran face to face sekalipun sekali-kali pernah melakukan daring dalam kapasitas yang sangat minimalis dengan bekal literasi digital yang minimalis pula. Mereka sejatinya juga tidak asing dengan pembelajaran berbasis media, berbasis IT, dan berbasis multimedia dengan memanfaatkan laptop dan smartphone. Hanya saja, masih jarang diterapkan akibat kendala teknis terkait literasi digital yang kurang memadai.

Tipe imigran level rendah layak disematkan kepada mereka yang sejatinya tidak atau belum siap melaksanakan pembelajaran daring, mengingat pengalaman yang minim (jika tidak boleh dikategorikan have no experience) dan literasi digital yang kurang mendukung. Mereka terbiasa memanfaatkan laptop dan smartphone sebatas mengerjakan tugas dan persiapan mengajar, serta komunikasi. Sementara inovasi pembelajaran berbasis IT dan multisumber nyaris belum pernah dilakukan.

Belajar di Masa New Normal

Berbagai aplikasi digital sudah ditawarkan, mulai yang gratis hingga berbayar. Banyak aplikasi digital yang dijadikan alternatif solusi sebagai media pembelajaran daring, misalnya Zoomcloud Meetings, Googlemeet, Teamlink, learning management system (LMS), Googleclassroom, WhatsApp (WA) dan lain-lainya. Sebagai sebuah teknologi, tentu media pembelajaran berbasis digital menawarkan sejumlah kemudahan dan kenyamanan dengan karakteristik masing-masing. Namun demikian, kemudahan dan kenyamanan itu hanya dapat dinikmati oleh mereka yang telah memiliki literasi digital dalam kategori minimal cukup. Sebaliknya, bagi mereka yang belum atau tidak memiliki literasi digital dalam kategori cukup, maka pembelajaran daring merupakan sesuatu yang membebani dan bahkan memberatkan.

Dengan demikian, solusi pembelajaran digital bukan tanpa masalah. Berbagai persoalan

bermunculan, mulai dari infrastruktur lembaga, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik yang belum sepenuhnya siap, bahkan orang tua/wali peserta didik yang juga belum sepenuhnya menerima kondisi pembelajaran daring dari rumah. Ketersediaan kuota, kualitas sinyal, dan listrik PLN juga merupakan faktor yang memerlukan perhatian. Namun perlu dimaklumi, bahwa situasi dan kondisi memang emergency, sementara belajar tidak boleh berhenti, dan harus terjangkau oleh semua peserta didik.

Belajar memang tidak boleh berhenti sejak lahir hingga ajal menjemput. Prinsip lifelong education harus tetap dipegang teguh oleh pendidik dan peserta didik, sekalipun dalam kondisi pandemi Covid-19.  Dengan kreativitas dan kompetensinya, pendidik dituntut untuk mengorganisir dan mengorkestra pembelajaran yang dapat diikuti dan dinikmati oleh seluruh peserta didik, baik secara online, offline, maupun blended learning. Tentu ini, merupakan sebuah solusi yang tidak mudah, terutama bagi pendidik yang terbiasa offline and face to face, apalagi bagi mereka yang berstatus gaptek (gagap teknologi). Sebaliknya solusi ini merupakan sesuatu yang tidak terlalu susah bagi mereka yang sudah familier dengan pembelajaran berbasis IT, berbasis multimedia, dan berbasis internet.

Sebagai sebuah model pembelajaran di masa new normal, pembelajaran online, offline, dan blended learning, sejatinya tidak bisa dijustifikasi bahwa model yang satu lebih baik dari pada model yang lain. Semua dapat dikategorikan sama baiknya, asalkan diterapkan secara tepat, kontekstual dan kondisional sesuai ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) yang ada, serta mengikuti protokol kesehatan. Opsi pertama dan ketiga, hanya tepat bagi lembaga dan mereka yang telah siap dengan infrastruktur dan sarpras (sarana dan prasarana), serta memiliki literasi digital yang memadai. Opsi ini lazim dipilih oleh mereka yang selalu siap dengan kuota, internet atau wifi, dan berdomisili di wilayah yang hampir tanpa kendala di bidang per-signal-an internet. Sedangkan opsi kedua, sekalipun baik, namun sulit direalisasikan karena keharusan penerapan social distancing dan physical distancing selama pandemi Covid-19.

Pemerintah melalui keputusan bersama Kemendikbud, Kemenag, Kemenkes, dan Kemendagri pada tanggal 15 Juni 2020 telah merencanakan penerapan era New Normal dalam dunia pendidikan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kondisi wilayah dan protokol kesehatan yang ketat. Namun demikian, bagi para orang tua atau wali di tingkat dasar dan menengah bebas memilih antara tetap belajar dari rumah atau masuk sekolah, jika memang masih khawatir akan keselamatan putra putrinya dari pandemi Covid-19.

Proses pembelajaran pada prinsipnya harus terjangkau oleh semua peserta didik (education for all). Namun saat pembelajaran diharuskan berproses secara daring, maka muncul persoalan bagi para peserta didik dari kalangan ekonomi yang kurang beruntung yang mayoritas berdomisili di pedesaan. Mereka tidak dapat menyediakan perangkat pembelajaran daring yang dibutuhkan, semisal laptop, smartphone (HP), dan kuota data. Mereka masih disibukkan untuk memikirkan apa yang akan mereka konsumsi di hari ini dan hari esok. Tentu ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat yang berkecukupan.

Begitu juga halnya dengan peserta didik di perguruan tinggi. Perkuliahan, konsultasi, dan bimbingan yang serba daring tidak boleh menjadi penghambat bagi penyelesaian tugas akhir atau penelitian mereka (skripsi, tesis, atau disertasi). Sementara pembelajaran daring menjadi kendala bagi mereka yang sedang melakukan penelitian dengan jenis field research. Mereka mengalami kesulitan untuk melakukan pengumpulan data melalui teknik observasi partisipan, dan indept interview, karena jenis data yang dikumpulkan melalui dua teknik ini membutuhkan adanya proses pembelajaran yang normal.

Sebagai akhir tulisan ini, ada baiknya ditawarkan sejumlah solusi. Pendidik dan peserta didik hendaknya melakukan pembelajaran model blended learning secara proporsional dan kondisional. Peserta didik yang hanya mampu belajar secara offline, maka ada baiknya pendidik melakukan tatap muka secara terjadwal, bertahap, dan kondisional sesuai kemampuan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pada akhirnya, pembelajaran tidak boleh berhenti dalam kondisi emergeny sekalipun dan dalam model seperti apa pun. Pendidik harus tetap mengondisikan terjadinya belajar bagi peserta didik, dan peserta didik harus tetap belajar sesuai kemampuan, kondisi dan situasi yang ada. Wallahu a’lamu bi al-showab, wa yahdi as-sabiil.

 

*) Dr. H. Mundir, M.Pd., Kaprodi S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana IAIN Jember, dan pemerhati di bidang Teknologi Pembelajaran