Minggu-minggu ini, musim penerimaan mahasiswa baru di jenjang perguruan tinggi dan atau murid baru di jenjang sekolah menengah atas melalui jalur prestasi akademik dimulai. Terdapat banyak pilihan program studi atau kelompok bidang ilmu yang bisa diambil oleh calon mahasiswa atau calon siswa baru untuk ditekuni di jenjang berikutnya.  Di level sekolah menengah misalnya, ada bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang nanti menjadi tiga bidang yaitu fisika, biologi, dan kimia, atau bidang keagamaan. Atau di level perguruan tinggi, ada puluhan atau bahkan ratusan program studi yang ditawarkan oleh kampus, seperti program studi Biologi, program studi Matematika, program studi Hukum, program studi Pendidikan Agama Islam, program studi Psikologi, program studi Ekonomi Syariah, program studi Kedokteran dan seterusnya.

IKLAN

Akan tetapi, karena ada diksi ilmu agama dan non agama, maka seolah-olah ada dikotomi antara ilmu agama dan non agama. Dalam tradisi keilmuan Islam, dikotomi keilmuan sesungguhnya tidak dikenal. Para sarjana muslim yang masyhur, semisal al-Farabi (870 – 901 M), Ibnu Sina (930 – 1037 M), al-Ghazali (1058 – 1111 M)  atau Ibn Khaldun (1332 – 1406 M) dalam tulisan-tulisannya tidak pernah melakukan dikotomi ilmu jika kita bisa memahami pemikiran mereka dengan benar, meskipun secara tekstual para sarjana muslim tersebut membuat klasifikasi dan pengelompokan ilmu.

Al-Farabi dalam Ihsha al-Ulum menyebut ada lima kelompok ilmu yaitu ilmu bahasa, logika, ilmu pengetahuan dasar, ilmu alam dan metafisika. Selanjutnya, lima kelompok ilmu ini dirinci lagi menjadi lebih detail seperti metafisika meliputi ilmu wujud, ilmu hukum, dan retorika. Ilmu alam meliputi ilmu mineral, ilmu hewan, dan ilmu tumbuh-tumbuhan, dan seterusnya. Ibn Khaldun membaginya menjadi dua kelompok besar yaitu al-ulum al-aqliyah (ilmu-ilmu rasional) dan al-ulum al-naqliyah (ilmu-ilmu yang diwariskan), dan seterusnya.

Membuat klasifikasi ilmu yang dilakukan oleh para sarjana muslim ini  tidak serta merta mereka membedakan ilmu-ilmu tersebut. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Al-Kindi (801 – 803 M) seorang filsuf Arab pertama yang menyajikan klasifikasi ilmu hanya menjadi tiga hal  yaitu ilmu teoritis, ilmu praktis dan ilmu yang produktif, yang kemudian diikuti oleh al-Farabi menjadi lebih rinci. Hal itu dilakukan sebetulnya hanya untuk mempermudah memahami struktur keilmuan secara menyeluruh. Meskipun ilmu-ilmu ini nampak berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun sebetulnya ilmu ini bersumber dari  yang satu dan sebab tradisi Islam sumber ilmu itu adalah berasal dari yang satu, Allah SWT.

Karena bersumber dari yang satu, maka ilmu ini tidak perlu untuk dipisahkan atau dibeda-bedakan karena meskipun di hilirnya ada cabang-cabang, tetapi sejatinya di hulunya adalah sama. Kebanyakan orang hanya melihat apa yang ada di hilir yang memiliki banyak cabang tersebut.  Karena yang dilihat hanya cabang-cabang yang ada di hilir itulah, maka sebagian besar orang terjebak pada persepsi adanya dikotomi keilmuan.

Oleh karena itu, persoalan dikotomi ilmu sebetulnya dimulai ketika masyarakat gagal memahami konsep dan struktur keilmuan yang ada dan berkembang selama ini. Pembidangan ilmu yang dipahami seolah-olah menempatkan adanya pemisahan di antara ilmu-ilmu tersebut. Padahal sebenarnya di antara ilmu-ilmu itu berhubungan dan saling memiliki keterkaitan. Maka bagi orang yang memiliki pandangan dan spektrum lebih luas dan menemukan sumber ilmu, dia akan melihat sebetulnya cabang-cabang ini berasal dari hulu yang sama.

Maka dari itu persoalan dikotomi keilmuan sebetulnya adalah persoalan cara pandang terhadap realitas (wujud). Cara pandang seseorang dalam memahami realitas akan menentukan bagaimana dia melihat ilmu-ilmu yang sudah sangat beragam. Ketika seseorang memahami realitas (ilmu) dan belajar secara parsial sebetulnya dia akan mudah terjebak dalam  dikotomi. Sebaliknya meski yang dipelajari hanyalah serpihan dari realitas yang beraneka, akan tetapi sadar bahwa sebetulnya realitas yang beraneka ini berasal dari yang satu, maka dia tidak akan memiliki cara pandang yang dikotomis.

Oleh sebab itu, munculnya pembidangan dan klasifikasi ini sebetulnya tidak akan menjadi masalah manakala kita memiliki cara pandang yang benar. Pembidangan atau pengklasifikasian ilmu ini akan bermasalah manakala cara pandangnya adalah masih parsial. Karena persoalan dikotomi ilmu ini sebetulnya bukan karena adanya klasifikasi atau pembidangan atas ilmu tersebut, akan tetapi persoalan dikotomi ini adalah persoalan cara pandang seseorang dalam memahami realitas. Persoalan dikotomi adalah persoalan cara pandang!.

*) Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag., Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Jember.