Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tentu, IAIN Jember tidak boleh gegabah, apalagi “latah”. Sebab, perubahan status ini meniscayakan pengembangan dua keilmuan sekaligus secara integral di UIN KHAS Jember kedepan. Tugas integrasi keilmuan telah menjadi tanggungan dan beban berat karena IAIN Jember harus berjuang secara lebih ekstra mempersiapkan konstruksi integrasi keilmuan ini secara menyeluruh disamping harus merubah pola pikir dikotomi yang telah lama mengakar. Semua orang berharap lahirnya kontruksi dan model integrasi keilmuan yang lebih aplikatif. Dan yang paling penting, hasil konstruksinya mampu menyentuh langsung pada akar persoalan kebutuhan masyarakat, bukan justru beraroma retorika.
Berbagai program memang telah dilakukan untuk mencapai tujuan ini. IAIN Jember sendiri sedang mempersiapkan tugas pokoknya, yaitu menyusun konsep integrasi keilmuan dengan menitik-beratkan pada pengembangan Islam Nusantara berbasis Pesantren. Pertanyaannya, mengapa Islam Nusantara dan Pesantren? Islam Nusantara sengaja dipilih sebagai fokus kajian mengingat keberadaannya yang telah lama menjadi tempat bersemainya karakter Islam inklusif, moderat dan toleran. Sementara pesantren sendiri---yang notabene berperan penting dalam menumbuh-kembangkan keilmuan keislaman---masih diyakini menyimpan sejumlah khazanah keilmuan yang perlu di rekonstruksi. Pada level ini, kebanyakan orang memandangnya sebagai pilihan yang sudah tepat karena wujud integrasi keilmuan di UIN KHAS Jember kedepan akan berakar pada ajaran dan tradisinya sendiri.
Kerja merancang konstruksi integrasi keilmuan UIN KHAS Jember telah dimulai. Hal yang menarik dicermati adalah terinspirasinya konstruksi integrasi keilmuan UIN KHAS Jember ini dari “filosofi sumber mata air”. Sumber mata air bagi para cendikia IAIN Jember mempunyai filosofi integrasi keilmuan yang mendalam. Sebagaimana terjadi pula pada UIN Syarif Hidayatullah (Syahid) Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta yang mengambil inspirasi dari filosofi pohon ilmu dan jejaring laba-laba sebagai model integrasi keilmuannya. Ilmu bagi para cendikia IAIN Jember bagaikan “sumber mata air” merupakan anugerah Tuhan untuk kepentingan kemanusiaan yang tidak mengenal dikotomi (pemisahan). Keragaman ilmu hanyalah kebutuhan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan. Dengan merujuk pada makna filosofis sumber mata air tersebut dan mengacu pada sejarah awal pembentukan keilmuan, ilmu hakikatnya tidak mengenal dikotomi, semuanya terintegrasi dan berada dalam satu kesatuan dibawah kekuasaan Tuhan.
Filosofi mata air inilah yang telah menginspirasi lahirnya konsep ontologi tauhidi sebagai basis pengembangan integrasi keilmuan di UIN KHAS Jember. Secara substansial, ontologi ini meyakini kesatuan sumber pengetahuan. Dan oleh karenanya, Tauhid, yang dalam hal ini Tuhan menjadi sumber pengetahuan primer. Karena Tauhid-lah yang menjadi cikal-bakal lahirnya lima mata air ilmu (Revelation sciences, Natural Sciences, Social sciences, Humanities dan Tool sciences). Sementara, sumber keilmuan lainnya, semisal indera, pikiran dan intuisi menjadi sumber penunjang. Pemilihan ontologis ini telah menarik perhatian banyak orang. Bukan hanya karena keniscayaannya untuk mengembalikan semua keilmuan untuk berpulang pada satu kesatuan keilmuan (tauhid), tetapi juga karena basis ini dipandang mampu meminimalisir kemungkinan terjadinya penolakan terhadap status ontologis pengetahuan yang didapatkan dari sumber lain yang saat ini dipandang sebagai kendala utama dalam proyek penyatuan (integrasis) dikotomi keilmuan.
