Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menimbang Kesiapan Sekolah Zaman VUCA

Radar Digital • Jumat, 15 Maret 2024 | 20:52 WIB
Photo
Photo

Menimbang Kesiapan Sekolah Zaman VUCA

Oleh: A. Manan*

TAHUN 1987 jauh sebelum pandemi Covid-19, Warren Bennis dan Burt, dua pakar bisnis Amerika, menyebut istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), yakni kejadian perubahan yang begitu cepat dan tak terduga (Rahmawati. 2018). Salah satu peristiwa VUCA yakni pandemi Covid-19.

Selama tiga tahun pandemi banyak merobah tatanan sendi kehidupan sosial, budaya dan ekonomi seperti kehadiran e-commerce (Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok-shop). Perubahan yang begitu cepat, memaksa manusia harus mampu beradaptasi jika ingin tetap bertahan (survive).

Semua orang pasti tidak pernah terbayang bahwa dunia mengalami wabah yang mengerikan, jutaan orang meninggal saat itu.

Di sisi lain, Covid-19 mampu menyadarkan pentingnya menjaga pola hidup bersih serta membatasi pertemuan secara langsung. Di institusi pendidikan, cukup terasa perubahan pada praktik pembelajaran, kemunculan sekolah daring memanfaatkan aplikasi Google Classroom, Zoom Meeting, dll. Kondisi ini, memaksa pendidik dan siswa harus cepat belajar cara pembelajaran modern, khususnya berbasis media teknologi.

Pada konteks yang sama Guru Besar FIB UI Prof Rhenald Kasali pernah menyebut istilah disruption untuk menyatakan cepatnya perubahan dan kemajuan peradaban manusia. Hadirnya kulkas menutup pabrik es, tutupnya raksasa bisnis smart-phone Nokia dengan hadirnya Android. VUCA membuka teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, melalui integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan, robot, dan internet untuk semua bidang.

Hal ini juga telah memberikan dampak dalam transformasi bidang pendidikan. Transformasi pendidikan di zaman VUCA disikapi oleh pemerintah melalui digitalisasi pendidikan, sekolah penggerak, SMK pusat keunggulan dapat menjadi stimulan, bagi pendidik dan peserta didik untuk menguasai dan memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi.

Guna menghadapi tantangan VUCA, dunia pendidikan memiliki peran dan pengaruh yang penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, beberapa unsur dan stakeholder seperti institusi pendidikan menjadi simpul penting terutama sekolah kejuruan (vocational) memiliki peran dalam menyikapi zaman VUCA.

Jika tidak, maka hanya mencetak pengangguran baru, pada jenjang lulusan sekolah menengah. Untuk itu, transformasi pendidikan zaman VUCA, menuntut kesiapan kerja pada pelajar. Adaptasi pendidikan Indonesia salah satunya diwujudkan dalam pembelajaran hybrid/blended learning dan case-based learning serta mengintegrasikan teknologi dalam kurikulum.

Problem Indeks Literasi

Tahun 2022, Menteri Pendidikan meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dirancang untuk menjawab learning loss dampak Covid-19. Di mana materi difokuskan materi esensial, digitalisasi pembelajaran melalui penguatan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi atau berbasis STEAM (science, technology, engineering, art, and math). Tujuannya agar pembelajaran bisa lebih muda dan nyaman dipahami peserta didik. Untuk itu, setiap mata pelajaran di sekolah harus bermakna, terintegrasi mendukung siswa agar lebih siap menghadapi tantangan kesiapan kerja di Zaman VUCA dengan mengembangkan ketrampilan yang diperlukan dan mengadaptasi diri terus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup dan karir.

Misal Pelajaran matematika mendukung sisi numerasi, bahasa Indonesia sisi komunikasi, serta PKN dan Agama mendukung sisi etika, integritas dan kejujuran.

