
Makan Siang Gratis, Guru Menangis
Oleh: Nadia Yasmin Dini
SAYA yakin semua orang akan setuju ketika saya mengatakan bahwa pemilu tahun ini merupakan pemilu paling kontroversial yang pernah terjadi dalam sejarah pemilihan di Indonesia.
Berpikir untuk hidup tenang dan damai setelah pemilu berakhir, seakan menjadi hal yang paling mustahil terjadi sekarang ini.
Mengingat sampai detik ini, kita masih dihadapkan dengan berbagai macam bumbu kontroversi baru.
Seperti contohnya, baru-baru ini rakyat Indonesia kembali dihebohkan dengan sebuah berita yang mengatakan jika program makan siang gratis diduga akan menggunakan dana BOS.
Hal itu tentu telah menimbulkan kegaduhan di dalam masyarakat karena dari berbagai macam kalangan masyarakat mencoba untuk mengemukakan perspektif mereka dalam menyikapi permasalahan tersebut.
Berbicara soal makan siang gratis, program ini merupakan program andalan dari paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, untuk mengatasi masalah stunting di Indonesia.
Sebenarnya, program ini sudah memicu pro dan kontra dari sejak awal program tersebut dikenalkan kepada masyarakat. Mereka yang berada pada tim kontra menilai jika program ini sama sekali tidak efektif dan tidak tepat sasaran.
Mengingat, bahwa permasalahan stunting hanya dapat dicegah ketika seorang anak masih dalam kandungan atau pada seribu hari pertama kehidupan. Hal tersebut juga turut disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso.
"Kalau sudah stunting, mesti dibawa ke rumah sakit, diatasi dokter anak, yang penting itu. Mencegah stunting itu saya sepakat semalam dengan pernyataan (yang mengatakan) mulainya itu dari sejak kandungan, lalu mulai dari dia 1.000 hari pertama," katanya saat ditemui di Jakarta, Senin.
"Pemberian makan anak sekolah ya nanti nggak terkait dengan stunting, tapi untuk yang 1.000 hari pertama, saya kira itu yang sangat penting," tambahnya.
Dari sini dapat terlihat jelas, bahwa pemberian makan siang gratis terhadap anak-anak sekolah tidaklah efektif dan tepat sasaran.
Lalu, yang menjadi pertanyaan saya, jika tidak efektif, untuk apa dilanjutkan? Karena sudah jelas hanya akan menimbulkan kesia-siaan. Lebih-lebih, program ini diduga akan menggunakan dana BOS.
Dana BOS merupakan dana operasional sekolah yang selama bertahun-tahun telah digunakan untuk membantu membiayai segala kebutuhan sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.
Termasuk tetek bengek seperti, kebutuhan untuk belajar dan mengajar. Tak hanya itu, selama ini dana BOS juga ikut digunakan untuk membayar gaji para guru honorer di Indonesia.
Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan jika Dana Bos saat erat kaitannya dengan kemajuan pendidikan serta kesejahteraan para guru di Indonesia.
Maka tak heran jika para guru yang tergabung dalam Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) secara tegas menolak program makan siang gratis tersebut.
Apalagi, anggaran pendidikan yang telah dialokasikan selama ini dinilai masih belum mampu menyejahterakan para guru, dan memenuhi segala kebutuhan sekolah.
Jika setelah ini harus ditambah lagi dengan beban makan siang gratis, hal itu tentu akan memberikan dampak yang semakin buruk terhadap kesejahteraan guru di Indonesia.
Hal tersebut juga turut disampaikan oleh Sri Lestari selalu dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.
“Jika dana BOS dipotong untuk program makan siang gratis justu mengakibatkan gaji guru honorer yang saat ini masih tidak layak menjadi semakin memprihatinkan,” katanya, pada Jumat (8/3/2024).
Seperti yang kita tahu, guru adalah orang yang paling berjasa dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul dan cerdas di masa depan. Meski begitu, gaji yang didapatkan oleh seorang guru selama ini tidak sebanding dengan semua ilmu yang sudah mereka salurkan kepada para peserta didiknya.
Bahkan, gaji seorang guru di Indonesia masih terbilang cukup rendah dibandingkan dengan negara lain. Belum lagi, mereka harus menghadapi kenyataan jika kadangkala gaji mereka tidak dapat mencukupi segala kebutuhan mereka sehari-hari .
Mulai dari biaya listrik, makan, pendidikan anak mereka, dan lain sebagainya. Karena terkadang, biaya pengeluaran mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan nominal gaji yang mereka dapatkan.
Jika program ini tetap direalisasikan, lalu bagaimana dengan kesejahteraan para guru nantinya? Karena sudah jelas, program makan siang gratis yang menggunakan Dana Bos dapat mengancam gaji para guru nantinya.
Gaji seorang guru selama ini sudah rendah, lalu sekarang mereka harus kembali ditampar oleh kenyataan pahit bahwa dana BOS juga akan digunakan untuk program makan siang gratis.
Secara tidak langsung, Makan siang gratis sama saja telah memakan gaji para guru, merenggut kesejahteraan guru, serta mengambil hak para guru.
Sebelum merealisasikan program ini, seharusnya mereka juga memikirkan banyak pihak. Apakah program ini dapat berdampak pada pihak lain atau tidak.
Jika sekiranya berdampak, akan lebih baik jika program ini tidak jadi direalisasikan.
Apalagi, Dari hasil kajian International Students Assessment atau Pisa pada Desember 2023, Indonesia tidak termasuk ke dalam negara yang anak-anaknya mengalami kekurangan makan.
Atau paling tidak, jika memang nantinya pemerintah tetap akan menggunakan instrumen dana BOS untuk program makan siang gratis, maka harus terdapat tambahan anggaran dan pelaksanaannya dilakukan melalui BOS tambahan.
*) Penulis merupakan mahasiswa Universitas Airlangga.



