Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menelusur Keniscayaan Mata Uang Digital Bank Sentral

Safitri • Rabu, 9 Juni 2021 | 19:23 WIB
M. Abd. Nasir, SE, MSc.
M. Abd. Nasir, SE, MSc.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pesatnya teknologi digital dan internet dewasa ini mengarus pada keharusan untuk adaptasi dan gerakan inovasi di sektor-sektor terkait, tidak terkecuali sektor keuangan. Semua demi efisiensi, maka munculkan inovasi di sektor keuangan seperti bitcoin dan cryptocurrency.  Sebuah rupa mata uang virtual, yang sangat beda dengan mata uang fisik, baik kertas atau koin, yang sering kita simpan di dompet. Keberadaannya disambut gempita oleh publik, meski menyisakan pro dan kontra. Realitas ini tak ayal menyebabkan Bank Sentral beberapa negara di dunia berpikir ulang urgensi penciptaan bentuk mata uang digital.

Galibnya bitcoin dan cryptocurrency yang diterbitkan secara “pribadi”  dan alih-alih sebagai motif transaksi pembayaran digital tapi malah mengarah pada motif investasi dan spekulasi. Di sinilah letak hiruk pikuknya dengan segala plus minusnya. Satu catatan dari Nakamoto (2008) dalam makalahnya  bertajuk "Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash” menegaskan bahwa usulannya melalui kriptografi dan algoritma konsensus baru akan masif mengundang sistem anyar yaitu sistem baru desentralisasi pembayaran yang bertujuan menggantikan pihak ketiga yang terlibat dalam transaksi. Artinya, sistem ini menaruh kepercayaan pada jaringan peer to peer yang sepenuhnya terdesentralisasi dan terbuka.  Pada titik ini, khalayak mulai mafhum dan bitcoin sebagai uang produk teknologi menemukan popularitasnya.

Mendompleng maraknya bitcoin ini, maka muncullah teknologi baru yang berbentuk sistem penyimpanan data digital yang terdiri dari banyak server yang disebut blockchain. Sejurus kemudian menarik perhatian industri besar di sektor keuangan misalnya, Facebook yang telah meluncurkan inisiatif cryptocurrency yaitu Libra. Mata uang virtual semacam itu telah mendapatkan popularitas yang luar biasa, karena sifatnya yang terdesentralisasi dan bebas regulasi. Berbarengan dengan hal ini juga menjadi ancaman bagi sistem perbankan tradisional yang beroperasi di bawah kendali otoritas pengatur keuangan suatu negara, seperti bank sentral. Tidak ada kejelasan tentang pemeliharaan cadangan yang cocok untuk mendukung penilaian mata uang kripto. Selain itu, peluncuran cryptocurrency baru yang berkelanjutan juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan penipuan, pencurian, dan peretasan.

Peluang selanjutnya

Pertanyaan apakah bank sentral harus menerbitkan mata uang digital atau tidak merupakan pertimbangan penting. Per konsepsi, uang mempunyai beberapa fungsi, misalnya, alat tukar, unit akun, dan penyimpan nilai. Pada aras ini, bitcoin dan cryptocurrency cenderung  berfungsi sebagai penyimpan nilai (spekulatif). Tetapi apakah instrumen ini dapat berkembang menjadi alat tukar atau unit hitung masih meragukan. Cryptocurrency pasti akan berkembang lebih jauh, tetapi sebagian besar akan berlabuh di unit moneter yang ada seperti dolar AS. Karena tak mampu mengontrol geliat pertumbuhan cryptocurrency, maka banyak bank sentral mulai mempertimbangkan peluncuran versi cryptocurrency mereka sendiri yaitu Central Bank Digital Currency (CBDC).

Motivasi hadirnya CBDC sangatlah majemuk tidak semata demi mata uang kripto baru. Namun realita ekonomi, menunjukkan adanya kecenderungan penurunan penggunaan uang tunai. Di sini berharap CBDC bisa menjadi alternatif untuk menjaga agar mata uang fiat tetap relevan dalam penggunaan di masyarakat tanpa menggunakan uang tunai. Juga beberapa negara lain, semisal stagnasi ekonomi di negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang meluncur ke bawah, pergerakan suku bunga bank sentral mendekati nilai nol atau bahkan negatif, hingga penurunan efektivitas suku bunga kebijakan karena adanya gagasan Zero Lower Bound (ZLB). Kebijakan Quantitative Easing (QE) kemudian menjadi andalan untuk bisa menjadi stimulan perekonomian ketika suku bunga berada di ZLB, tetapi ada skeptisisme seputar kebijakan ini. Tegasnya, CBDC berpotensi menurunkan ZLB dan meningkatkan efektivitas suku bunga kebijakan sebagai alternatif QE, tetapi CBDC juga bisa membuka kemungkinan alat moneter baru, yang tidak didukung oleh sistem keuangan saat ini.