Paralel dengan ontologisnya, pada level paradigmatik, filosofi ini ternyata telah menginspirasi para cendikia IAIN Jember untuk mencanangkan paradigma integratif-interkoneksi tauhidi sebagai cara pandang integrasi keilmuan di UIN KHAS. Kekuatan Ilmu bagi Cendikia IAIN bagaikan sumber mata air adalah terletak pada keberhubungannya antara satu dengan lainnya. Artinya, kerangka pikir integrasi keilmuan yang harus dibangun adalah kesatuan (integratif), kesalinghubungan (interkoneksi) antara keilmuan umum dan agama. Pertanyaannya, bisakah semua ragam keilmuan dilebur ke dalam satu kotak keilmuan. Jawabannya, tentu tidak bisa karena akan megalami jalan buntu. Yang mungkin dilakukan adalah mendudukkan secara proporsional ilmu-ilmu sekular dalam kritisisme agama dan sebaliknya. Merujuk pada fakta ini, maka model integrasi interkoneksi yang potensial dikembangkan kedepan adalah model integrasi interkoneksi yang bercorak Integralistik-dialogis. Tegasnya, bagi penulis, interkoneksi keilmuan di UIN KHAS Jember kedepan harus diarahkan pada upaya menjalin keterhubungan. Bukan meleburkan yang normatif-sakral ke dalam yang historis dan profan atau membenamkan yang historis-profan ke dalam normatif-sakral.
Sementara, pada level epistimologis, filosofi sumber mata air ini ternyata telah mengantarkan kaum cendikia IAIN Jember untuk memilih integrasi-sirkulir sebagai bentuk epistimologi integrasi keilmuannya. Sebagaimana sifat kekuatan air yang terletak pada kebersinambungan unsur-unsurnya, kekuatan epistimologi ini juga terletak pada proses dialektika-sirkulir-nya dalam penggalian keilmuan. Melalui epistimologi ini, kerja integrasi keilmuan UIN KHAS Jember kedepan akan diarahkan pada adanya kesinambungan kerja akademik dari tiga aras epistemologi keilmuan mencakup aras burhani (sains), bayani (agama) dan irfani (tasawwuf)). Sebagian orang kembali bertanya, bagaimana praktiknya belajar atau mengkaji ilmu secara integratif di UIN KHAS Jember nanti? Pada level inilah, kerja serius para cendikian IAIN Jember diperlukan. Karena bukan hanya menyangkut kurikulum dan perangkatnya, tetapi juga bagaimana elaborasi semua hal diatas dalam rencana induk pengembangan (RIP), rencana strategis (Renstra), rencana operasional (Renop), Program dan Roadmap.
Hal yang juga menarik adalah ancangan integrasi keilmun UIN KHAS Jember pada level aksikogisnya yang ternyata menekankan pada implementasi nilai Islam Nusantara dan Maqoshid al-syari’ah. Nilai Islam Nusantara pada level ini diancangkan sebagai pijakan dalam hal pemilihan proses, mekanisme dan pendekatan serta indikator output yang diharapkan. Tegasnya, UIN KHAS Jember kedepan- mempersilahkan penggunaan beragam model pendekatan dan perspektif dalam mengkaji keilmuan secara integratif. Akan tetapi, indikatornya harus tetap berpijak pada rambu-rambu nilai Islam Nusantara, yaitu 1) Nilai Tawassuth (moderat) yang meniscayakan penggunakan cara berfikir yang tidak tekstualis dan tidak liberal. 2) Nilai Tasamuh (toleran) yang meniscayakan penggunaan sikap toleran terhadap perbedaan pandangan dengan tetap berpijak pada sumber-sumber pengetahuan. 3) Nilai Tawazun (menjaga keseimbangan) yang meniscayakan penerapan prinsip keseimbangan dalam setiap hal (antara dunia dan akhirat, antara keluhuran wahyu dengan kreatifitas nalar). 4) Nilai I’tidal (tegak lurus) yang meniscayakan penggunaan konsistensi dan pemikiran proporsional. 5) Nilai Ishlahiyah yang meniscayakan adanya kreatifitas dan ivovasi tanpa meninggalkan tradisi.
Sinergis dengan corak tauhidiyah, orientasi aksikogi keilmuan integratif di UIN KHAS Jember kedepan diarahkan pada upaya pencapaian kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Indikatornya adalah kepastian pada terpeliharanya agama (hifdz ad-din), terpeliharanya jiwa (hifdz an-nafs), terpeliharanya akal (hifdz al-aql), terpeliharanya harta (hifdz al-mal) serta terpeliharanya keturunan(hifdzal-Nasl).
*Dr. Ishaq, M.Ag, Kaprodi Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Jember
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
