Kemiskinan masih menjadi wajah keseharian sebagian masyarakat, tak terkecuali di Kabupaten Jember. Karena itu, ikhtiar melukar kemiskinan sudah sepatutnya tetap menjadi bagian niscaya dari resolusi tahun baru 2020. Terlebih 2020 adalah tahun politik, momen di mana pilkada langsung dihelat serentak di seantero Nusantara.

IKLAN

Dan agama, dalam hal ini Islam, dapat dijadikan inspirasi, bukan aspirasi politis, bagi peneguhan ikhtiar itu agar ke depan kemiskinan lebih bisa diarifi secara produktif. Ini relevan karena memuliakan kaum miskin dan tertindas (mustadl’afiin) adalah satu di antara tema besar ajaran Islam.

Allah SWT, misalnya, mengecam orang-orang yang tidak menyantuni dan melindungi kaum miskin dengan menyebut mereka sebagai pendusta agama (Qs. 107: 1-3). Di Qs. 28: 5 bahkan Ia menjanjikan kaum tertindas karunia kepemimpinan dan peneguhan sebagai pewaris bumi. Tidaklah berlebihan bila Islam lalu acap disebut agama yang berpihak pada kaum mustadl’afiin dan Allah adalah Rabbul Mustadl’afiin, Tuhan orang-orang tertindas.

Demikian juga komitmen keberpihakan Nabi Muhammad SAW. Dalam praksisnya, ia selalu memuliakan kaum fuqaraa’ dan masaakiin. Ia memilih lebih sering berada di tengah kaum papa, mencintai dan menggembirakan mereka. Pembelaannya terhadap mereka sangatlah besar. Wajar jika ia digelari abul masaakiin, ayah bagi orang-orang miskin.