Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jurusan Kuliah, Pilihanmu atau Pilihan Orang Tuamu?

Safitri • Selasa, 30 Agustus 2022 | 20:43 WIB
Oleh: Hairus Salikin
Oleh: Hairus Salikin
Saat ini mahasiswa baru sudah memulai kegiatan di tempat kuliah masing-masing. Dengan berseragam tertentu dalam mengikuti acara pengenalan kehidupan kampus, secara umum wajah mereka tampak riang gembira serta ceria bahagia karena mereka telah diterima di jurusan dan perguruan tinggi yang mereka inginkan. Tetapi, yang tidak pernah diketahui dengan pasti adalah apakah mereka betul-betul bahagia dan ceria atau sebaliknya.

Pada umumnya dalam memilih jurusan kuliah, mahasiswa dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok. Kelompok yang pertama adalah mereka yang jurusan kuliahnya sesuai dengan minat bakat serta sejalan dengan keinginan orang tua. Kelompok kedua adalah mereka yang pilihannya sesuai dengan minat bakatnya, tetapi tidak sejalan dengan keinginan orang tua. Kelompok ketiga adalah mereka yang kuliah karena pilihan orang tua walaupun tidak sesuai dengan minat bakatnya sendiri.  Kelompok yang terakhir adalah mereka yang kuliah dengan alasan dibanding tidak kuliah.

Kelompok yang pertama adalah yang paling ideal yaitu mereka yang pilihan jurusan kuliahnya sesuai dengan minat bakat dan sejalan dengan keinginan orang tua. Mereka yang ada pada kelompok ini dapat dikategorikan sebagai mahasiswa yang sangat beruntung. Pada kelompok ini biasanya orang tua sudah mempersiapkan putra-putrinya untuk masuk jurusan kuliah tertentu sejak mereka masih di sekolah menengah. Bahkan berbagai pelajaran tambahan diberikan dengan mengikutkan putra-putri mereka di bimbingan belajar (bimbel) demi tercapainya keinginannya.

Dapat dipahami bahwa mahasiswa di kelompok ini sangat menikmati kuliahnya karena jurusan yang dipilihnya sesuai dengan minat bakatnya dan sudah dipersiapkan dengan baik. Pada kelompok ini secara umum orang tua sangat bersemangat memberi dukungan kepada mereka. Mahasiswa yang tergolong pada kelompok ini biasanya tidak terlalu mengalami hambatan dalam menyelesaikan kuliahnya.

Kelompok kedua adalah mahasiswa  yang jurusan kuliahnya sesuai dengan minat bakat tetapi tidak sejalan dan sejalin dengan keinginan orang tuanya. Dalam kondisi seperti ini tidak jarang terjadi “perang dingin” bahkan “perang terbuka” antara orang tua dengan putra-putrinya. Di satu sisi, orang tua tidak mendukung pilihan jurusan kuliah mereka, sementara putra putrinya tetap yakin bahwa jurusan kuliah yang dipilihnya adalah jurusan yang sesuai dengan minat bakatnya.

Mahasiswa yang masuk dalam klasifikasi ini tidak jarang sampai harus mencari tambahan biaya kuliah sendiri karena mungkin orang tuanya kurang mendukung kuliah mereka. Mahasiswa di kelompok ini biasanya menanggung beban moral agak berat terutama terhadap kedua orang tuanya. Beban moralnya terletak pada dua hal yaitu mereka harus dapat menyelesaikan kuliahnya serta dapat menunjukkan kepada orang tuanya bahwa pilihan mereka tidak salah. Ini harus bisa dibuktikan bahwa setelah lulus kuliah mereka bisa mendapat pekerjaan dengan masa tunggu yang tidak terlalu lama. Akan lebih elegan lagi kalau mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Kelompok yang ketiga adalah mereka yang kuliah karena menuruti kemauan serta keinginan orang tuanya walaupun tidak sesuai dengan minat bakat mereka. Biasanya mahasiswa yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang memiliki orang tua yang memaksa putra-putrinya untuk kuliah pada jurusan tertentu serta kurang memperhatikan minat dan bakat mereka. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada mahasiswa model ini. Pertama adalah mereka tidak bergairah serta “males-malesan” kuliahnya sampai yang paling fatal, yaitu tidak bisa menyelesaikan kuliah alias hanya mendapat surat keterangan pernah kuliah (bahasa yang diperhalus untuk drop out). Kemungkinan kedua adalah mereka belajar keras dan bisa lulus kuliahnya hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya. Setelah mereka selesai kuliah ijazahnya bisa saja tidak digunakan, karena mereka tidak ada minat untuk bidang yang menjadi pilihan orang tuanya.

Penulis kenal dengan seorang mahasiswa yang sudah memasuki akhir masa kuliahnya. Dia kehilangan semangat kuliah walaupun hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir (menulis skripsi). Dari beberapa sumber diketahui bahwa jurusan kuliahnya bukanlah yang dia inginkan melainkan atas paksaan orang tuanya. Sampai tulisan ini dibuat mahasiswa yang dimaksud masih belum menyelesaikan kuliah. Bahkan kabar terakhir yang diterima dari kawan dekatnya dia sudah tidak akan menyelesaikan kuliahnya.

Contoh kedua yaitu ada orang tua yang bercerita dengan mata berkaca kaca bahwa dia menyesal telah memaksakan pilihan jurusan kuliah pada putranya.  Kebahagiaan kedua orang tuanya di saat putranya lulus hilang ketika putranya dengan sopan menyerahkan ijazah yang diperolehnya sambil berkata “aku telah memenuhi keinginan ibu dan ayah, ini ijazahnya dan sekarang izinkan aku memilih hidupku sendiri”. Sampai saat ini ijazah tersebut hanya tersimpan rapi tidak pernah dipergunakan sebagaimana mestinya. Putra kesayangannya saat ini bergerak di bidang yang menjadi minat dan bakatnya tanpa ijazah S-1. Begitu orang tua tersebut mengakhiri ceritanya sambil menyeka air matanya dengan tisu.

Kelompok mahasiswa yang keempat adalah mereka yang kuliah hanya dibanding tidak kuliah. Kelompok terakhir ini biasanya sulit ditebak apakah mereka bersemangat atau tidak. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa yang termasuk dalam kelompok ini justru menemukan semangat hidupnya di tempat mereka kuliah. Tetapi tidak jarang pula bahwa mereka betul-betul tidak bersemangat dan tidak tahu arah di tempat kuliahnya. Sudah semestinya sangat tidak disarankan mahasiswa berada pada kelompok keempat. Namun demikian, tetap tidak menutup kemungkinan mereka bisa saja berhasil dalam kehidupan mereka walau berada di kelompok ini.

Sejatinya di mana pun mahasiswa berada saat ini, kelompok pertama sampai keempat, pasti sudah memiliki pertimbangan yang telah dipikirkan secara matang. Oleh karena itu ketika mahasiswa menghadapi kendala serta masalah, mereka harus segera menyelesaikannya. Jangan pernah menunda menyelesaikan masalah kuliah. Semakin cepat mereka mencari jalan keluar masalah yang dihadapi, akan semakin besar kemungkinan untuk bisa diatasi. Yang paling penting adalah kesungguhan untuk mencari jalan keluar. Semoga para mahasiswa memperoleh sukses dalam kehidupan ini di mana pun mereka sekarang kuliah, baik jurusan kuliahnya pilihanmu atau pilihan orang tuamu.

*) Penulis adalah anggota Keris CLC, profesor dalam bidang Applied Linguistics pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Editor : Safitri
#opini