Ilmu selalu berkembang dan berdialektika dengan realitas yang dinamis. Satu realitas keilmuan pada kenyataan empiris tidak bisa berdiri sendiri, selalu terkait, bahkan terikat dengan yang lain. Seperti hadirnya ilmu komunikasi dalam kehidupan manusia sebelumnya dipengaruhi  pandangan ilmuwan/ komunikator ilmu, seperti ilmu politik, ilmu psikologi, dan ilmu sosial lainnya. Maka, ketika berdialektika dengan ilmu lain, terjadinya sebuah konstruksi ilmu baru, hasil dari sebuah perjumpaan pemikiran para ilmuwan. Maka, konstruksi komunikasi bersanding dengan ilmu yang lain, semisal komunikasi politik, komunikasi massa, komunikasi budaya, komunikasi pendidikan, komunikasi bisnis, komunikasi kesehatan, komunikasi organisasi, komunikasi profetik, komunikasi dakwah, komunikasi Islam, komunikasi pesantren dan seterusnya.

IKLAN

Tentu saja, dialektika itu juga dilakukan dalam bentuk konstruksi yang berbeda dimana komunikasi menjadi obyek dari ilmu yang lain, seperti filsafat komunikasi, manajemen komunikasi, psikologi komunikasi, sosiologi komunikasi, teknologi komunikasi, dan seterusnya. Fenomena ini semakin menunjukkan bahwa tidak ada realitas yang bermakna tunggal. Realitas ilmu selalu multiperspektif, seiring dengan paradigma pemikiran manusia yang tidak mono-ide. Memaksakan suatu keilmuan bermakna tunggal, bukanlah suatu keniscayaan. Dalam konteks ontologis, konstruksi ilmu komunikasi selalu bersentuhan dengan ilmu yang lain.

Untuk mengujinya secara epistemologis dapat dikaitkan dengan realitas pandemi Covid-19 sebagai peristiwa global yang cara penyikapan manusia beragam dan tidak satu perspektif. Ilmuwan ekonomi akan memfokuskan penelitiannya pada prinsip-prinsip ekonomi dalam melihat realitas Covid-19. Sebagaimana juga ilmuwan politik, ilmuwan pertanian, ilmuwan, pendidikan, ilmuwan komunikasi, ilmuwan fisika, ilmuwan biologi, ilmuwan kesehatan yang melihatnya dari sisi metodologi riset  yang berbeda-beda.  Disinilah, masing-masing ilmuwan diuji konsistensinya dalam memilih sebuah metode untuk mencapai derajat ilmiah sebuah realitas berdasarkan kajian keilmuannya.

Dalam konteks aksiologis, kita juga seringkali mendapati  ilmuwan pendidikan, ilmuwan ekonomi, ilmuwan hukum, ilmuwan politik seringkali menggunakan makna-makna komunikasi untuk memudahkan penyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain, misalnya ‘’kita perlu komunikasikan kepada yang lain agar mereka memahami apa yang kita maksudkan.’’  Bahkan, etika komunikasi banyak digunakan di ruang-ruang publik yang menyentuh keilmuan lainnya. Secara aksiologis, makna komunikasi yang menjadi fokus kajian ilmuwan komunikasi  seperti sudah menjadi ‘’milik umum’’ lintas keilmuan.

Begitu kuatnya pengaruh komunikasi, maka para ilmuwan memperkokohnya dalam ruang akademik, yakni kampus di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maka munculnya, program studi ilmu komunikasi, mulai dari jenjang S1 (strata sarjana), S2 (jenjang magister), hingga S3 (level doktor) yang bernaung di beragam fakultas, misalnya berada pada Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  (FISIP) yang berada di bawah payung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dari ruang institusi intelektual, kompetisi dan kompetensi keilmuan komunikasi terus bergerak dinamis memperkokoh martabat dirinya melalui media Tri Dharma hingga saat ini.

Tidak ketinggalan, gegap gempita dinamika keilmuan komunikasi ini juga ‘’disikapi’’ dengan perspektif Islam. Misalnya, dibawah Kementerian Agama, lebih dari 250 program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) didirikan baik di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yang biasanya berada di Fakultas Dakwah maupun Fakultas Dakwah dan Komunikasi atau yang lainnya.

 

Komunikasi dan Penyiaran Islam

 

Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin hadir dengan seperangkat aturan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan.Islam menentukan garis-garis besar kehidupan umat manusia dengan kaidah-kaidah hukum yang jelas sebagaimana terdokumentasi abadi dalam Al Quran dan As Sunnah.Melalui petunjuk wahyu ini pula, para ulama dan  intelektual muslim melahirkan berbagai kajian keilmuan dengan mendasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam, selain ilmu Islam sendiri yang sangat luas, seperti Ulumul Quran, Ulumul Hadits, Bahasa Arab, dan sebagainya.

Nah, dalam konstruksi keilmuan, memang ada perdebatan yang belum usai, yakni mengenai dikotomi yang membedakan ilmu umum dan ilmu agama.Ada yang berpandangan tidak boleh ada dikotomi, setuju dikotomi, dan ada yang menegosiasikan agar ilmu umum dan ilmu agama itu berjumpa. Pandangan yang terakhir ini kemudian melahirkan model integrasi keilmuan  sehingga memunculkan pertemuan ‘’ilmu umum’’ dan ‘’ilmu agama’’, seperti ekonomi Islam, politik Islam, hukum Islam, manajemen Islam, pendidikan Islam, termasuk komunikasi Islam. Harus diakui perjumpaan ini telah mempertemukan antara ilmu-ilmu yang murni digali dari pemikiran manusia dengan menyandingkan dengan wahyu/ ilmu agama.  Sebut saja, dalam praktek akademik, para ilmuwan kampus seringkali  mengambilteori atau konsep dari  ilmuwan Barat, dan dipertemukan dengan prinsip-prinsip dalam ajaran Islam. Demikian sebaliknya, menjadikan ilmu Islam yang berdimensi ukhrawi untuk melihat/ membaca  ilmu umum yang lebih bersifat duniawi.

