Dalam tulisan Dr Slamet Hariyadi di kolom opini Jawa Pos Radar Jember (2/5), konteks Merdeka Belajar dipahami sebagai cara siswa untuk memilih cara belajarnya sendiri, menentukan minat dan bakat sendiri, termasuk berinovasi dan berkreativitas secara mandiri. Saat ini passion siswa juga bergeser pada trend baru yaitu kecerdasan buatan (artificial intelligence). Diakui bahwa kecerdasan buatan mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas kehidupan. Pada sisi yang lain, adanya perkembangan teknologi kecerdasan buatan tersebut akan muncul masalah baru yaitu sikap ketergantungan. Dampaknya siswa menjadi kurang kritis, daya nalarnya kurang kuat, kurang komunikatif dalam berinteraksi sosial, dan bahkan siswa menjadi terasing di lingkungan terdekatnya.
Dalam tulisan tersebut Slamet Hariyadi masih membahas tentang perkembangan teknologi kecerdasan buatan, belum menyentuh aspek kecerdasan individual (diri). Slamet Hariyadi juga belum membahas peran pendidik (guru) dalam merespon era kecerdasan buatan. Padahal dalam proses pembelajaran peran guru tetap harus dipandang penting. Sebagai tanggapan atas opini tersebut, tulisan ini bermaksud melengkapinya. Untuk mengantisipasi kejumudan akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan, maka perlu dihadirkan pendekatan yang berdimensi humanitas, yaitu social emotional learning. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidik adalah penuntun kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik, agar sebagai manusia (individu) dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang paripurna. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut mengingatkan bahwa guru mempunyai dua peran penting yaitu sebagai pendidik dan leadership pembelajaran.
Lev Vygotsky bersama dengan Piaget mengembangkan pendekatan konstruktivistik dalam kajian psikologi kognitif. Pemikiran dasar Vygotksy menekankan bahwa interaksi antara orang, lingkungan, dan kesadaran manusia dipengaruhi oleh aktivitas sosial yang dilakukan secara bermakna. Vygotsky menjelaskan pembelajaran melalui guided participant merupakan pemikiran penting yang harus diterapkan seseorang dalam memberikan pemahaman melalui cara membantu anak, karena anak akan berkembang ketika diajar bukan karena discover atau inquiry. Teori yang dikembangkan Vygotsky disebut Zone of Proximal Development (ZPD). Anak dapat mencapai potensi belajar dari interaksi sosial yang terjadi dengan bantuan dari guru atau teman sejawat.
Dalam belajar siswa tidak bisa dilepas tanpa kendali, seperti ketika belajar tentang teknologi kecerdasan buatan. Dalam belajar anak tetap memerlukan pendamping, agar proses belajarnya lebih terarah. Peran guru adalah menumbuhkan motivasi siswa agar dapat membangun perhatian yang berkualitas dengan merancang pengalaman belajar yang menarik, menantang, dan bermakna. Guru dapat menerapkan pembelajaran holistik yang memberikan pengalaman untuk mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi siswa. Untuk mewujudkannya perlu dihadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran yaitu Pembelajaran Sosial Emosional (PSE).
Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan siswa dan guru memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Aspek kompetensi sosial-emosional meliputi: mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pendidik merupakan penuntun tumbuh kembang anak dan menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Menurut Daniel, pembelajaran sosial emosional penting diberikan agar anak mendapatkan kesuksesan dan guna mengembangkan pendidikan. Ada 5 kunci dalam pengembangan pembelajaran sosial emosional (PSE) pada anak, yaitu; (1) Kesadaran diri (self awareness). Self awareness berhubungan dengan mengenali diri secara akurat mengenai emosi, pikiran dan nilai. Melalui kesadaran diri, anak akan bisa mengidentifikasi emosi, mempunyai persepsi terhadap diri sendiri, dan yakin terhadap kemampuan yang dimiliki, (2) Memanajemen diri (self management). Berkaitan dengan kemampuan mengatur perilaku, emosi di berbagai keadaan. Anak akan cenderung, memiliki sikap disiplin yang berguna untuk mencapai tujuan yang mereka miliki, (3) Memiliki kesadaran sosial (social awareness).Berhubungan dengan kepedulian anak tentang sikap empatinya kepada orang lain. Sikap ini berguna di masyarakat karena terkait norma-norma dan etika berperilaku. Anak memiliki kesadaran sosial untuk menghargai dan memahami orang lain, (4) Mampu membuat relasi (relation skill). Relasi atau pertemanan sangat penting dalam hidup bermasyarakat. Memelihara hubungan yang sehat antar individu dan kelompok dapat mengasah kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, (5) Membuat keputusan bertanggung jawab (responsible decision making). Membuat keputusan terkadang menjadi sesuatu yang sulit untuk sebagian orang apalagi oleh seorang anak. Bimbingan dari guru, akan menjadikan siswa berani dan bertanggungjawab atas keputusannya.
Melalui pembelajaran sosial emosional ini, siswa diajak untuk menyadari, merasakan, mengalami, sehingga dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif yang bisa mengantarkan siswa mempersiapkan masa depannya. Penerapan PSE dalam ekosistem pendidikan di sekolah akan memberikan dampak yang positif bagi siswa. PSE akan memberi bekal kesuksesan siswa dalam hal akademik, dan memberikan keterampilan siswa agar memiliki kemampuan pemecahan masalah. PSE dalam ekosistem pendidikan di sekolah juga dapat mengembangkan well-being pada siswa, dan mengembangkan kompetensi untuk mencapai kesuksesan di dalam kehidupan sosialnya.
Penerapan PSE dalam ekosistem pendidikan di sekolah, menuntut guru mampu berkolaborasi dengan seluruh komunitas sekolah dalam mewujudkan budaya positif di lingkungan sekolah. Hal ini akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas maupun di luar kelas sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, menantang, dan bermakna.
*Penulis adalah dosen Pascasarjana Prodi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember. Editor : Safitri