RADAR JEMBER - Tulisan saya berjudul "Kemarahan Warga Talaud pada TNI Angkatan Laut, Tambang Kapal Dilepas" mendapat sambutan luar biasa dari netizen. Dari negeri jiran pun juga ramai nimbrung. Saya ingin lanjutkan kisahnya, menyorot minuman keras (miras) yang jadi awal masalah. Simak narasinya sambil keruput Koptagul, wak!
Di ujung utara republik, di Kepulauan Talaud, negara sedang belajar pelajaran mahal. Bukan dari buku strategi pertahanan, bukan dari peta geopolitik Indo-Pasifik, melainkan dari sebotol miras. Ironis memang. Dunia sibuk menghitung kapal selam nuklir, sementara di Talaud, negara justru terpeleset oleh cairan bening yang sejak lama dikenal sebagai penghapus akal sehat.
Malam 22 Januari 2026 seharusnya malam biasa. Kapal TNI Angkatan Laut bersandar di Pelabuhan Melonguane. Di kota kecil, malam adalah waktu istirahat, bukan pesta. Tapi dari atas geladak kapal negara, suara gaduh pecah, tawa keras, nyanyian sumbang, dan atmosfer yang hanya lahir dari satu hal, mabuk berjamaah.
Di sinilah masalah bermula. Miras diminum di atas kapal negara, oleh aparat negara, dengan fasilitas negara. Titik. Dari sini, cerita tak lagi soal individu, tapi soal sistem dan kelengahan.
Seorang guru datang menegur. Kalimatnya sederhana, nyaris terlalu beradab. "Tolong jangan ribut, sudah malam!" Tidak ada provokasi, tidak ada ancaman. Namun di telinga yang sudah direndam alkohol, sopan santun terdengar seperti penghinaan. Akibatnya fatal. Enam warga dipukuli, termasuk sang guru. Negara, pada momen itu, bukan sedang menjaga kedaulatan, melainkan kehilangan kendali.
Agama-agama sebenarnya sudah lama memberi rambu. Dalam Islam, khamr disebut ummul khaba’its, induk segala keburukan. Bukan karena aromanya, tapi karena efeknya. Akal pergi, dosa jadi murah. Dalam Kekristenan pun, mabuk bukan lambang sukacita, melainkan tanda kehilangan penguasaan diri. Tradisi spiritual timur lebih keras lagi. Alkohol merusak kesadaran, dan tanpa kesadaran, etika runtuh.
Ilmu pengetahuan mengiyakan tanpa perlu kitab. Alkohol menekan korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur nalar, empati, dan rem emosi. Yang tersisa adalah insting purba, ingin dominan, gampang tersinggung, merasa paling benar. Maka teguran berubah jadi ancaman. Kata berubah jadi pukulan. Ini bukan pembenaran, tapi penjelasan. Kekerasan akibat mabuk adalah pola lama yang terus berulang.
Masalahnya makin serius ketika miras bertemu seragam dan kuasa. Ini kombinasi paling rawan dalam peradaban mana pun. Alkohol saja sudah berbahaya. Kekuasaan saja sudah menggoda. Ketika keduanya bercampur, lahirlah rasa kebal hukum. Dari situlah kekerasan sering muncul dengan wajah santai dan tangan ringan.
Keesokan harinya, warga Talaud tidak memilih amuk. Mereka memilih simbol. Tambang kapal dilepas. Dalam budaya pesisir, itu bukan sekadar melepas tali, melainkan mencabut kepercayaan. Pesannya jelas, kapal itu tak lagi diterima sebagai tamu yang dihormati.
Permintaan maaf disampaikan. Janji evaluasi diumumkan. Namun tanpa sanksi yang tegas dan transparan, semua itu terasa seperti air mineral disiram ke api miras, segar di mulut, nol di hasil.
Baca Juga: Personel Brimob Kabur lalu Menjadi Tentara Rusia
Peristiwa Talaud mengajarkan satu hal penting, bukan asing yang salah, tapi miras. Negara tidak kalah oleh musuh dari luar, melainkan oleh kelengahan di dalam. Kita boleh menjaga laut dengan kapal perang, tapi jika akal sehat dibiarkan mabuk, maka kedaulatan hanya tinggal jargon.
Hari ini yang dipukul adalah guru. Besok bisa siapa saja. Jika itu terjadi, jangan heran bila yang dilepas nanti bukan hanya tambang kapal, tapi juga tambang kepercayaan rakyat kepada negara.
Peristiwa Talaud mengingatkan kita, negara tidak selalu runtuh oleh serangan asing, tapi sering tergelincir oleh kelalaian sendiri. Miras mungkin tampak sepele, tapi ketika ia masuk ke institusi bersenjata, yang hilang bukan hanya akal sehat, melainkan juga kepercayaan rakyat.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar