Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Potret Pesantren Talangsari

Safitri • Jumat, 11 Desember 2020 | 06:28 WIB
Photo
Photo
Sengaja dalam tulisan ini kami menyajikan potret “Pesantren Talangsari”, yang telah mengalami proses transformasi sekitar satu abad lamanya. Namun, tidak seluruh perjalanan sejarahnya bisa dideskripsikan karena keterbatasan kolom perspektif ini. Hal yang akan dideskripsikan hanyalah sekitar setengah abad terakhir, karena secara kebetulan memori penulis masih bisa menjangkau untuk rentang waktu tersebut.

Istilah Pesantren Talangsari adalah pesantren yang berpusat di wilayah kota di Kabupaten Jember, persisnya di Jalan KH Siddiq, Talangsari, Jember. Pesantren Talangsari merupakan pesantren cukup terkenal, karena reputasi pengasuhnya yang sangat luar biasa. Nama KH Muhammad Shiddiq diabadikan sebagai nama jalan di Talangsari. Putra KH Muhammad Shiddiq adalah tokoh-tokoh nahdliyin dan menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Seperti KH Mahfudz Shiddiq yang pernah menjabat Ketua PBNU dalam usia yang relatif muda dan KH Achmad Siddiq sebagai Rais Am PBNU (1984-1991). Pesantren Talangsari ibarat fajar timur pemikiran Islam Indonesia, karena banyak pemikiran keislaman yang berkontribusi besar bagi perjalanan Nahdlatul Ulama dan kebangsaan Indonesia.

Satu abad yang lalu, di Talangsari hanya ada satu pesantren, yakni Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi, yang dirintis dan dibina langsung oleh KH Muhammad Shiddiq sejak tahun 1915. Setengah abad yang lalu, Pesantren Talangsari mengalami proses transformasi, sebagai konsekuensi pertumbuhan dan perkembangan generasi KH Muhammad Shiddiq. Di Talangsari, ada beberapa pesantren yang diasuh oleh putra-putri KH Muhammad Shiddiq yang aktivitasnya berpusat di Jalan KH Shiddiq tersebut, yaitu: Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (Jalan KH Shiddiq 201), Pesantren Zainab Shiddiq (Jalan KH Shiddiq 203), Pesantren Al-Fattah (Jalan KH Shiddiq 200), dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putri (Jalan KH Shiddiq 82).

Keempat pesantren tersebut, pada tahun 1970-an sama-sama dibina oleh generasi pertama dari KH Muhammad Shiddiq, yang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di Kabupaten Jember. Seperti Pesantren Ash-Shiddiqi Putra dibina oleh KH Achmad Siddiq, Pesantren Zainab Shiddiq dibina oleh Nyai Hj Zainab Shidiq, Pesantren Al-Fattah dibina oleh KH Moh Dhofier Salam/suami Nyai Hj. Zulaikho Shiddiq, dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putri dibina oleh KH Abdul Chalim Shiddiq.

Setelah itu, keempat Pesantren Talangsari tersebut telah dibina oleh generasi kedua, atau bahkan ketiga dan keempat. Seperti Pesantren Ash-Shiddiqi Putra dibina oleh KH Muhammad Balya Firjaoun Barlaman (generasi ke-2, putra KH Achmad Siddiq atau cucu KH Muhammad Shiddiq), Pesantren Zainab Shiddiq dibina oleh KH Ghalban Aunir Rahman, MA (generasi ke-4, cucu Nyai Hj Zainab Shiddiq atau cicit KH Muhammad Shiddiq), Pesantren Al-Fattah dibina oleh KH Arief Rusydi (generasi ke-4, cucu KH Moh. Dhofier Salam/cicit dari KH Muhammad Shiddiq), dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putri dibina oleh KH M. Ayyub Saiful Rijal Abdul Chalim Shiddiq (generasi ke-2, putra KH Abdul Chalim Shiddiq atau cucu KH Muhammad Shiddiq).

Selain keempat pesantren tersebut, generasi KH Muhammad Shiddiq, yang dikenal sebagai generasi mbah Shiddiq mengembangkan banyak pesantren, baik di Talangsari, di luar Talangsari, maupun di luar Kabupaten Jember. Yang mengembangkan pesantren di Talangsari antara lain KH Muhammad Farid Wajdi dengan Pesantren Al-Ghafilin Gang Panili, Nyai Hj Asni Furoidah yang mengembangkan Pesantren Tahfidz, dan KH Afthon Ilman Huda (alm.) dengan Pesantren Tahfidznya. Sementara itu, generasi mbah Shiddiq yang mengembangkan pesantren di luar Talangsari antara lain adalah KH Farouq Muhammad yang merintis Pesantren Riyadhus Sholihin di Jalan Melati (sekarang dibina KH Mushoddiq Fikri), KH Yusuf Muhammad, LML (alm.) yang merintis Pesantren Darush Sholah di Jalan Mohammad Yamin (sekarang dibina oleh Nyai Hj. Siti Rosyidah), KH Abdul Hamid Hasbullah yang merintis Pesantren Al-Azhar di Jalan Monginsidi di Sumbersari, KH Sodiq Machmud, SH/ Prof. KH Sahilun A Nasir (alm.) yang merintis Pesantren Al-Jauhar di Tegalboto Jember, KH Luthfi Abdullah MA yang merintis Pesantren Wahid Hasyim di Balung, dan KH M. Ayyub Syaiful Rijal yang merintis Pesantren Sabilil Muttaqin di Maesan Bondowoso.

Bahkan di luar Kabupaten Jember, banyak pesantren yang dirintis keluarga “Pesantren Talangsari”, seperti Pesantren Salafiyah di Pasuruan, Pesantren yang dirintis KH Ahmad Qusyairi Shiddiq di Pasuruan dan Banyuwangi, dan lebih banyak lagi pesantren yang dirintis dan dibina oleh para santri alumni Pesantren Talangsari.

Jadi, membaca dan memotret Pesantren Talangsari sekarang, berarti bukan hanya memotret satu pesantren yang terletak di Jalan KH Shiddiq 201, Jember, karena pesantren tersebut telah mengalami proses transformasi lebih dari satu abad. Lebih dari itu, harus memotret puluhan pesantren yang berkembang di berbagai wilayah dengan khittah yang sama dengan pesantren asal, karena perkembangan pesantren selalu mengikuti arus kesinambungan dan perubahan. Ada proses pewarisan nilai-nilai lama yang terjadi secara turun temurun, sekaligus ada nilai-nilai baru, ada inovasi yang secara aktual selalu terjadi dalam merespons perubahan zaman, perubahan kebijakan dan perubahan tuntutan masyarakat.

Yang pasti, Pesantren Talangsari sudah lebih satu abad menjadi rujukan umat dalam kajian dan praktik keislaman ahlussunnah wal jamaah. Ketika kami masih di Pesantren Talangsari (1978-1987), setiap malam Selasa banyak pejabat dan dosen yang istiqamah mengaji kitab Ihya Ulumuddin, setiap malam Senin ribuan jamaah dzikrul ghafilin mengikuti pengajian umum, zikir bersama dan qiyamul layl yang langsung dipimpin oleh KH Achmad Siddiq.

Di tengah proses perubahan yang sangat dahsyat, ada pesan khusus yang kami terima langsung dari KH Achmad Siddiq: “biarkan santri saya kelak memilih profesi yang bermacam-macam, yang penting jiwa keagamaan yang dibina di pesantren tetap mewarnai jiwa mereka dalam menjalani kehidupan ini.”

Itulah Potret Terkini Pesantren Talangsari. Sebagai alumni pesantren ini saya akan terus mendoakan secara khusus, semoga Pesantren Talangsari, Pesantren yang dirintis Keluarga Pesantren Talangsari, dan Pesantren yang dirintis Alumni Pesantren Talangsari bisa istiqamah berkhidmat untuk membina generasi yang akan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa, demikian juga bagi pesantren lainnya, karena “khairun nas anfauhum linnas” .

* Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA., Direktur Pascasarjana IAIN Jember, Ketua Umum MUI Kabupaten Jember, dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember. Editor : Safitri