Cerita lain mengabarkan bahwa People’s Bank of China (PBOC) telah mendistribusikan paket yuan digital di kota-kota percontohan dan Bank Sentral Bahama telah melangkah lebih jauh, setelah sepenuhnya mengeluarkan CBDC yang dikenal sebagai “sand dollar” atau "dolar pasir". Di sini CBDC akan menawarkan beberapa keuntungan yang jelas, dan akan beroperasi seperti kartu kredit dalam melakukan pembayaran. CBDC juga akan memudahkan pemerintah untuk mengelola transfer sosial seperti pencairan uang tunai rumah tangga yang dilakukan selama pandemi. Dan sistem mata uang digital internasional yang berfungsi dengan baik akan secara tajam mengurangi biaya transaksi lintas batas. Tetapi CBDC memiliki komplikasinya sendiri.

Satu pertanyaan penting adalah di mana rekening CBDC akan disimpan. Jika di bank sentral, bagaimana privasi transaksi terjaga? Yang lain adalah peran apa yang tersisa untuk perbankan, yang saat ini merupakan sumber kredit utama di sebagian besar ekonomi pasar. Jika bank tidak lagi menerima simpanan, bagaimana mereka akan mengeluarkan pinjaman? Agar pengaturan seperti itu berfungsi dengan baik, CBDC perlu menyeimbangkan antara anonimitas (privasi) dan kontrol sistem. Jika tidak, akan ada kekhawatiran yang terus-menerus bahwa pemerintah dapat dengan mudah mengakses informasi pemegang rekening individu dan campur tangan dalam alokasi kredit. Alternatifnya adalah bank sentral perlu mengalokasikan simpanan ke bank anggota, yang kemudian akan terus berfungsi sebagai sumber kredit. Dalam hal ini, perlu ada persyaratan cadangan fraksional yang kuat, atau masalah lain mungkin muncul. Ada juga komplikasi di tingkat internasional. Apakah bank sentral bersedia menerima pembayaran di CBDC bank sentral lain? Bisakah negara-negara mempertahankan kendali atas pasokan uang mereka begitu uang itu berbentuk digital? Bagaimanapun, sulit untuk membayangkan bahwa bank-bank sentral besar akan bersedia menanggung sistem keuangan internasional tanpa tingkat kerja sama, koordinasi, dan kontrol yang tinggi.

Pertanyaan-pertanyaan di atas dirasa sangat penting bagi Bank Indonesia. Konsekuensi yang akan hadir tentu menjadi kalkulasi mendalam. Misalkan saja, baik atau buruk, peran kunci dolar dalam sistem keuangan internasional telah memungkinkan AS untuk menjatuhkan sanksi keuangan yang cukup efektif pada negara-negara mitra dagangnya, seperti Indonesia. Namun, tentu saja, meningkatnya penggunaan sanksi oleh AS telah memberikan momentum bagi Indonesia dalam menciptakan alternatif transaksinya selain dolar. Sementara persaingan di antara The Fed, European Central Bank, PBOC, dan bank sentral lainnya mungkin untuk sementara memang terbukti sehat. Meski tidak menutup kemungkinan hal itu juga dapat mengarah pada perkembangan yang mengancam seluruh sistem keuangan internasional. Konon per teori dan empiris, selama ini tidak ada sistem moneter yang pernah berfungsi dengan sempurna. Bongkar pasang sistem moneter memang kerap terjadi. Tetapi secara umum disepakati bahwa sistem saat ini telah berkinerja baik selama krisis 20 tahun terakhir, terutama jika dibandingkan dengan sistem sebelumnya seperti standar emas. Meskipun CBDC bisa meningkatkan inklusi keuangan, sebagian besar ahli memperingatkan bahwa itu tidak boleh diresmikan sampai ada jaminan bahwa alokasi kredit, sistem pembayaran, perlindungan stabilitas keuangan, dan aspek lain dari sistem baru akan berfungsi setidaknya semulus yang telah dilakukan di bawah sistem keuangan yang sekarang.

Asa nyata kita semua bahwa CBDC akan bertindak sebagai representasi digital dari mata uang fiat suatu negara dan akan didukung oleh jumlah cadangan moneter yang sesuai seperti emas atau cadangan mata uang asing. Setiap unit CBDC harus bertindak sebagai instrumen digital yang aman dan setara dengan tagihan kertas dan dapat digunakan sebagai cara pembayaran, penyimpan nilai, dan unit akun resmi. Layaknya uang kertas berbasis kertas yang memiliki nomor seri unik, setiap unit CBDC juga dapat dibedakan untuk mencegah peniruan. Karena ini akan menjadi bagian dari jumlah uang beredar yang dikendalikan oleh bank sentral, CBDC perlu bekerja bersama bentuk lain dari uang yang diatur ketat, seperti koin, uang kertas, dan obligasi. CBDC bertujuan menghadirkan rasa nyaman adan aman bertransaksi digital seperti cryptocurrency dan sirkulasi uang yang dapat diatur dan dilindungi undang-undang melalui sistem perbankan. Dan akhirnya eksistensi CBDC, semuanya berpulang pada peran bank sentral atau otoritas moneter suatu negara.

 

*) Penulis adalah dosen dan peneliti di Program Studi Ekonomi Pembangunan dan juga anggota Kelompok Riset Behavioral Economics on Monetary, Financial, and Development Policy (Benefitly)– Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember Editor : Safitri
#Jember #Universitas Terbuka