Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Grand Opening Cafe, Grand Closing dengan Delapan Nyawa

M. Ainul Budi • Senin, 16 Februari 2026 | 21:10 WIB

Grand Opening Cafe, Grand Closing dengan Delapan Nyawa - Foto Ai hanya ilustrasi
Grand Opening Cafe, Grand Closing dengan Delapan Nyawa - Foto Ai hanya ilustrasi

RADAR JEMBER - Delapan tewas akibat minum miras. Bingung, antara sedih atau senang. Yang menghembuskan napas itu orang kecil. Bukan koruptor. Mereka mencoba menghilangkan sakitnya tinggal di negeri ini dengan jalan salah. Simak narasinya sambil seruput miras, eh salah, Koptagul, wak!

Minggu malam, 8 Februari 2026, pukul 22.00 WIB, lampu-lampu Cafe 88 Society menyala terang. Musik diputar. Spanduk grand opening dipasang. Senyum ditebar. Gelas diangkat tinggi. Kota kecil itu mungkin merasa sedang merayakan sesuatu.

Tidak ada yang sadar, malam itu bukan sekadar pembukaan tempat hiburan. Itu adalah pembukaan menuju liang lahat. Grand opening sebuah kafe berubah menjadi grand closing delapan nyawa.

Semua bermula dua jam sebelumnya, sekitar pukul 20.00 WIB di kawasan Atelir, Subang Kota. Sekelompok orang berkumpul. Botol gembling dibuka. Cairan oplosan itu dicampur serbuk minuman energi, seolah-olah racun bisa disulap menjadi stamina. Mereka menenggaknya seperti air mineral. Tidak ada keraguan.

Tidak ada jeda. Tidak ada yang membaca label bahaya.

Lalu rombongan itu berpindah ke Cafe 88 Society. Musik semakin keras. Konsumsi makin brutal. Pasokan tambahan dibeli dari depan Bimbel Ganesha Operation. Di satu sisi jalan, anak-anak belajar mengejar masa depan.

Di sisi lain, orang dewasa membeli minuman yang menghancurkan masa depan mereka sendiri. Ironi itu berdiri telanjang di tengah kota, dan kita semua pura-pura tidak melihatnya.

Hampir 20 jam mereka minum tanpa henti. Minggu malam hingga Senin siang, 9 Februari 2026. Dua puluh jam. Sebuah maraton menuju maut. Senin malam tubuh-tubuh itu mulai menyerah. Mual hebat. Muntah. Sesak napas. Organ dalam seperti direbus pelan-pelan oleh zat beracun, diduga metanol dari miras oplosan. Satu per satu tumbang. Dilarikan ke RSUD Ciereng dan RS PTPN Subang.

Hingga Rabu, 11 Februari 2026 malam, delapan orang dinyatakan meninggal dunia: F (21) dan A.Z. (43) wafat pada 9 Februari. I.B. (40) dan A.H.M. (54) menyusul 10 Februari. A.R. (42), T.S.A. (37), Y.W. (49), dan A.D.A. pada 11 Februari.

Dua lainnya masih kritis di IGD RSUD Subang hingga Kamis, 12 Februari 2026. Delapan kursi kosong. Delapan keluarga berkabung. Delapan cerita hidup berhenti di titik yang begitu memalukan.

Kita ini negeri dengan 87% penduduk Muslim. Miras haram, tegas. Konsumsi alkohol per kapita hanya 0,1–0,13 liter per tahun untuk usia 15+. Rata-rata dunia 5,5–6,5 liter. Kita berada di peringkat terendah global, sejajar dengan Pakistan, Kuwait, Bangladesh, Niger.

Prevalensi konsumsi dalam sebulan terakhir hanya 3–9,5%. Pria 19 kali lebih banyak dari wanita. Regulasi ketat sejak 2015. Pajak tinggi. Aceh melarang total. RUU Minuman Beralkohol pernah diusulkan. MUI mendukung pembatasan.

Semua tampak gagah di atas kertas.

Namun kertas tidak pernah masuk ke lorong IGD. Statistik tidak pernah mengusap wajah ibu yang kehilangan anak 21 tahun. Fatwa tidak pernah berdiri di depan botol gembling yang dijual ilegal. Kita bangga menjadi negara dengan konsumsi terendah, tetapi setiap tahun tetap ada daftar nama yang ditulis dengan tinta duka.

Pada 2023, 12 orang tewas dalam tragedi serupa. Tahun 2025 pun dipenuhi kabar memilukan. Oktober di Magelang 7 tewas; November di Tasikmalaya 2 remaja tewas dari 7 peminum racikan alkohol 70% plus minuman energi; Desember di Malang 7 orang tewas; Desember di Jember 4–6 orang tewas termasuk oknum TNI; Maret di Bantul 2 wanita tewas. Awal 2026, Jepara dan kini Subang 6–9 orang per kasus.

Grand opening cafe mungkin hanya satu malam. Tapi grand closing delapan nyawa akan dikenang seumur hidup oleh keluarga mereka. Yang lebih menyakitkan dari semuanya adalah kenyataan, ini bukan kejadian pertama, bukan pula yang terakhir.

Di negeri yang merasa paling religius, kematian karena oplosan terus menemukan panggungnya sendiri. Setiap kali musik berhenti, yang tersisa hanyalah sunyi, dan rasa kecewa yang makin sulit disembunyikan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#Miras #subang #ptpn #bimbel #RSUD Ciereng #cafe #ganesha operation