Menuntut ilmu adalah perintah agama. Tidak ada alasan apa pun bagi umat Islam untuk tidak menuntut ilmu dengan segala keterbatasan dan dalam kondisi apa pun. Telah jelas bagaimana generasi awal Islam mengimplementasikan perintah untuk menuntut ilmu ini. Kita dapat menemukan dengan mudah berbagai narasi tentang ghirah kaum muslim untuk menuntut ilmu, sampai-sampai seorang orientalis berkata bahwa orang Islam adalah orang yang sangat “rakus” dalam menuntut ilmu.

Al-Farabi, salah seorang intelektual muslim yang hidup pada abad ke-9 M, pernah menulis buku yang berjudul Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah. Kitab ini menjelaskan tentang gagasan masyarakat atau negara yang ideal. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang dipimpin oleh sosok berkualitas paripurna, dan berakhlak baik. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang tujuan hidup, tahu apa yang hendak dikerjakan, serta menjauhi akhlak tercela. Masyarakat seperti ini oleh Al-Farabi disebut dengan Ahl al-Madinah al-Fadhilah. Untuk memudahkan pemahaman maka Al-Farabi membuat perbandingan dengan istilah lain, yaitu al-Madinah al-Jahilah, al-Madinah al-Fasiqah, al-Madinah al-Mubadillah, dan al-Madinah al-Dhalalah. Kesemua model menunjuk kepada tatanan masyarakat yang tidak ideal dan tidak seharusnya ada dalam masyarakat Islam.

Gambaran masyarakat ideal yang dicita-citakan Al-Farabi ini telah terwujud pada masa Islam klasik, tercapai karena partisipasi masyarakat yang sangat masif dalam bidang pendidikan. Ada yang dengan menggelontorkan bantuan finansial, atau menyiapkan lembaga-lembaga pendidikan sebagai tempat belajar bagi siapa pun yang berkehendak untuk belajar.

Tercatat Madrasah Hanafiyah di Baghdad yang mendapatkan dana hibah dari masyarakat tidak kurang 72 ribu dinar setiap tahun, sementara kebutuhan finansial untuk madrasah hanyalah menghabiskan dana sekitar 12 ribu dinar. Hal ini menggambarkan betapa besar perhatian dan dukungan dari masyarakat untuk lembaga pendidikan. Hal lain adalah banyaknya tempat-tempat belajar yang disediakan oleh masyarakat. Ibnu Sina (w. 428 H /1037 M) menyediakan halaman rumahnya sebagai tempat berkumpul dan belajar filsafat dan kedokteran. Diceritakan muridnya disuruh untuk membacakan kitab Qanun fi al-Tibb sementara di waktu yang lain membahas kitab asy-Syifa.

Setelah selesai belajar, kemudian mereka menikmati hidangan sambil mendengarkan musik. Hal ini dilaksanakan di malam hari karena pada siang hari Ibnu Sina bekerja sebagai dokter di istana. Demikian juga dilakukan oleh al-Ma’arri (w. 449 H / 1058 M) salah seorang penyair kondang dari daerah Syria yang menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar dan pengkajian humaniora. Muridnya berasal dari tempat-tempat yang jauh dan biasanya dari kalangan ekonomi bawah dan tidak dipungut biaya yang memberatkan. (Uraian lebih detil lihat di George A. Makdisi, 1990).

Hari-hari ini proses pendidikan dengan jalan daring masih menjadi pilihan utama oleh berbagai lembaga pendidikan di Indonesia, meski sebagian besar stakeholder-nya sudah mulai tidak nyaman. Harus diakui bahwa sistem belajar full daring memang belum siap sepenuhnya diimplementasikan di lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi, dengan segala keterbatasannya. Akan tetapi, inilah jalan terbaik yang bisa dilakukan sembari terus-menerus memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.

Pemerintah juga telah berupaya untuk menyiapkan tenaga pendidik agar mampu beradaptasi dengan kondisi ini. Berbagai pelatihan dilaksanakan untuk membantu tenaga pendidik beradaptasi dengan new normal. Namun jumlah tenaga pendidik yang sangat besar tentu saja tidak bisa dikaver seluruhnya oleh negara. Maka saat ini negara harus melakukan kolaborasi dengan masyarakat dan di waktu yang bersamaan masyarakat harus mau berpartisipasi dalam pendidikan, karena memang tanggung jawab pendidikan menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa.

Untuk mewujudkan hal ini tidaklah mudah. Apalagi di era pandemi yang sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda landai apalagi berakhir. Di sisi lain kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat untuk memenuhi protokol kesehatan yang masih rendah, jauh panggang dari api. Tidak mengherankan jika juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyampaikan melalui kanal YouTube BNPB pada Rabu, 7 Oktober 2020, bahwa puncak pandemi Covid-19 di Indonesia tidak bisa diprediksi karena tergantung dengan perubahan perilaku masyarakat.

Maka, partisipasi masyarakat memegang peran yang sangat signifikan dalam mewujudkan hal ini. Pemerintah (baca: lembaga pendidikan formal) tidak lagi bersifat superior untuk menuntaskan tujuan pendidikan. Sebab, sebenarnya pemerintah memiliki keterbatasan yang jelas dan nyata, baik secara finansial, dan ketersediaan sumber daya manusia, juga informasi konkret terhadap kebutuhan peserta didik. Sementara di sisi lain, mayoritas masyarakat adalah masyarakat yang perlu dientaskan dan perlu diberdayakan serta paling tahu terhadap kebutuhan dirinya. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat memerlukan sentuhan-sentuhan untuk mengorganisasi mereka dalam hal memberdayakan dirinya.

Sekolah dan masyarakat harus bersinergi dalam menyelenggarakan pendidikan yang terstandar dengan baik. Sekolah tidak bisa menyelesaikan hal ini sendirian, sementara masyarakat juga tidak boleh menuntut terlalu banyak. Justru inilah saat yang tepat untuk saling memberi dan menerima, saling membantu dan bergotong royong. Inilah saatnya untuk berkolaborasi. Kolaborasi adalah the mutual engagement of participants (Emily R. Lay, 2011). Kolaborasi adalah keterlibatan bersama dalam sebuah tujuan tanpa dibatasi tempat dan waktu. Sekolah dan masyarakat bersama-sama fokus untuk bekerja agar tujuan pendidikan di sekolah bisa tercapai dengan optimal.

Orang tua tidak seharusnya menuntut terlalu banyak kepada sekolah, maka keduanya harus bisa duduk bersama. Implikasinya, pengambilan kebijakan tidak lagi satu arah (top down atau button up saja) melainkan harus dua arah sehingga melahirkan win-win solution. Pendekatan kolaboratif inilah dalam banyak hal akan menggantikan pendekatan hirarki yang selama ini telah berjalan. Pada abad 21, kolaborasi akan menjadi pilihan utama dalam sebuah organisasi untuk menjalankan dan mewujudkan tujuannya. (Edward M. Marshall, 1995)

Masa pandemi dan kebutuhan belajar setiap warga adalah dua hal yang berjalan bersamaan. Pandemi adalah masa yang tidak terelakkan, sedangkan belajar merupakan kebutuhan (baca: kewajiban) bagi sekolah dan peserta didik. Maka sudah semestinya kolaborasi antara semuanya menjadi sesuatu yang harus diinisiasi dan diwujudkan secara nyata.

* Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag., Dosen Pascasarjana IAIN Jember dan Guru Besar IAIN Jember