Dengan pandangan seperti ini, sah-sah saja mempertemukan kedua keilmuan itu karena ada hakikatnya ilmu itu bersumber pada Allah, Dzat Yang Maha Esa. Dalam kajian fikih dikenal dengan hukum fardhu kifayah/ kewajiban kolektif yang terkait dengan mempelajari ilmu umum/ dunia, dan fardhu ain/ kewajiban setiap individu muslim dalam menuntut ilmu agama. Karena mempelajari kedua ilmu itu sama wajibnya, maka negosiasi kedua ilmu itu sesuatu yang boleh-boleh saja, wajar, bahkan harus.

Secara historis, komunikasi terlahir dari kreativitas ilmuwan barat yang mendasarkan pada kajian empiris peristiwa yang terkait dengaan penyampaian pesan seseorang/ komunikator melalui media simbol-simbol yang dipertukarkan kepada orang lain/ komunikan untuk mencapai tujuan tertentu/ efek. Hal yang senada dengan  definisi komunikasi ini adalah makna dakwah dalam ajaran Islam yang merupakan aktivitas seorang muslim dalam mengajak orang lain dalam menjalankan ajaran Islamrahmtan lil alamin, baik kepada orang Islam sendiri maupun mengajak non-muslim.

Komunikasi Islam berarti memfokuskan pada proses penyampaian pesan dari seorang kepada orang lain melalui beragam media/ saluran  yang bertujuan mencapai kebaikan berdasarkan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Mendasarkan pada makna ini, maka konstruksi komunikasi Islam menganut beberapa prinsip penting.

Pertama, prinsip qoulan sadida sebagaimana termaktub dalam QS An Nisa ayat 9 yang dimaknai sebagai perkataan/ pembicaraan yang baik. Kalimat yang baik itu biasanya terkait dengan materi atau isi pesan maupun  tata bahasa yang disampaikan dari satu orang kepada orang lain melalui berbagai media komunikasi. Bagi ilmuwan komunikasi Islam, menjadi tantangan untuk mengkonstruksi materi pesan yang baik agar menjadi catatan amalan yang baik pula.

Kedua, prinsip qaulan ma’rufa yang dijelaskanmaknanya dalam QS. Al-Baqarah ayat 235 dan 263; QS An-Nissa  ayat 5 dan ayat 8, dan QS Al-Ahzab ayat 32. Prinsip ini mengajarkan bahwa pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator adalah ujaran yang baik, ungkapan yang sopan-santun, tidak menyakitkan komunikan/ khalayak/ audience, dan teks yang disampaikan itu dapat memberikan manfaat atau kemaslahatan bagi banyak orang.

Ketiga, prinsip qaulan baligha, yang dimaknai sebagai penyampaikan pesan yang lugas, luwes, dan jelas maknanya. Prinsip ini dapat dipahami dari ayat 63 surat An Nisaa. Dalam hal ini, seorang komunikator muslim hendaknya dapat menyampaikan pesan melalui berbagai media, baik media massa maupun media social secara efektif, teks yang digunakan langsung mengenai sasaran, mudah dipahami/ dimengerti, tidak bertele-tele (mbulet).

Keempat, prinsip qaulan karimamerupakan pembicaraan yang mulia karena diiringi dengan bentuk penghormatan kepada sasaran yang dituju (komunikan). Hal ini dapat dimaknai dalam surat Al Isra ayat 23 yang memerintahkan kepada kita agar menyampaikan perkataan yang tidak menyakiti kepada orang tua kita, tidak membentak-bentak. Ini menjadi kewajiban kita dalam berkomunikasi keluarga, yakni dengan orang tua kita.

Kelima, prinsip qaulan maysura dapat dimaknai sebagai pesan komunikasi yang mudah diterima/ diserap, mudah dimengerti, dan mudah dicerna maksud dari pesan yang disampaikan.Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Isra ayat 28 yang menyatakan betapa pentingnya menyampaikan ucapan yang mudah dimengerti oleh khalayak, baik disampaikan melalui media maupun secara langsung.

Keenam, prinsip qaulan layina. Prinsip ini dapat dimaknai sebagai perbincangan yang nyaman di dengar, penuh kerendahan sehingga dapat menyentuh perasaan komunikan. Seorang komunikator  memperhitungkan betul agar produk teks pembicaraannya dapat di dengar dengan enak dan masuk ke dalam benak komunikan. Dalam surat Thaha ayat 44 dikisahkan tentang ungkapan Nabi Musa dan Harun kepada Raja Fir’aun yang disampaikan dengan lemah lembut, bukan kasar.

Dalam konteks komunikasi seperti ini, tentu ada tujuan/ efek yang diharapkan dengan berbicara lemah lembut melalui berbagai media komunikasi, baik media massa maupun media sosial memberikan pengaruh kepada khalayak sehingga tergerak melakukan tindakan komunikasi berdasarkan pesan yang diterimanya.

Setidaknya, enam prinsip komunikasi Islam itu dapat dijadikan sebagai standar dalam berkomunikasi dengan orang lain sebagai perwujudan membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia (habblum minnass). Dorongan membangun komunikasi yang baik itu juga menjadi spirit bagi seorang muslim dalam menjaga hubungan yang baik dengan Allah (hablum minnallah). Semoga bermanfaat!

 

*Dr. Kun Wazis, M.I.Kom, Kaprodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana IAIN Jember, Anggota Ombudsman Jawa Pos Radar Jember.