
SUMBERSUKO, Radar Semeru - Selokambang menjadi salah satu wisata yang dikelola Pemkab Lumajang. Tak heran, meskipun tarifnya Rp 15 ribu saat akhir pekan, wisata itu masih menjadi primadona. Ini membuat pihaknya menyediakan lapak PKL dengan tarif berbeda-beda. Bergantung pada luasannya. Meski demikian, terpantau kurang diminati.
Jumlah lapak PKL diperkirakan mencapai 30 unit. Hampir semua yang menempati lapak berjualan kuliner instan dan siap saji. Beberapa jenisnya pun sama. Sebelumnya, dalam proposal pengajuan penempatan lapak diharapkan ada keberagaman kuliner. Namun, realitanya berbeda. Sehingga, membuat pendapatan tak seberapa karena kurangnya inovasi dari pedagang.
Apalagi, tempat itu menjadi sangat ramai jika menjelang akhir pekan. Hari-hari biasanya pun terbilang normal. Harusnya, mereka melakukan inovasi agar omzet penjualan naik.
“Kalau hari-hari biasa pendapatan standar. Kecuali weekend dan ada rombongan sekolah. Soalnya, kalau rombongan keluarga biasanya sudah siap membawa makanan sendiri,” tutur Tutik, salah seorang pedagang.
Sementara, harga sewa tiap lapaknya berbeda. Per meter dipatok Rp 5 ribu. Rata-rata tarif sewanya Rp 20 ribu per bulan. Memang terbilang murah, tapi beberapa lapak ada yang tutup. Selain itu, ada juga lapak mainan dan pusat oleh-oleh yang terpantau baru. Hanya berupa tenda dan stan berjualan. Sementara, mereka hanya membuka stan saat akhir pekat atau peringatan hari besar untuk menggaet lebih banyak pengunjung.
“Harga sewanya memang murah. Cuma kalau PKL nggak bisa inovatif, jadi pengunjung memilih membawa sendiri. Tapi, pengunjung terus meningkat,” pungkas Pejabat Fungsional dan Kasi Pengelolaan Strategis Pariwisata Dispar Lumajang Tomy Ernawati. (dea/c2/fid)



