Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pandangan tentang Pondok Pesantren

Safitri • Senin, 20 Juni 2022 | 17:55 WIB
Oleh: Didik P. Wicaksono
Oleh: Didik P. Wicaksono
Seorang bapak bermaksud memondokkan putrinya ke pesantren. Putrinya lulus setingkat SLTP. Bapak itu sendiri bukan alumni pesantren. Ide memondokkan didukung oleh istrinya.

Istrinya pernah mondok. Lulusan pendidikan tinggi (PT) yang dikelola pesantren. Kini menjadi politisi sukses. Anggota legislatif. Pengalaman ‘nyantri’ diakui turut memberi andil kesuksesan berkarir di politik.

Urusan domestik rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya diurus oleh suami. Istri berhikmat mengurusi umat. Suami bekerja di rumah toko (ruko)-nya.

Sebelum menentukan pilihan, bapak itu mencari berbagai informasi tentang pesantren. Baik melalui internet maupun survei dan bertanya langsung datang ke pesantren.

Setelah mencari berbagai informasi, jatuhlah pilihan ke pesantren Nurul Jadid. Detail bagaimana kehidupan di pesantren, termasuk soal biaya dan lain-lainnya, akhirnya ditanyakan kepada saya.

Soal biaya, bapak itu membandingkan dengan pesantren lainnya. Biaya pendidikan awal masuk dan biaya selanjutnya antarpesantren tidak sama. Di Nurul Jadid, menurutnya tergolong ringan dan terjangkau untuk pesantren yang dikelola secara modern.

Nurul Jadid dikenal sebagai pesantren yang dikelola secara modern (khalaf). Didukung sarana dan prasarana sesuai zamannya. Namun tidak meninggalkan tradisi kuat mengajarkan kitab kuning dan akhlak kesantrian lainnya. Pesantren ini berhaluan ahlussunnah wal jamaah (aswaja) dengan ciri khas at-tawassuth (sikap tengah-tengah), at-tawazun (seimbang), al-i’tidal (tegak lurus) dan tasamuh (toleransi). Tipikal mayoritas pesantren yang dikelola oleh jaringan Nahdlatul Ulama (NU).

Capaian belajar fokus pada furudhul ainiyah (FA) atau kemampuan minimal yang wajib dimiliki oleh seorang muslim. Kemampuan Baca Tulis Alquran (BTQ), akidah, akhlak, fiqih dan muamalat adalah orientasi utama sebelum berlanjut pada kompetensi lainnya.

Kompetensi FA diperuntukkan bagi santri yang menempuh pendidikan berafiliasi ke Kemendiktiristek. Seperti SMP, SMA, SMK dan Perguruan Tinggi di luar prodi keagamaan (keperawatan, kebidanan, NERS, rekayasa perangkat lunak, teknik informatika dan lainnya). Namun tidak menutup kemungkinan mereka mendalami kitab kuning.

Sedangkan pendidikan yang berafiliasi ke Kemenag, seperti Madrasah Diniyah (Madin) dan Ma'had Aly, MI, MTs, MA dan Perguruan Tinggi prodi keagamaan (syariah, dakwah, pendidikan agama Islam, Bahasa Arab dan lainnya) dituntut memiliki kemampuan dalam tradisi keilmuan klasik (kitab kuning). Kitab kuning yang diajarkan di antaranya kitab Al-Jurumiyah, Tafsir Al-Jalalain, Hadits Arbain Nawawi, Aqidatul Awam, Ta’limul Muta’alim, Fathul Mu’in, Fathul Qorib, Sulam Taufiq dan kitab kuning lainnya.

Penyelenggaraan pendidikan yang menjadi pilihan orang tua/wali santri mulai dari pra sekolah (TPA, dua PAUD, dua TK dan RA), tingkat dasar (tiga MI), tingkat menengah (empat MTs dan satu SMP), tingkat atas (dua MA, SMA, dan SMK), pendidikan tinggi (enam fakultas dengan dua puluh prodi, plus dua pascasarjana) hingga Ma’had Aly dan pendidikan diniyah formal. Pendidikan berbagai jalur dan jenjang diselenggarakan secara integratif holistik. Saling melengkapi dan sinergi antarlembaga dan komponen lainnya dalam mencapai tujuan pendidikan.

Secara umum, selain fokus pada tafaqquh fiddin, juga mengajarkan ilmu natural science, social science, humaniora dan bahasa. Bahasa asing yang dikembangkan di antaranya Bahasa Arab, Inggris, Mandarin dan Jepang. Bahasa internasional lainnya dalam rintisan. Mengajari pula kemandirian, kewirausahaan dan vokasional skill (otomotif, multimedia, tata busana dan lainnya).

