Pendidikan adalah kebutuhan mendasar dan sangat penting bagi manusia. Karena dengan pendidikan akan menciptakan manusia yang berkualitas, berpengetahuan dan berilmu, memiliki skill (keterampilan), berbudi pekerti yang luhur dan berkarakter. Manusia yang memiliki ilmu dan keterampilan serta ber-akhlakul karimah (berbudi pekerti yang luhur) tentu berbeda dengan manusia yang tidak memiliki aspek-aspek tersebut. Sehingga dengan keilmuan dan budi pekerti yang luhur dapat mengisi kehidupannya lebih bermanfaat, berguna dan bermakna bagi orang lain “khoir an-naas anfauhum lin-naas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).

IKLAN

Di samping itu, setiap manusia yang diciptakan oleh Allah telah diberi misi dan tanggung jawab masing-masing untuk meneruskan kehidupan di atas muka bumi ini. Di mana setiap tugas dan tanggung jawab tersebut merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Termasuk di dalamnya adalah memastikan terciptanya generasi muslim yang beriman, bertakwa, berakhlak dan berkualitas.

Oleh karena itu, pentingnya pendidikan, terutama pendidikan agama yang bermutu dalam membentuk akhlakul karimah, wajib diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Jika kita perhatikan kehidupan anak-anak sekarang, banyak aspek akhlak dan moral anak-anak yang memprihatinkan, seperti masalah aurat yang serba terbuka, kelahiran anak di luar nikah, pergaulan bebas, minuman keras, narkoba, serta budaya pornografi dan pornoaksi. Semua ini menunjukkan lemahnya pendidikan agama dan kendornya ikatan aqidah dan akhlak pada diri anak, di samping tentunya sulitnya anak-anak mendapatkan “suri tauladan” yang baik dari lingkungannya, baik lingkungan sosialnya utamanya maupun lingkungan keluarganya.

Tentunya hal ini menjadi tanggung jawab kita masing-masing sebagai orang tua untuk memberikan bekal pendidikan agama yang bermutu dan akhlak mulia kepada anak kita. Sehingga akan terbentuk karakter yang Islami dan ber-akhlakul karimah.

Salah satu konsep hidup yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW adalah keteladanan dan pendidikan terhadap anak-anak. Pendidikan anak bermula dari individu-individu yang menjadi bapak dan ibu itu sendiri. Seorang bapak maupun ibu harus mengerti tujuan manusia diciptakan Allah di dunia ini? Apa tugas dan kewajiban mereka? Dan bagaimana pertanggungjawabannya kelak di sisi Allah? Tanpa memahami perkara-perkara ini, mustahil lahir sebuah generasi yang bertakwa dan ber-akhlakul karimah dan mampu memiliki kecemerlangan di dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Anak merupakan amanah dari Allah yang hendaknya dipelihara dan dibimbing sesuai dengan pesanan dan panduan syariat Allah dan rasul-Nya. Jika ini tidak dilaksanakan dengan betul, maka ia bisa menjadi penyebab orang tuanya terseret ke lembah neraka di akhirat dan mendapat malu di dunia. Amanah ini dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surah at-Tahrim, ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Zaman telah berubah, perkembangan dan kemajuan kehidupan sedikit banyak telah mengubah nilai-nilai murni kehidupan dan keimanan manusia. Maka sebagai ibu bapak, kita hendaklah banyak memberi bekal keimanan kepada anak-anak kita agar tidak hanyut dan lenyap ditelan perkembangan zaman.

Sejak kecil, anak-anak seharusnya menerima asupan nutrisi pendidikan agama yang cukup. Mulai dari dalam kandungan, setelah lahir, hingga dewasa. Pendidikan agama sejak dini bahkan sejak di dalam kandungan (pranatal education) sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian anak. Bahkan konsep pranatal education tersebut dalam agama Islam telah dijelaskan secara lebih luas, misalnya di awali dalam memilih pendamping hidup (jodoh).

Menurut hadist Nabi Muhammad SAW, setidaknya ada 4 kriteria ketika seseorang ingin mencari pendamping hidup, di mana perempuan dinikahi karena empat faktor, yaitu 1) hartanya, 2) nasabnya, 3) kecantikannya dan 4) karena agamanya. Namun kita harus mengutamakan wanita yang mempunyai agama. Maka, pilihlah jodoh yang baik agamanya, yakni taat kepada Allah dan rasul-Nya.

Agama seharusnya dijadikan kriteria utama ketika seseorang menentukan pasangan hidup. Jika tidak dapat mendapatkan tiga kriteria lainnya yang sudah ditetapkan Nabi SAW di atas, minimal harus mendapat satu kriteria ini. Orang yang baik agamanya pastinya memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi. Ketentuan ini termasuk ada korelasi dengan pendidikan anak, mengajarkan pendidikan agama dan menanamkan budi pekerti yang luhur kepada anak sehingga akan membawa keluarga yang taat pada aturan Allah dan Rasul-Nya.

Hal ini diakui sendiri oleh ilmu pengetahuan modern yang mengatakan, bahwa masa yang paling dominan untuk membentuk kepribadian manusia adalah masa kanak-kanak. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang artinya:“Sesungguhnya setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri) sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. ath-Thabarani).

Berbicara tentang bagaimana cara mendidik anak, kita dapat menengok pendidikan yang dilakukan Luqman kepada anaknya, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, yaitu mencakup 1) asas pendidikan tauhid, 2) pendidikan akhlak (norma dan etika), 3) pelaksanaan salat (ibadah), 4) pendidikan amar makruf nahi mungkar (kepekaan sosial), dan 5) bersikap tabah dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat (interaksi sosial).

Pokok-pokok pendidikan dasar ini harus ditanamkan orang tua kepada anak sejak dini. Sudah barang tentu, orang tua harus berusaha menjadi teladan (menjadi contoh langsung) yang bisa ditiru oleh anak. Karena inti utama pendidikan anak adalah keteladanan. Oleh karena itu, saleh/salehah atau tidaknya seorang anak menjadi pertanda berhasil atau gagalnya orang tua dalam mendidik anaknya. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang artinya “Dan bahwasanya anak-anak itu termasuk hasil usahamu.” (HR. al-Bukhari).

Adalah menjadi harapan setiap orang tua agar dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah. Anak saleh dan salehah adalah investasi tanpa rugi bagi setiap orang tua. Di dunia ia memuliakan, dan di akhirat menyelamatkan dari siksaan Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis yang artinya:“Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: 1) sedekah jariah, 2) ilmu yang bermanfaat, dan 3) anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Sedangkan pada hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “ada empat macam kebahagiaan yang akan dirasakan oleh seseorang, yakni; 1) isteri yang baik budi pekertinya, 2) anak-anak yang berkelakuan baik dan berbakti kepada orang tuanya, 3) teman pergaulannya yang baik-baik, dan 4) rizkinya di tempat tinggalnya sendiri.

Di akhir tulisan singkat ini, marilah kita selalu berdoa kepada Allah setelah selesai salat fardu agar kiranya anak-anak kita, keluarga kita oleh Allah dijadikan anak-anak yang saleh dan salehah, dianugerahkan anak-anak sebagai pendingin mata dan penyejuk hati dan dijadikan mereka orang-orang yang selalu bertaqwa kepada Allah, sebagai doa yang kita baca yang tertera dalam Alquran surat Al-Furqon: 74 yang artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

*Dr. Khotibul Umam, M.A, Dosen Pascasarjana IAIN Jember dan Kepala Pusat Audit dan Pengendali Mutu pada Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Jember.