Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tabu, Antara Budaya Jawa dan Islam

Safitri • Jumat, 2 September 2022 | 22:28 WIB
Oleh: Siti Johar Insiyah
Oleh: Siti Johar Insiyah
Masih terngiang betul, saat anak gadis tidur di atas pukul 15.00 maka ibu akan meneriakinya, “perawan aja metuan bengi, mengko masuk angin”.  Saat ia menyapu dan tidak bersih, maka ibu akan bilang, “yen nyapu sing bersih ben bojomu ora brewok”. Belum lagi saat ia berdiri di tengah pintu, maka siapa pun akan bilang, “aja ana tengah lawang, mengko ora payu rabi”. Bahkan orang hamil sekali pun jika berdiri di tengah pintu maka akan banyak yang bilang, “aja ngadek tengah lawang, marai ngedangi dalane bayi”. Perempuan penuh dengan petuah dan petuah selalu beriringan dengan budaya Jawa.

Jawa merupakan etnis terbesar yang mendiami wilayah Indonesia yang jumlahnya hampir seratus juta jiwa dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia. Suku Jawa yang penuh keragaman bahasa dan budaya membuktikan bahwa Jawa merupakan suku yang unik. Belum lagi jika terjadi akulturasi  budaya antara Jawa dengan budaya lain, baik itu Islam maupun non-Islam, maka akan menghasilkan budaya baru dalam sebuah komunitas yang sama.

Di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang memegang teguh budaya Jawa. Bahkan jika tidak melakukannya maka akan dipercayai telah mengkhianati leluhur. Melanggarnya berarti bisa dikatakan “ora ilok” yang jika diterjemahkan akan berarti tidak  boleh dilakukan atau tabu. Jika dilanggar akan berakibat buruk kepada pelaku yang melanggarnya. Belum lagi jika petuah tersebut benar adanya, artinya jika sesuatu terjadi gara-gara melanggar petuah tersebut maka risiko terbesar akan dikucilkan dari masyarakat tempat ia tinggal.

Petuah-petuah dalam budaya Jawa bukanlah sesuatu hal yang ujug-ujug (tiba-tiba) ada karena petuah tersebut selalu mempunyai latar belakang dan tujuan yang jelas terlebih jika di hubungkan dengan kehidupan sosial bermasyarakat. Melanggarnya berarti juga melanggar aturan yang sudah berlaku di masyarakat secara turun-temurun.

Petuah Jawa juga bisa dicari kebenarannya dalam ajaran agama Islam. Contoh pengkajiannya seperti berikut. “Perawan ojo metuan bengi, mengko masuk angin”. Petuah tersebut ditujukan kepada perawan yang suka keluar rumah saat malam hari agar tidak masuk angin. Keluar rumah yang dimaksud merupakan keluar yang hanya untuk main-main belaka. Apalagi jika keluar rumahnya dengan pasangan yang berlain jenis dan bukan mahram, maka yang dikhawatirkan akan “masuk angin”. Kata “masuk angin” diartikan sebagai sebuah keadaan membuncitnya perut karena terjadinya sesuatu hal. Kasarannya perut tersebut membuncit karena hamil di luar nikah yang disebabkan oleh seringnya keluar malam dengan teman kencan.

Petuah “Perawan ojo metuan bengi, mengko masuk angin” merupakan sebuah nasehat dari orang tua kepada anak gadisnya yang mulai beranjak remaja. Menjaga keluarga termasuk anak  agar  selamat di dunia dan akhirat, menjaganya dari perbuatan jahat dan maksiat, dan menjaganya tidak masuk neraka merupakan sebuah kewajiban orang tua sesuai dengan firman Allah dalam Alquran surat At-Tahrim  ayat enam yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.

Petuah “Yen nyapu sing bersih ben bojomu ora brewok” mempunyai arti kalau sedang menyapu maka harus bersih. Jika tidak bersih maka suaminya kelak akan brewokan (jenggotnya lebat). Menyapu harus bersih sebenarnya bukan hanya petuah untuk anak perempuan saja. Anak lelaki pun juga harus bersih. Terlepas dari betul tidaknya jodohnya nanti brewokan atau tidak, menyapu memang harus benar-benar bersih. Petuah tersebut sangat berkaitan erat dengan kebersihan yang selalu diajarkan oleh agama Islam.  Setiap orang yang beriman akan selalu menjaga kebersihan. Jika orang tersebut tidak menjaga kebersihan maka kadar keimanannya perlu dipertanyakan karena sesuai dengan hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi bahwa kebersihan sebagian dari iman.

Petuah “Aja ana tengah lawang, mengko ora payu rabi” mempunyai arti jangan berdiri di tengah pintu nanti tidak laku atau tidak ada yang melamar.  Jika itu terjadi maka ia akan menjadi perawan tua. Petuah tersebut memberikan nasehat kepada anak gadis supaya tidak berdiri di tengah pintu, karena pintu merupakan bagian rumah terdepan tempat datangnya tamu.  Jika di pintu ada orang yang berdiri maka tamu tidak akan bisa masuk karena terhalang orang tersebut. Dalam ajaran Islam tamu membawa keberkahan yaitu kedatangannya akan membawa rezeki bagi tuan rumah. Pada saat tamu tersebut keluar maka dosa-dosa dan kejelekan dari tuan rumah akan ikut keluar juga. Rumah yang sering didatangi tamu juga akan dijaga oleh malaikat rahmat. Jika pintu terhalang, maka semua kebaikan tamu tidak akan dinikmati oleh tuan rumah.

Petuah “Aja ngadek tengah lawang, marai ngedangi dalane bayi” arti bagi perempuan hamil yaitu jangan berdiri di tengah pintu, karena bisa menutupi jalan keluarnya bayi. Pintu diartikan jalan lahirnya bayi. Sedangkan orang lewat diartikan bayi yang akan melewati pintu tersebut. Jika kita berada di pintu sama halnya dengan kita menghalang-halangi orang yang akan keluar masuk melewati pintu tersebut. Sedangkan menghalangi sama halnya dengan melakukan sebuah kejelekan. Sesuai dengan terjemah surat Az-Zalzalah ayat 8: “Barang siapa yang berbuat kejelekan sekecil zarrah sekalipun, niscaya ia akan melihat (balasannya) pula. Berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang yang menghalangi jalan orang lain maka Allah juga akan menghalangi jalan kita, termasuk jalan keluarnya bayi saat melahirkan.

Terlepas dari benar tidaknya petuah Jawa, segala sesuatu yang  baik apalagi benar menurut Islam, maka kita wajib mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi kehidupan menjadi lebih baik. Wallahu a’lam bi shawab.

(Siti Johar Insiyah, Guru MAN Lumajang)

  Editor : Safitri
#opini