Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PBA; Tantangan Transmisi Keilmuan PTKI

S
Penulis: Safitri❯
Photo
Photo
Awal Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1442 H. yang bertepatan dengan 20 Agustus 2020 menjadi momentum semangat untuk terus berubah menjadi lebih baik. Terutama dunia pendidikan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang dituntut dapat menjawab berbagai persoalan global, tidak hanya di Indonesia, tetapi dunia. Perkembangan zaman dengan fenomena globalisasi dan problematika kehidupan manusia senantiasa menjadi tantangan bagi PTKI, baik negeri (PTKIN) maupun swasta (PTKIS) dalam ikut serta memberikan jawaban atau solusi atas persoalan tersebut. Sebab, PTKI yang meneguhkan identitas Islam sebagai ciri khas/ karakteristik membutuhkan peran utama para intelektual muslim dalam menerapkan Islam di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk/ pluralistik. Salah satu yang harus dikuasai para cendekiawan dalam memahami Islam adalah penguasaan Bahasa Arab, sebagai perangkat penting memahami teks-teks Arab baik Alquran, hadis, maupun teks-teks yang lain yang original yang berbahasa Arab.

Dapat dinyatakan, untuk memahami Islam dengan baik, maka wajib memahami bahasa Arab. Ini tidak bisa ditawar-tawar. Idealnya, memahami agama Islam, harus melalui Bahasa Arab. Kalau toh kita memahami Islam dengan pemaknaan teks selain bahasa Arab saat ini, jika kita runut sanadnya, tetaplah bersumber pada bahasa Arab. Misalnya bersumber pada jaringan para ulama Nusantara yang mempelajari Islam melalui bahasa Arab yang sudah ratusan silam diajarkan di pondok pesantren. Dengan demikian, PTKI mau tidak mau harus menyediakan ruang yang luas terhadap Pendidikan Bahasa Arab (PBA) agar pesan-pesan ajaran Islam dapat ditransmisikan melalui bahasa asalnya itu. Tidak hanya berbasis pada sistem kredit semester (SKS) yang mencukupi, tetapi juga kesiapan para mahasiswa dan lulusannya mengaplikasikan Islam dalam berbagai bidang kehidupan.

Salah satu fenomena problematik pembelajaran PBA yang dihadapi oleh praktisi pembelajar akhir-akhir ini adalah meningkatnya peminat PTKI yang berasal dari umum/sekolah yang tidak sepenuhnya menguasai bahasa Arab. Tentu, ini menjadi tantangan PTKI untuk dapat memberikan ruang yang memadai dalam menguasai bidang keilmuan di PTKI yang harus “menguasai” bahasa Arab. Misalnya, tidak cukup memahami bahasa Arab hanya dengan 2 SKS saja. Di sinilah tantangan para dosen/ staf pengajar di PKIN untuk memilih metode pembelajaran yang efektif dapat dipahami dengan baik oleh para mahasiswa.

Melihat problematika ini, program studi pendidikan bahasa Arab (Prodi PBA) Pascasarjana IAIN Jember berkonsentrasi untuk pengembangan PBA agar nantinya mampu menjawab tantangan tersebut. Dan, pada tahun akademik ganjil 2020/2021, terjadi lonjakan peminat yang signifikan hingga mencapai lebih dari 80 persen. Ini merupakan fenomena menarik yang dapat dinilai sebagai semangat untuk terus mengembangkan PBA sebagai jalan untuk memahami ajaran Islam dengan baik.

Salah satu pengembangan yang dilakukan oleh prodi adalah dengan memfokuskan penelitian dengan metode Research & Development (R & D). Yakni, penelitian yang menekankan pada pengembangan PBA itu sendiri, baik yang terkait dengan pengembangan bahan ajar, metode pembelajaran, dan media pembelajaran. Melalui metode R & D ini, mahasiswa Prodi S-2 PBA khususnya dalam penelitian tesisnya dapat memilih pengembangan media pembelajaran berbasis informasi dan teknologi (IT). Misalnya, bagaimana mahasiswa bisa belajar bahasa Arab yang menyenangkan lewat program PBA dengan aplikasi media pembelajaran berbasis IT yang modern dan canggih.