Disamping itu, kemampuan literasi dan numerasi siswa menjadi daya dukung utama peningkatan indeks pendidikan Indonesia. Kemampuan literasi berkorelasi positif kesiapan soft skill dan kompetensi pelajar.

Indeks literasi, jika melihat hasil riset PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, menempatkan Indonesia peringkat 11 dari bawah terhadap 81 negara anggota PISA. Cukup memprihatinkan rendahnya rangking PISA, pemicunya sengkarutnya tata kelola pendidikan rendahnya budaya baca. Perlu tindakan berkelanjutan guna mengatrol indeks literasi.

Ada simpul problem dalam menghadapi Zaman VUCA terkait literasi yakni; Pertama, pemahaman literasi informasi. Pada literasi ini menunduk pelajar me memiliki ketrampilan atau kemampuan untuk mengetahui, kebutuhan informasinya dan kapan informasi digunakan. Tidak sedikit anak muda (pelajar) terimbas berita hoax, terkadang juga ikut menjadi kontributor berita hoax, saatnya cerdas informasi.

Kedua, literasi media, kemampuan pelajar untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media, lebih-lebih media sosial (Facebook, Instagram, Tiktok). Ketiga, literasi digital, kecakapan menggunakan media digital dengan baik, benar, dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi pembelajaran, mencari solusi masalah. literasi digital di sekolah seperti internet, Google Classroom, pembelajaran daring aplikasi Zoom Meeting, serta media konten kreator.

Keempat, literasi sains, kecakapan menuntut pemahaman pelajar terkait fenomena alam di lingkungan sekitar. Contoh litZamansi sains adalah ketika siswa belajar pengetahuan alam melalui pelajaran IPA di sekolahnya. Keenam, literasi budaya/kewargaan. Kemampuan mengimplementasikan nilai luhur seperti kerja bhakti, gotong-royong, menjaga adat-kesenian lokal.

SDM Growth Mindset

Pada konteks lokal, Kabupaten Jember memiliki daya dukung penyiapan pemuda unggul. Ada Kampus PTN dan PTS. Di samping itu ada SMKN dan ratusan sekolah vokasi swasta. Zaman VUCA sangat bisa dihadapi oleh SDM muda, khususnya pelajar di sekolah kejuruan.

Butuh keseriusan dan perubahan mindset menghadapi VUCA. Untuk itu, ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan. Pertama, penguatan karakter pelajar Pancasila.

Fondasi dasar menghadapi VUCA yaitu penajaman dimensi profil pelajar Pancasila seperti beriman kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis. Kedua, penguatan kompetensi teknologi modern (e-commerce) berbasis kebutuhan dunia industri, muatan materi sekolah saatnya terintegrasi algoritma teknis, prosedur kerja, sampai mampu membuat aplikasi waralaba berbasis digital, guna menguatkan jiwa kewirausahaan.

Ketiga, penguatan bahasa coding AI dan IoT, keseharian kita sebenarnya sering memanfaatkan cara kerja AI seperti mesin Google translate, Netflix, dll, maka kompetensi pengetahuan algoritma dan bahasa pemrograman perlu dikuasai.

Keempat, link-match magang kerja. Pengalaman praktik di dunia usaha/industri berbasis automasi modern sebagai strategi belajar sepanjang hayat. Kelima, produk kreatif. Basis outcome pengetahuan dan kompetensi kinerja direalisasikan berupa hasil karya baik kebendaan atau non fisik seperti software aplikasi dll. Sebagai akhiran, kelima solusi di atas bisa menjadi alternatif jawaban, artinya semua butuh update dan upgrade agar survive di Zaman VUCA. Semoga harapan mendapatkan SDM unggul untuk Indonesia emas bisa tercapai, amin.

*) Penulis adalah guru SMKN 8 Jember, mahasiswa Magister Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jember, dan  Lakpesdam PCNU Jember.

Abdul Manan

Telp/Wa : 085231080339

Editor : Radar Digital
#Radar Jember #opini