Pandangan Lama

Setelah beberapa lama tidak berjumpa, saya bertemu kembali dengan bapak itu bersama istrinya di kedai makan. Saya sempat menanyakan apakah ada kesulitan ketika melakukan pendaftaran online. Semula saya kira, kalau tidak memilih SMA Nurul Jadid, MA Nurul Jadid, tentu SMK Nurul Jadid. Kecil kemungkinan memilih Madin tingkat ulya.

Namun di luar dugaan, saya mendapat penjelasan yang berbeda. Putrinya sudah mendaftar dan diterima di sekolah dekat rumahnya. Tidak jadi dipondokkan. Juga menceritakan kalau biaya awal masuk di sekolah dekat rumahnya itu ternyata lebih mahal daripada di pesantren.

Keinginan kuat memondokkan putrinya gagal karena ditentang oleh neneknya. Beralasan putrinya anak yang baik, pintar dan rajin ibadah. “Putri itu bukan anak nakal, bukan anak bandel, bukan anak bebal, mengapa harus dipondokkan?”

Neneknya memang sayang kepada cucunya. Perhatian berlebihan kepada cucu kadang dapat menimbulkan perselisihan. Lebih baik mengalah. Bapak itu pun bercanda kepada istrinya, “Dulu waktu kecil sampean itu nakal. Itu sama orang tua dipondokkan”. Istrinya pun hanya senyum-senyum mendengar candaan suaminya.

Pandangan sebagian orang tua melihat pesantren sebagai tempat pendidikan anak nakal. Anak bebal yang sulit diatur di rumah. Cara marahnya pun, “Kalau kamu nakal. Nanti saya pondokkan!”

Pandangan itu karena pesantren terkenal sebagai “bengkel’ pembinaan "akhlakul karimah". Seolah akhlak tidak baik, dipondokkan. Akhlaknya baik, tidak perlu mondok.

Selain itu pandangan soal lingkungan sehat dan kebersihan tidak berubah. Pesantren dipandang tempat yang kumuh. Santri memiliki kebiasaan buruk, kurang memperhatikan kebersihan. Bahkan, sebagian meyakini, penyakit kulit (kudisan) mengandung berkah. Tidak sah mondok kalau belum kudisan.

Disisi lain stigma pesantren mengajarkan paham radikal juga bermunculan. Stigma yang menggeneralisir semua pesantren seolah eksklusif dan intoleran.

Pandangan Baru

Banyak orang menyadari pentingnya pendidikan di pesantren. Kemudian menjadi pilihan utama pendidikan anak-anaknya. Beberapa pesantren tutup lebih awal. Bahkan calon wali santri harus rela inden setahun sebelumnya.

Pesantren tempat membina akhlakul karimah dan lebih jauh dapat melejitkan potensi santri sesuai dengan kecerdasan, bakat dan minatnya. Anak nakal menjadi baik, anak baik bertambah melejit prestasinya. Soal anak nakal, “Tidak ada anak nakal, yang ada anak kreatif. Tetapi tidak mendapatkan wadah yang tepat. Belum bertemu guru dan suasana belajar yang pas. Soal anak bodoh, “Tidak ada anak bodoh, semua anak cerdas menurut potensinya masing-masing”.

Keluaran pesantren mengisi berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Prestasi lulusannya banyak pula yang studi ke luar negeri. Seperti di Nurul Jadid, sejak tahun 2010 hingga sekarang, ratusan alumninya studi lanjut ke China. Tentu harus menguasai bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin diajarkan di pesantren.

Kebersihan dan kesehatan menjadi perhatian. Setiap lembaga terdapat UKS dan dilengkapi klinik yang melayani sepenuh hati apa yang menjadi kebutuhan kesehatan di pesantren. Pada tahun 2021, Pesantren Nurul Jadid dinobatkan sebagai pesantren terbaik dalam penanganan Covid-19.

Desain pendidikannya ditopang diktum Trilogi dan Panca Kesadaran Santri. Trilogi santri meliputi: memperhatikan kewajiban-kewajiban fardhu ‘ain, mawas diri dengan meninggalkan dosa-dosa besar dan berbudi luhur kepada Allah dan makhluk. Sedangkan Panca Kesadaran Santri terdiri dari kesadaran beragama, kesadaran berilmu, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta kesadaran berorganisasi.

Otomatis nilai-nilai Pancasila berupa karakter religius, sosial, mandiri, patriotisme, kebersamaan, demokratis dan keadilan tercakup di dalamnya. “Ayo mondok. Mondok itu keren. Mondok untuk mengaji dan membina akhlakul karimah”. (*)

*) Penulis adalah pengabdi di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Editor : Safitri
#Advertorial #opini