Dengan memilih pengembangan media pembelajaran berbasis IT, maka mahasiswa S-2 PBA Pascasarjana IAIN Jember ditantang untuk bisa menggunakan, menguasai, mendesain, dan membuat aplikasi Bahasa Arab berbasis IT. Dalam hal ini, secara aktif, mahasiswa harus menguasai kemampuan (skill) IT. Pengembangan ini menjadi penting dilakukan karena perkembangan IT begitu cepat dan mudah diakses oleh siapa saja.

Pengembangan PBA yang lainnya yang terus didorong dan terkait dengan bahan ajar bahasa Arab adalah pengembangan bahan ajar berbasis local wisdom (kearifan lokal)misalnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar konten bahan ajar lebih membumi dan lebih dekat dengan pemahaman pembelajar. Riset PBA dikembangkan dengan menggunakan objek penelitian yang ada di wilayah Nusantara. Misalnya, di Jember ada tempat wisata seperti Pantai Tanjung Papuma, wisata Rembangan, wilayah perkebunan tembakau, dan sejenisnya yang dapat mendekatkan kekuatan lokal melalui PBA tersebut. Hal ini akan mempermudah penguasaan dan pengembangan PBA ke depan tanpa menghilangkan identitas lokal atau identitas budaya di Nusantara.

Karena pembelajaran bahasa Arab untuk mahasiswa di PTKI lebih bertujuan membekali mereka dengan skill membaca teks-teks berbahasa Arab, maka seharusnya proses pembelajarannya lebih ditekankan pada kemampuan membaca, dengan memotivasi mahasiswa untuk lebih aktif membaca dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Apalagi, di tengah suasana pandemi Covid-19, keaktifan dan kreativitas mahasiswa lebih diutamakan. Salah satunya dengan menggunakan metode SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review) terutama pada perkuliahan yang menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar yang aktif, bukan pasif.

Relasi PTKI dengan Pesantren

Tantangan pengembangan PBA di PTKI di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan posisi pondok pesantren yang jumlahnya mencapai 28.194 dan tersebar di pelosok nusantara. Relasi PTKI dengan pesantren ibarat dua sisi keping mata uang yang saling menguatkan. Pesantren memiliki pengalaman yang cukup lama, jauh sebelum Indonesia merdeka dalam pengajaran Islam melalui penguasaan Bahasa Arab dengan metodologi klasiknya. Ditambah lagi, pesantren selalu menampilkan kearifan lokal dalam menyentuh masyarakat sekitar ketika melaksanakan kegiatan pendidikan. Dan, di pesantren penguasaan Bahasa Arab menjadi hal yang utama.

PTKI sebagai institusi yang mengajarkan Islam rahmatan lil alamin mendapatkan kontribusi lulusan dari pondok pesantren yang cukup banyak. Hal ini merupakan sinergi yang terus diperkokoh, utamanya dalam menyiapkan generasi di perguruan tinggi yang sudah dibekali dengan penguasaan bahasa Arab untuk memahami ajaran Islam di perguruan tinggi. Dialektika antara penguasaan bahasa Arab di pesantren dengan PBA di PTKI akan terus berlangsung dan saling terkait.

Mengapa demikian? Para mahasiswa yang menempuh studi S2 PBA Pascasarjana IAIN Jember, misalnya memiliki keberagaman latar belakang, selain berasal dari daerah yang tidak sama. Mereka ada yang menjadi dosen, pengajar bahasa Arab di pesantren, guru, dan pengelola lembaga pendidikan Islam. Dengan pengembangan PBA yang berbasis pada IT dan local wisdom, maka diharapkan PBA akan menjadi kekuatan dalam melahirkan intelektual muslim Indonesia yang memperkokoh ajaran Islam rahmatan lil alamin. Semoga (*)

*) Dr. H. Syamsul Anam,S.Ag.,M.Pd. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Pascasarjana IAIN Jember dan Pengasuh Ponpes Baitullisan Mangli Jember.

 

 

Advertisement
Advertisement
Editor : Safitri

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer