Adapun makna mental health (kesehatan mental) menurut Pieper dan Uden (2006) merupakan suatu kondisi di mana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri. Memiliki estimasi yang realistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahan diri. Memiliki kemampuan dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya. Memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya. Serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya. Sementara, World Health Organization (WHO) mendefinisikan mental health sebagai keadaan sejahtera di mana individu dapat menyadari kemampuan yang dimiliki. Dapat mengatasi tekanan hidup secara normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.
Mental health (kesehatan mental) menjadi dasar bagi kemampuan kolektif pun individu sebagai manusia dalam berpikir, beremosi, berinteraksi satu sama lain, mencari pendapatan dan menikmati hidup. Dalam hal ini kesehatan mental mencakup dari kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial. Ketiga hal tersebut berpengaruh pada cara berpikir, merasa, dan bertindak serta menentukan cara dalam penanganan stres, berhubungan atau bersosialisasi dengan orang lain, serta dalam pengambilan sebuah keputusan. Sehingga, seorang individu yang sehat secara mental tentu dapat menjalankan hidupnya dengan fungsi yang normal dan maksimal.
Dari uraian tersebut, dapat diketahui bahwa menjaga kesehatan mental adalah sebuah hal yang penting dan secara sederhana mental health dapat dimaknai sebagai sebuah keadaan seorang individu terbebas dari segala bentuk gejala gangguan kesehatan mental. Adapun gejala-gejala yang dimaksud antaranya; tidur dan makan yang tidak stabil, menarik diri dari aktivitas sosial, merasa mati rasa atau hidup dengan tidak bermakna, merasa tidak berdaya atau putus asa, merokok atau memakai narkoba dengan berlebihan, memiliki pemikiran yang berlebihan (over thinking), berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, serta merasa bingung, gelisah, marah, kesal, khawatir dan takut.
Kesehatan mental memiliki jenis atau bentuk yang beragam, antara lain;
- Gangguan depresi mayor yaitu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan. Sedih yang tak berkesudahan, sehingga menyebabkan kehilangan minat dalam beraktivitas, dan turunnya kualitas hidup.
- Gangguan kecemasan, yakni gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan khawatir, ketakutan, dan stres yang berlebihan atau tidak proporsional, serta ketidakmampuan untuk menepis rasa khawatir dan gelisah. Contoh gangguan kecemasan yaitu serangan panik, gangguan obsesif-kompulsif (pikiran tak masuk akal dan ketakutan (obsesi) yang menyebabkan perilaku kompulsif), dan gangguan stres pascatrauma (kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan).
- Gangguan bipolar, yaitu suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati yang dapat terjadi dalam satu waktu atau tiba-tiba.
- Pikun, merupakan sekelompok kondisi yang ditandai dengan penurunan fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemampuan dalam menilai.
- Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas yaitu kondisi kronis berupa kesulitan fokus, hiperaktif, dan impulsif.
- Skizofrenia, yakni kondisi di mana pemikiran atau perilaku tidak berhubungan dengan kenyataan, ucapan yang tidak teratur, dan penurunan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari, serta kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengingat.
- Autisme yaitu gangguan yang menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi, kesulitan dalam berinteraksi sosial, minat yang obsesif, dan perilaku repetitif.
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya gangguan kesehatan mental antara lain, sebagai berikut;
- Tekanan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan, hal ini sebagaimana hasi dari studi PubMed Central dari National Institutes of Health yang menemukan 903 keluarga di Iran diidentifikasi mengalami gangguan kesehatan mental yang disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi yang lemah dalam hal ini kemiskinan. Selain hal tersebut, factor terkait lainnya seperti pekerjaan, pendidikan, serta kualitas pangan dan sandang yang dimiliki.
- Faktor biologis, dalam hal ini gen dengan riwayat keluarga dengan masalah kesehatan mental. National Institutes of Health menyatakan bahwa riwayat genetik dapat meningkatkan kemungkinan risiko mengalami kesehatan mental. Namun, terdapat banyak faktor lain yang berkontribusi terhadap perkembangan gangguan kesehatan mental. Sehingga, memiliki gen yang terkait dengan gangguan kesehatan mental tidak menjamin bahwa kondisi tersebut akan berkembang, begitupun sebaliknya.
- Faktor lainnya dalam hal ini gaya hidup, seperti; diet, olahraga, penyalahgunaan narkoba, serta koneksi dan interaksi social. Selain itu, pengalaman hidup seperti trauma atau mendapatkan pelecehan.
Gangguan kesehatan mental dapat terjadi pada siapa pun terlepas dari usia, jenis kelamin, pendapatan ataupun etnis. Sebagaimana laporan Institutes for Health Metrics and Evaluation dalam studi Global Burden of Disease pada tahu 2017 didapati 792 orang menjalani hidup dengan gangguan kesehatan mental. Namun, mental health (kesehatan mental) kerapkali akrab menjadi bahasan atau lebih booming di kalangan anak muda atau remaja. Hal itu dikarenakan pada usia 16-24 tahun merupakan masa transisi dari remaja menuju dewasa. Seseorang banyak berhadapan dengan tantangan dan pengalaman baru.
Berdasarkan riset yang tertuang dalam artikel Mental Health Problems and Needs among Transitional - Age Youth in Indonesia tahun 2021 menunjukkan bahwa 393 remaja di Indonesia yang berusia 16–24 tahun mengalami perubahan dalam hal biologis, psikologis, bahkan emosional yang berpengaruh pada kesehatan mental. Hal ini selasar dengan temuan WHO yang diunggah dalam artikel Transitional Age Youth and Mental Illness Influences on Young Adult Outcomes bahwa 1 dari 4 remaja di usia 16–24 tahun menderita gangguan kesehatan mental. Sedangkan, berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental yang dialami remaja usia 15 tahun ke atas yang ditujukan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sekitar 6,1 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau setara dengan 11 Juta orang.
Adapun penyebab gangguan kesehatan mental pada remaja selain mengalami masa transisi di mana mulai aktifnya hormon reproduksi dan perkembangan otak yang terus berlangsung, juga disebabkan oleh ketidakstabilan emosi serta pengambilan keputusan yang sering kali impulsif. Selain itu, penyebab lain antaranya tantangan beradaptasi terhadap kehidupan yang mulai berubah, kesulitan dalam mengatur waktu, masalah finansial atau keuangan, tekanan dalam bidang akademik, perundungan, serta mengalami peningkatan rasa kesepian saat belajar atau saat bekerja merantau di kota yang jauh dari tempat tinggal. Tidak hanya itu, penyebab lainnya yaitu pada usia remaja merupakan usia di mana seseorang mulai memiliki legalitas secara hukum dan meningkatnya tanggung jawab dalam hidup.
Meski demikian, dalam artikel Adolescent Health Highlight didapati bahwa tidak banyak remaja pada usia 16-24 tahun yang mencari bantuan serta mengakses layanan kesehatan mental. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan, di antaranya; adanya harapan terhadap layanan bantuan kesehatan mental yang dapat menjamin kerahasiaan, tidak menghakimi, dan berkelanjutan untuk periode tertentu.
Adapun cara untuk menjaga kesehatan mental secara stabil dengan selalu menjaga pemikiran yang positif, aktif secara fisik, tidur dengan intensitas yang cukup, selalu berinteraksi dan membantu orang lain, serta mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Sedangkan untuk mengatasi gangguan kesehatan mental, dapat dilakukan dengan terapi kepada psikiater, psikolog, praktisi, dokter dan keluarga. Di mana, kesemuanya harus mampu meningkatkan kerahasiaannya, tidak menghakimi dan mampu menerima sharing dengan terbuka.
Oleh karena itu, orang tua harus bisa memahami perkembangan kondisi anak dari waktu ke waktu dan dapat meluangkan waktu untuk selalu sharing bersama anak. Selain itu, layanan gangguan kesehatan mental harus ditingkatkan sehingga dapat menjadi tempat layanan yang terpadu dan terpercaya. Upaya lain untuk mengatasi gangguan kesehatan mental dengan banyak menonton video, membaca artikel atau majalah yang terkait serta mengakses berbagai layanan gangguan kesehatan mental yang tersedia secara online.
*) Penulis adalah mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Islam Jember Editor : Safitri