Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Namun demikian, silaturahmi di masa Idul Fitri bukan hanya sekedar mengunjungi tetangga, anjangsana ke kerabat dekat ataupun saudara, namun ternyata lebih dari itu. Menjelang Idul Fitri, siapa pun dia seolah-olah merasa ada kewajiban untuk mengunjungi kembali kampung halamannya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya tradisi mudik, yaitu pulang kembali ke kampung halaman. Di samping untuk bertemu dengan kerabat, sahabat dan kolega juga bertujuan untuk melepas rindu terutama kepada saudara dan kedua orang tuanya selagi masih ada. Dan apabila kedua orang tuanya sudah meninggal, maka ia akan mengunjungi makam keduanya.
Oleh karena itu, tradisi mudik tidak hanya berdimensi lahiriah semata yang ditandai dengan pertemuan secara fisik, namun lebih dari itu, tradisi mudik juga berdimensi batini. Ada ruang ruang-ruang psikis yang terdapat di lingkungan tempat ia lahir, tumbuh dan berkembang. Dan hal ini hanya akan dijumpai di kampung halamannya.
Maka, di samping untuk bersilaturahmi, sungkem kepada kedua orang tua, mudik juga bertujuan untuk mengenang masa-masa kecil. Di saat itulah semua kenangan indah muncul kembali, ketika bertemu dengan teman bermainnya, berjumpa dengan guru mengajinya, atau ketika berada di tempat-tempat dan momen tertentu. Dengan demikian, mudik Idul Fitri tidak sekedar menjadi hari kemenangan setelah melewati puasa Ramadhan. Tradisi mudik sarat dengan aspek-aspek lain, termasuk persoalan emosi atau batini. Melakukan mudik adalah sama dengan melakukan wisata ruhani (spiritual). Ada kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri ketika seseorang bisa melakukan mudik yang hal ini tidak akan dapat tergantikan oleh apapun.
Oleh karenanya, terkadang segala hal akan dilakukan agar bisa melakukan mudik. Meski pemerintah sudah melarang mudik, melakukan penyekatan, dan razia bagi pengguna jalan, termasuk sanksi yang cukup berat bagi yang melanggar aturan, namun tetap saja hal ini tidak menyurutkan niat untuk melakukan mudik, seperti yang terlihat pada Idul Fitri tahun ini. Tentu saja, yang dilakukan pemerintah tidaklah bisa disalahkan. Di samping sosialisasi yang tiada henti, adanya protokol kesehatan, program vaksinasi, pembatasan sosial berskala besar maupun mikro, dan lainnya, dilakukan oleh pemerintah, dengan satu tujuan yakni agar pandemi Covid-19 segera berlalu.
Namun, Idul Fitri tahun 2021 ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Dan jika berkaca dari apa yang terjadi di negara India, maka semuanya patut untuk waspada. Situasi yang terjadi di India semakin memburuk, dengan angka kematian akibat Covid 19 telah menembus angka 4000 dalam 2 hari berturut-turut (Kompas.com, Minggu, 9 Mei 2021 | 13:42 WIB). Padahal, sebelumnya pemerintah India termasuk salah satu negara yang dianggap mampu mengatasi pandemi. Namun pasca perayaan keagamaan yang dilakukan dan tanpa mematuhi protokol kesehatan secara baik, tiba-tiba kasus Covid 19 berubah menjadi tidak terkendali.
Tentunya yang menimpa negara India ini, tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Semua berharap bahwa bangsa ini segera bisa keluar dari pandemi Covid 19, dan hal ini harus dikerjakan secara bersama-sama. Harus ada sinergitas antara semua elemen bangsa ini, karena tidak mungkin pemerintah akan mengerjakan sendirian. Tanpa adanya kerjasama dan partisipasi masyarakat yang cukup maka tindakan apapun yang dilakukan akan selalu berakhir dengan sia-sia.
Dan Idul Fitri kali ini masih bernasib sama dengan Idul Fitri di tahun 2020 kemarin. Di tahun lalu, masyarakat banyak yang tidak bisa mudik karena adanya kebijakan larangan mudik. Mereka berharap bahwa di tahun berikutnya (tahun ini) sudah bisa merayakan Idul Fitri sebagaimana biasanya. Akan tetapi, ternyata keadaan tidaklah berubah. Tahun ini pemerintah juga mengeluarkan kebijakan serupa tentang larangan mudik kecuali untuk kepentingan tertentu dan dengan syarat yang ketat.
Dan ternyata meski sudah ada larangan mudik, toh masih terdapat gelombang pemudik dalam jumlah yang besar. Seperti misalnya dalam keterangan tertulisnya, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 387.383 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek pada periode akhir pekan terakhir sebelum memasuki masa peniadaan mudik. Sebanyak 387.383 kendaraan itu meninggalkan Jabotabek lewat jalan tol pada Jumat, 30 April 2021 sampai Minggu, 2 Mei 2021 (Detik.com, Senin, 03 Mei 2021 13:57 WIB).
Dan yang membuat kekhawatiran adalah ketika dilakukan uji rapid tes PCR antigen kepada pemudik secara acak, hasilnya menyebutkan bahwa dua pertiga pemudik positif Covid-19. Dari 6.742 tes acak, didapatkan konfirmasi positif sebanyak 4.123 orang (CNN Indonesia, Selasa, 11/05/2021 14:36). Hal ini, tentu saja memberikan peringatan kepada publik agar senantiasa waspada terhadap virus Covid-19 yang memang belum mereda.
Idul Fitri memang identik dengan kegiatan silaturahim yang diwujudkan dengan saling mengunjungi. Namun mengingat kondisi di masa pandemi seperti ini, maka sulit untuk bisa merayakan Idul Fitri secara normal seperti biasa. Jikalau pun melakukan kegiatan semacam silaturahmi dan sejenisnya haruslah tetap patuh terhadap protokol kesehatan yang sudah disampaikan oleh pemerintah dengan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) dan kemudian dikembangkan menjadi 5 M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi).
Dalam konteks ini, kaidah dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih, sangatlah relevan untuk diamalkan. Mencegah kerusakan harus lebih didahulukan dari mengambil kemaslahatan. Bersilaturahmi adalah sebuah kemaslahatan dan sangat dianjurkan, namun mematuhi protokol kesehatan adalah upaya untuk menghindarkan dari kerusakan. Bersilaturahmi dan anjangsana adalah hal yang dianjurkan oleh agama. Akan tetapi menjaga keselamatan dan menghilangkan keburukan juga merupakan perintah agama. Oleh karena itu, tidak boleh seorang muslim mengerjakan sebuah kebaikan tetapi di saat yang sama juga melakukan keburukan. Dan bukanlah sebuah hal yang sulit, ketika setiap orang bisa bersilaturahmi sekaligus mematuhi protokol kesehatan. Oleh karenanya, merayakan Idul Fitri sembari tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan adalah pilihan yang sangat tepat. Keduanya dapat dilakukan secara bersamaan. Tidak ada alasan untuk tidak melakukan keduanya ini, kecuali memang bagi orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Sementara itu, bagi yang tidak bisa melakukan mudik, tidak perlu sedih berkepanjangan. Sebab silaturahmi dengan orang-orang di kampung halaman pun masih bisa dilakukan secara virtual seperti video call, zoom meeting dan sejenisnya.
Akhirnya selamat Idul Fitri 1442 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Taqabbal Allah minna wa minkum, minal ‘aidin wal Faizin, kullu ‘am wa antum bi khoir. Wallahu a’lam bis shawab.
*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Guru Besar, Wakil Rektor 1 IAIN Jember
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
